Umat Katolik diminta manfaatkan medsos guna membangun bangsa bukan untuk bertikai

Komsos3


“Pergunakan waktu sebaik-baiknya dalam memanfaatkan media sosial untuk bergandengan-tangan menjalin kerjasama membangun bangsa, bukan sebagai instrumen untuk bertikai, saling menjelek-jelekkan, dan menyebar fitnah.”


Pernyataan itu merupakan rekomendasi pertama dari 12 poin rekomendasi seminar nasional yang merupakan puncak Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) di Palangkaraya yang dilakukan oleh Komisi Komsos KWI dari tanggal 7 hingga 13 Mei 2018 dengan tema “Kebenaran akan Memerdekakan: Gereja Katolik Menolak Hoax, Fake News, Hate Speech.”


Seminar 12 Mei 2018 itu menghadirkan pembicara, antara lain Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Rudiantara, Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI Eusabius Binsasi, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Trias Kuncahyono, dan Guru Besar Sejarah Gereja Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta Prof Eddy Kristiyanto juga mengajak umat untuk “menganalisa baik-baik pesan dan berita yang mengandung nuansa perpecahan dan adu domba.”


Alasannya, menurut seminar dengan tuan rumah Komisi Komsos Keuskupan Palangka Raya itu, “begitu banyaknya bertaburan hoax, fake news, dan hate speech di internet, yang bertujuan merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa, bermasyarakat, dan bernegara.”


Umat juga diajak “menghapus” dan “‘tidak mengirim” pesan dan berita yang berpotensi memberikan dampak negatif di masyarakat, serta mengajari teman, sahabat, keluarga, komunitas, dan masyarakat di sekitar “agar mampu memilah dan memilih pesan maupun berita yang ada di dunia maya, melalui berbagai pendekatan edukasi dan sosialisasi yang berbasis suara hati.”


Selain menegaskan bahwa nilai-nilai dasar kemanusiaan, kegembiraan, suka cita, dan pesan cinta kasih adalah konten terbaik yang layak disebarkan melalui media sosial demi membentuk karakter bangsa Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, cerdas, dan berakhlak mulia, seminar itu meminta umat untuk “menggali sebanyak mungkin data sahih, valid, dan reliable untuk men-check dan re-check berbagai bentuk pesan dan berita yang didapatkan melalui internet, agar tidak terjerumus dalam jebakan persepsi dan asumsi keliru.”


Keadilan dan kesaksian nyata dari pengalaman hidup, tegas seminar itu, merupakan kabar atau berita yang diminati komunitas modern, “sehingga pengabar sukacita tidak cukup sekedar menulis pesan dalam media sosial tanpa menjalani nilai-nilai kemanusiaan yang disampaikannya.”


Oleh karena itu, seminar meminta agar pesan atau berita yang hendak disampaikan ke publik via media sosial “harus direnungkan dan dipertimbangkan dahulu secara sungguh-sungguh, karena konten negatif dapat memberikan dampak dahsyat yang merugikan umat manusia.” Pegangan etika dalam berinteraksi di media sosial yang harus diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap pengguna internet, menurut seminar itu, adalah “Responsibility-Empathy-Authenticity-Discernment-Integrity (READY).”


Ditegaskan bahwa anti-sosial merupakan sikap negatif yang dapat menimpa setiap orang yang tidak bijak dalam memanfaatkan teknologi. Untuk menghindari hal itu, umat diminta menjaga keseimbangan dan porsi yang tepat dalam bermedia sosial.” Dan karena yang tertulis di internet akan sangat sulit dihapus dan dihilangkan, “pastikan penyampaian konten yang benar, positif, jelas, dan terang menjadi prinsip yang dipegang dalam berkomunikasi di media sosial.”


Akses terhadap medsos secara baik, benar, berkualitas, dan bijaksana, tegas seminar itu, “akan memberi kecerahan dalam kehidupan individu, komunitas, dan masyarakat di sekitarnya, sebaliknya, pemanfaatan keliru justru akan merugikan pengguna untuk jangka pendek, menengah,dan panjang.”


PKSN di Palangkaraya, yang juga diisi dengan pelatihan audio visual, pelatihan menulis kreatif, literasi media, debat, lomba menggambar dan mewarnai, malam pagelaran budaya, serta rekoleksi, ditutup dengan Misa Hari Komunikasi se-Dunia 2018.


Menurut informasi yang diterima PEN@ Katolik dari Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI Pastor Kamilus Pantus Pr, Komisi Komsos KWI yang dibantu Tim Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta telah memproduksi film pendek berjudul “Kebenaran Akan Memerdekakan Kamu” yang bisa dilihat di https://youtu.be/-N7Z4yzjbHw yang diharapkan menjadi bahan refleksi bagi siapa saja khususnya keuskupan-keuskupan di seluruh Indonesia dalam menggaungkan pesan Paus.


Demi mendukung minat para penulis dan produser film, lanjut imam itu, Komisi Komsos KWI juga mengadakan Festival Film Pendek dan Lomba Penulisan Esai serta membuat buku pedoman dan poster perayaan hari komunikasi serta katekese pendalaman Pesan Paus untuk Hari Komunikasi se-Dunia. (paul c pati)


Semua foto dalam tulisan ini diambil dari halaman facebook Komsos KWI


Komsos2Komsos1Komsos 11Komsos9KomsosKomsos4Komsos5Komsos8

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: