Undangan Kasih Allah


SAAT kita mengadakan pesta, tentunya kita mengharapkan para undangan untuk datang memeriahkan pesta kita. Alangkah kecewa dan sedih hati kita, ketika orang-orang yang telah kita pilih, menolak undangan kita dengan berbagai alasan.


Sebagai umat beriman yang telah menerima keselamatan dari Allah, Ia mengharapkan kita bersedia menerima undangan kasihNya, dengan hidup sesuai dengan kehendakNya. Namun banyak orang yang menyia-nyiakan keselamatan yang telah di anugerahkanNya. Mereka lebih mengutamakan kepentingan pribadi, materi, karier dan popularitas. Sehingga dengan berbagai macam dalih, mereka mengabaikan kehidupan berdoa, malas untuk menghadiri perjamuan Ekaristi maupun kegiatan rohani lainnya, enggan untuk berkomunitas dan terlibat dalam pelayanan. Allah menjadi urutan terakhir atau bahkan tidak tercantum di dalam daftar prioritas hidup mereka. Betapa Allah sungguh berduka melihat tingkah laku umat yang dikasihiNya.


Kita harus menyadari bahwa dengan menolak undangan Allah, berarti kita kehilangan kesempatan untuk dapat menikmati perjamuanNya kelak. Mari berjuang untuk memperbaiki hidup kita; jangan selalu mengutarakan berbagai macam dalih dan alasan untuk membenarkan tindakan kita. Namun, segeralah tanggapi undanganNya dengan menyatakan “YA”. Dengan penyertaan dan bimbinganNya, niscaya kita akan dimampukan untuk tetap setia dalam menjalani pilihan kita.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Insinyur elektro alumnus ITB dan umat Paroki St. Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta Utara; bergiat ‘merangkai’ kata-kata renungan yang menjadi ‘kata hati’ untuk satu hari (thoughts of the day); Anggota Komunitas Meditasi Katolik Ancilla Domini St. Yakobus.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply