JUMAT pagi (16/5) Aula B Gedung Karol Wojtyla, gedung yang diresmikan oleh Santo Paus Yohanes Paulus II, telah rapi diisi deretan kursi. Sebuah meja podium telah disiapkan dekat sudut yang menyimpan kursi yang diduduki Santo Paus Yohanes Paulus II sewaktu berkunjung ke salah satu universitas swasta terbaik di Indonesia tersebut.

Hari Jumat pagi ini, para pimpinan dan staf Unika Atma Jaya Jakarta terlihat sumringah karena telah menuntaskan renovasi sejumlah fasilitas penunjang vitalnya. Perpustakaan mentereng tiga lantai dengan konsep yang sejalan dengan generasi Y berciri fun and chic dan Gedung Yustinus 13 lantai dengan konsep perkantoran modern di Kampus Semanggi. Ditambah lagi dengan auditorium megah Klara Asisi dan Museum Anatomi yang informatif dan inovatif di Kampus Pluit.

Sebelum acara umum, diadakan misa syukur di Kapel St. Albertus Magnus yang dipimpin oleh Bapak Uskup Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo dengan tiga pastor konselebran.

Khotbahnya singkat ya
Bukan Mgr. Suharyo namanya, kalau tidak membuat homili yang menarik dengan isi yang dalam tapi diutarakan sederhana, diselingi sentilan, dan mengundang senyum simpul.

Uskup Agung Jakarta yang sekaligus Administrator Apostolik Keuskupan Bandung dan Ketua Presidium KWI ini memulai homilinya dengan info yang membuat Romo Hardi Jantan Dermawan Pr, Pastor Unika Atma Jaya, tersipu. “Saya dipesan Romo Hardi agar bicara singkat saja,” demikian Mgr. Suharyo membuka homilinya. “Tapi semakin saya pikirkan, malah makin banyak gagasan yang muncul,” senyum beliau ditanggapi tawa umat.

Kalimat keduanya juga membuat umat tersenyum simpul. “Bacaan Injil hari ini biasanya diberikan pada waktu misa requiem. Ini merupakan tantangan besar bagi saya untuk tidak mengulasnya dari sudut tersebut,” imbuh sang ahli kitab suci lulusan Universitas Urbaniana, Roma, Italia (1981).

Atma Jaya misa perpustakaan 3

Misa peresmian fasilitas baru di Unika Atma Jaya Jakarta bersama Bapak Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo, Jakarta, 16 Mei 2014. (Sesawi.Net/Royani Lim)

Kepenuhan waktu versus kiamat
“Perguruan tinggi, menurut dekrit, memiliki tugas menjadi sarana mencapai tujuan yang lebih tinggi yaitu meluhurkan martabat manusia. Ciri-ciri martabat manusia adalah kebebasan, tanggungjawab, dan keterbukaan kepada Yang Transenden. Nah, ciri terakhir ini yang bisa kita kaitan dengan Injil tersebut,” urai Mgr. Suharyo.

“Yesus mengatakan ‘Aku akan datang kembali’ merupakan hal yang transenden. Istilah yang bisa kita gunakan antara lain kepenuhan waktu, akhir zaman, atau masuk ke rumah Bapa. Istilah ‘kiamat’ yang kadang diucapkan orang berkonotasi tidak baik – mengisyaratkan semua hancur-hancuran, tidak ada lagi yang tersisa. Padahal akhir dari kepenuhan waktu merupakan tujuan dari ziarah panjang manusia. Seluruh perjuangan kita dimahkotai di akhir tersebut,” tambahnya.

Menyediakan tempat
“Ada cuplikan lain yang dikatakan oleh Yesus: ‘Aku pergi untuk menyediakan tempat’. Apa maksudnya tempat?” lanjut Mgr. Suharyo.

“Analogi sederhananya adalah suatu perjalanan jauh, tentu memerlukan langkah demi langkah; ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk mencapai kepenuhan waktu. Universitas Katolik Atma Jaya Indonesia dipanggil untuk menunjukkan jalan ke Yang Transenden. Tugas kita menyiapkan tempat yang banyak tersebut,” pesan Pelindung dan Ketua Pembina Yayasan Atma Jaya ini.

Anak membimbing pastor

Di akhir khotbah ‘yang diamanatkan singkat’ tersebut, Mgr. Suharyo menceritakan kisah seorang pastor yang baru bertugas di tempat baru.

Atma Jaya misa perpustakaan 5

Mahasiswa-mahasiswi Unika Atma Jaya Jakarta: selain berkegiatan belajar secara akademik, para mahasiswa-mahasiswi ini juga belajar menjadi umat katolik yang baik. Antara lain dengan menunjukkan komitmennya sebagai umat beriman dengan menghadiri perayaan ekaristi saat peresmian beberapa fasilitas kampus bersama Bapak Uskup Agung Jakarta. (Sesawi.Net/Royani Lim)

Suatu hari pastor tersebut ada keperluan ke kantor pos. Maka berjalanlah dia sambil menanyakan arah kepada seorang anak yang ditemuinya di jalan. Anak tersebut dengan sopan menunjukkan arah mana menuju kantor pos. “Sebelah sana Pastor, belok ke kanan, lurus, lalu belok kiri, akan terlihat kantor posnya” demikian petunjuk anak tersebut.

Pastor tersebut heran bagaimana anak tersebut mengenali dia sebagai pastor. “Kok tahu bahwa saya pastor?” tanyanya sambil tersenyum kepada anak tersebut.

“Oh, kadang-kadang saya ikut misa, Pastor,” jawab anak itu.

Pastor itu langsung mengambil kesempatan mewartakan Kabar Baik kepada anak tersebut. “Datanglah hari minggu ini, saya akan tunjukkan jalan ke Tuhan,” senyumnya ramah kepada anak tersebut. Tetapi anak itu menggeleng, menolak untuk ikut misa. Pastor mencoba membujuk lagi tetapi anak itu tetap tak antusias.

Atma Jaya misa perpustakaan 4

Misa konselebrasi: Bapak Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo berkenan memimpin perayaan ekaristi bersama tiga imam konselebran di Kampus Unika Atma Jaya Jakarta, Jumat, 16 Mei 2014. (Sesawi.Net/Royani Lim)

Akhirnya sang pastor yang heran dengan penolakan anak tersebut bertanya apa alasan anak tersebut tidak tertarik akan tawarannya. Anak itu menjawab, “Tak mau, kantor pos saja pastor tak tahu jalannya, apalagi jalan ke Tuhan.”

“Moga-moga Atma Jaya tidak seperti pastor itu. Sehingga mampu menunjukkan kepada para mahasiswanya kepada Yang Transenden, Yang Ilahi,” demikian pesan penutup Mgr. Suharyo.

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.