Ulasan Injil Minggu Biasa XX, Menghidupi Darah dan Daging Anak Manusia (3)

KEADAAN para pendengar di sinagoga waktu itu tidak sama dengan umat yang datang ke gereja kini. Bagi mereka dulu, “makan daging dan darahnya”, yakni bersatu dengan kehidupan Yesus demi keselamatan, menimbulkan persoalan besar. Bagi pendengar di gereja, kehidupan Yesus yang dikurbankan bagi penebusan dan keselamatan orang banyak sudah menjadi pokok kepercayaan. Bagi orang dulu perspektifnya ialah berusaha mengerti dan percaya Bagi kita, masalahnya bukan lagi agar kita mau menerima iman itu, melainkan bagaimana kita dapat memahami hal-hal dalam terang iman.

Injil yang diperdengarkan hari ini sebenarnya tumbuh dari upaya komunitas awal, komunitas Yohanes, untuk menjelaskan makna perjamuan ekaristi yang sudah biasa mereka rayakan. Pengajaran Yesus mengenai dirinya sebagai makanan yang diberikan dari surga yang dapat membawa mereka sampai ke hidup abadi dalam Yoh 6:25-50 diterapkan pada perayaan ekaristi.

Pertanyaan dasar ialah apa arti ekaristi ini dan bagaimana “kita”, yakni orang-orang dalam komunitas Yohanes tadi boleh merasa lebih beruntung dari nenek moyang mereka. Maklum, komunitas ini berasal dari kalangan orang Yahudi yang saleh yang sadar akan nilai tradisi keagamaan leluhur mereka. Tetapi kini mereka juga berusaha menghayati ajaran Yesus yang membuat mereka makin dekat dengan Yang Maha Kuasa yang tak terjangkau itu.

Ibadat ekaristi menjadi tindakan sakramental bersatu dengan Yesus. Tindakan ini mengungkapkan tekad mereka untuk saling menunjang. Mereka merasa berpikir sejalan, sepengharapan. Ada komunitas. Bagi mereka, kehidupan yang dipelihara dengan ingatan bersama akan Yesus tadi ialah kehidupan yang nanti akan berlanjut tanpa akhir. Mereka sudah mulai menemukan kehadiran ilahi yang tak hanya dibataskan pada perjalanan ke Tanah Terjanji seperti nenek moyang mereka dulu.

Juga bagi kita orang zaman ini, Yang Maha Kuasa masih memberi makanan dan minuman agar kita dapat menempuh perjalanan hidup. Perjalanan ini penuh unsur yang tak terduga-duga, perjalanan ini penuh harapan tapi yang juga yang sering harus dititi dengan rasa sakit. Di beberapa tempat di negeri kita sedang mengalami kesusahan akibat bencana alam dan malapetaka sosial.

Kepercayaan akan kebesaran Yang Maha Kuasa akan membuat orang makin tabah. Juga dalam keadaan sulit kita masih “diberi makan dan minum dari langit”. Akan diperoleh makanan yang sama, minuman yang sama, kehidupan yang sama yang telah diperoleh Yesus dari atas sana.

Bukan hanya bagi kepentingan perorangan saja, melainkan dalam ikhtiar bersama untuk memperbaiki keadaan, dalam mengatasi kesulitan, dalam saling menguatkan. Dan solidaritas sakramental ini dapat menjadi kekuatan untuk berjalan terus sampai ke sana, ke tempat yang telah dicapai Yesus sendiri!

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: