Ujian Dikala Sendirian

Ayat bacaan: Kejadian 39:9
===========================
“..Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?”

sendirian

“Saya tidak bisa kemana-mana biarpun punya beberapa orang pegawai…” kata seorang teman menampik ajakan reuni teman-teman SMA beberapa waktu lalu. Apa yang menjadi masalahnya? Ia berkata bahwa sulit mempercayai kinerja dan kejujuran pegawainya tanpa ada yang mengawasi. Jika ia ada disana, semua berjalan dengan baik dan lancar. Tetapi ketika ia meninggalkan tempat, maka ada saja masalah yang terjadi disana. Ia bercerita bahwa pernah ada barang yang hilang, jumlah uang yang kurang, atau konsumen yang protes karena tidak mendapat pelayanan yang sigap. Ini mungkin menjadi keluhan banyak orang yang membuka usaha hari ini. Tidak sulit untuk mencari orang yang pintar, tetapi alangkah sulitnya mencari orang yang jujur. Ketika diawasi mereka bekerja baik, tetapi ketika tidak ada yang melihat maka mereka pun mulai memanfaatkan kesempatan untuk berbuat hal-hal yang buruk. Lembaga-lembaga pengawas terus berdiri di mana-mana, tapi lembaga-lembaga seperti ini pun tidak 100% bersih. Lembaga pengawas diawasi oleh lembaga pengawas lain, dan begitu seterusnya, itupun tidak serta merta membuat semuanya berjalan seperti apa yang diharapkan. Hingga batas tertentu angka korupsi mungkin bisa ditekan,  tetapi layaknya tikus, mereka akan selalu mampu mencari lubang atau celah baru. Begitu menemukan jalan baru, atau ketika tidak diawasi, maka penipuan akan kembali terjadi.

Seperti itulah gambaran dunia kerja hari ini. Orang sepertinya lebih takut terhadap manusia ketimbang Tuhan. Mereka lebih takut hukuman di dunia ketimbang hukuman yang kekal kelak menimpa mereka yang berlaku tidak jujur. Mereka akan tertawa bangga apabila berhasil lolos dari pengamatan manusia dan lupa bahwa Tuhan akan selalu melihat segalanya dengan jelas, tak peduli serapi apapun mereka menyembunyikannya. Di depan banyak orang terlihat rohani, tetapi begitu tidak ada yang melihat berbagai penyimpangan pun dilakukan. Karena itulah saya menganggap bahwa indikator sebenarnya dari ketaatan kita justru akan terlihat ketika kita sendirian, tidak ada yang mengamati atau melihat.

Kita bisa belajar dari Yusuf akan hal ini. Yusuf adalah salah satu tokoh dalam Alkitab yang lulus ujian ketaatan dengan nilai yang sangat baik. Mari kita lihat apa yang terjadi ketika Yusuf diangkat majikannya Potifar untuk menjadi pelayan pribadi sehingga Yusuf leluasa keluar masuk rumah majikannya dengan mudah. Kepada Yusuf juga diberikan kekuasaan atas rumah dan harta benda miliknya (Kejadian 39:4). Artinya Yusuf dianggap mampu dipercaya lebih dari para bawahan lainnya. Pada saat itu datanglah sebuah ujian. Istri Potifar menaruh minat terhadap Yusuf atas segala kualitas dirinya, ditambah lagi bahwa Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya. (ay 6). Istri Potifar pun kemudian menggoda Yusuf. “Selang beberapa waktu isteri tuannya memandang Yusuf dengan berahi, lalu katanya: “Marilah tidur dengan aku.” (ay 7). Perhatikan pada saat itu Yusuf sedang sendirian bersama istri tuannya di rumah. Tidak ada yang melihat bukan? Artinya ia bisa dengan sangat mudah menuruti keinginan ibu majikannya. Kesempatan sudah terbuka lebar. Tetapi lihat bagaimana Yusuf dengan tegas menolak. Bahkan ketika wanita itu berulang kali merayu, Yusuf tidak bergeming dan memilih untuk menjauh darinya. (ay 13). Yusuf menolak kenikmatan yang hadir di depan mata. Ia memilih untuk tetap taat, meski konsekuensinya ia difitnah oleh istri Potifar yang merasa sakit hati dan karenanya harus mendekam di penjara untuk waktu yang cukup lama.

Mengapa Yusuf memutuskan untuk bersikap tegas dalam ketaatan seperti itu? Ada dua alasan. Pertama, Yusuf mau memegang teguh kepercayaan yang telah diberikan tuannya Potifar terhadap dirinya. Kedua, dan yang paling penting, Yusuf tahu bahwa biar bagaimanapun Tuhan akan melihat apapun yang dilakukannya. Meski ketika ia sendirian, meski ketika tidak ada satupun manusia yang melihat, Yusuf tetap teguh memegang ketaatannya kepada Tuhan. Ia berkata: “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (ay 9).

Berbagai tawaran yang menyesatkan biasanya dikemas dalam kenikmatan atau kesenangan yang sepintas terlihat menggiurkan. Ada banyak orang yang menjadi mudah tergiur ketika mereka sedang sendirian tanpa ada yang mengamati. Yusuf berhadapan dengan godaan yang bagi kedagingannya mungkin akan terasa nikmat, tetapi Yusuf memutuskan untuk tetap taat meski kesempatan saat itu terbuka lebar. Jika kita berada pada posisi Yusuf, apa yang akan kita lakukan? Pada saat kita bekerja dan tidak ada atasan yang mengawasi, apakah kita akan tetap melakukan yang terbaik seperti halnya ketika mereka ada disana?

Godaan akan selalu datang dalam hidup kita. Bahkan intensitasnya biasanya akan meningkat pada saat kita sedang sendirian. Tapi kita harus ingat bahwa biar bagaimanapun Tuhan tetap mengetahui segala sesuatu yang kita lakukan. Berbagai bentuk penipuan, kejahatan dan dosa-dosa walaupun kita sembunyikan serapi apapun akan diketahui Tuhan. Orang-orang yang jahat akan berpikir bahwa mereka bisa menyembunyikannya dari Tuhan. Mereka akan sangat sibuk mencari cara dan menyiapkan dalih dengan sejuta alasan untuk menutupinya. Pemazmur mengatakan hal tersebut seperti ini: “Ia berkata dalam hatinya: “Allah melupakannya; Ia menyembunyikan wajah-Nya, dan tidak akan melihatnya untuk seterusnya.” (Mazmur 10:11). Benarkah demikian? Tentu tidak. Lihatlah apa kata Tuhan dalam kitab Yesaya. “Celakalah orang yang menyembunyikan dalam-dalam rancangannya terhadap TUHAN, yang pekerjaan-pekerjaannya terjadi dalam gelap sambil berkata: “Siapakah yang melihat kita dan siapakah yang mengenal kita?” Betapa kamu memutarbalikkan segala sesuatu! Apakah tanah liat dapat dianggap sama seperti tukang periuk, sehingga apa yang dibuat dapat berkata tentang yang membuatnya: “Bukan dia yang membuat aku”; dan apa yang dibentuk berkata tentang yang membentuknya: “Ia tidak tahu apa-apa”? (Yesaya 29:15-16). Ayat ini secara jelas menyatakan bahwa Tuhan akan mengetahui segala sesuatu yang kita lakukan, Meski kita pintar memutarbalikkan segala sesuatu hingga manusia bisa dikelabuhi, itu tidak akan pernah berhasil ketika kita berhadapan dengan Sang Pencipta dan Pemilik kita. 

Tuhan mengetahui segalanya, bahkan yang tersembunyi paling dalam dan rapat sekalipun. Firman Tuhan berkata “Sebab Aku mengamat-amati segala tingkah langkah mereka; semuanya itu tidak tersembunyi dari pandangan-Ku, dan kesalahan merekapun tidak terlindung di depan mata-Ku.” (Yeremia 16:17). Tidak peduli sepintar apapun kita menutupi kejahatan yang kita lakukan, Tuhan akan tetap melihat seluruhnya, “Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.” (Markus 4:22). Jika kita berpikir bahwa itu hanyalah masalah bagi orang-orang diluar Kristus saja, itu sangatlah keliru. Kenyataannya ada banyak pula di antara orang percaya yang terjatuh dalam jerat dosa ketika mereka memiliki kesempatan untuk melakukan kecurangan dan berbagai kejahatan lainnya, terutama ketika mereka merasa aman atas perbuatan buruk mereka. Dan hal ini pun sudah terjadi sejak dahulu kala. Pikiran bahwa Tuhan tidak melihat kejahatan manusia pun bisa menimpa tua-tua Israel, orang-orang yang seharusnya menjadi teladan. (Yehezkiel 8:12).

Ada atau tidak manusia yang melihat, ingatlah bahwa Tuhan tetap sanggup melihat semuanya itu secara jelas. Yusuf mengerti betul akan hal itu dan ia tidak terjebak untuk melakukan hal yang mengecewakan Tuhan meski kesempatan untuk itu ada. Kualitas diri kita seringkali bukan diukur ketika kita sedang berada di tengah-tengah orang lain, tetapi justru akan terukur jelas apabila kita sedang sendirian. Sudahkah kita menjadi orang-orang yang bisa dipercaya sepenuhnya, baik oleh sesama kita maupun oleh Tuhan? Ingatlah apa yang dilakukan Yusuf pada saat anda tengah sendirian dan berhadapan dengan kesempatan-kesempatan untuk memperoleh sesuatu yang bukan hak anda dengan cara-cara yang salah. Jangan termakan godaan apapun dan teruslah berpegang teguh pada Tuhan. Mari kita uji karakter dan sikap hidup kita hari ini, apakah kita sudah bisa dipercaya atau belum. Jika belum, segeralah berhenti melakukannya, karena kita tidak akan pernah bisa mengelabuhi Tuhan biar bagaimanapun. Apabila godaan itu datang, katakanlah seperti apa yang dikatakan oleh Yusuf: “..Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?”

Pegang terus kejujuran dan ketaatan meski tidak ada orang yang memperhatikan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply