Uang Bukan Segalanya

Ayat bacaan: 1 Timotius 6:17
========================
“Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.”

uang bukan segalanya

Ada pepatah yang mengatakan “money can’t buy happiness”. Apakah anda termasuk yang setuju dengan kalimat ini atau tidak? Seorang teman saya tidak sependapat. Ia berkata orang yang mengatakan bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan hanyalah orang miskin yang berdalih. Mungkin untuk saat-saat tertentu singkat uang memang bisa menjanjikan kebahagiaan, tapi itu hanya berlaku dalam waktu singkat. Pada akhirnya sekaya apapun kita akan sampai pada kesimpulan bahwa uang bukanlah segalanya. Kalau tidak hati-hati malah kekayaan bisa menimbulkan banyak masalah dalam hidup kita. Terjerumus masuk ke dalam berbagai dosa adalah salah satu dampak negatif dari ketidak hati-hatian kita terhadap hal-hal yang bisa diperoleh lewat uang. Bukannya semakin dekat, tapi kita malah bisa semakin jauh dari Tuhan justru ketika kita diberkati dengan melimpah. Ada banyak orang kaya yang saya kenal malah gelisah karena takut hartanya lenyap. Orang tua yang terlalu memanjakan anaknya dalam kemewahan pun seringkali menyesal pada akhirnya ketika anaknya tumbuh dengan kepribadian yang kurang baik. Ada banyak contoh dimana anak-anak yang terjerumus obat-obatan terlarang biasanya berasal dari keluarga mampu yang tidak mendapat kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Orang tua sering berpikir bahwa jika mereka bisa melimpahi anaknya dengan uang itu sudah cukup. Mereka tidak lagi menganggap penting untuk meluangkan waktu mendidik anak-anaknya. Dan hal seperti itu kerap kali menjadi awal dari sebuah kehancuran.

Mari kita lihat sosok Salomo, orang yang dikatakan terkaya yang pernah hidup di muka bumi ini. Begitu kayanya, bahkan dikatakan bahwa kekayaannya belum pernah dinikmati raja-raja sebelumnya, dan tidak akan pernah pula sanggup ditandingi oleh siapapun sampai kapanpun. (2 Tawarikh 1:12). Dengan kekayaan berlimpah seperti ini, jika benar uang mampu membeli segalanya, maka Salomo seharusnya menjadi orang paling bahagia yang pernah hidup di muka bumi ini. Tapi faktanya sama sekali tidak. Salomo justru banyak mengingatkan kita bahwa uang bukanlah hal terpenting dalam hidup kita. Dalam banyak ayat yang mencatat tulisan-tulisan hikmat Salomo kita bisa mendapatkan begitu banyak ayat yang menyinggung hal ini. Atau lihatlah kitab Pengkotbah yang menunjukkan begitu banyak kesia-siaan terhadap segala sesuatu, termasuk harta kekayaan. Tidakkah ironis ketika kitab ini justru datang dari orang terkaya yang pernah hidup di muka bumi ini?

Dalam Amsal, Pengkotbah dan beberapa ayat lainnya diluar kedua kitab itu kita bisa mendapatkan beberapa contoh yang menunjukkan bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dibeli dengan uang, antara lain:
Hikmat: “Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak.” (Amsal 16:16)
Ketenangan: “Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan.” (Amsal 15:16), “Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin.” (Pengkotbah 4:6)
Ketentraman: “Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman, dari pada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan.” (Amsal 17:1)
Tidur nyenyak: “Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur.” (Pengkotbah 5:11)
Damai sejahtera: “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.” (Pengkotbah 5:10)
Hidup benar: “Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran, dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan.” (Amsal 16:8), “Lebih baik orang miskin yang bersih kelakuannya dari pada orang yang berliku-liku jalannya, sekalipun ia kaya.” (28:6)
Kesehatan: sebuah kisah perempuan yang menderita pendarahan selama 12 tahun menggambarkan hal itu. “Di antaranya ada pula seorang wanita yang sudah dua belas tahun sakit pendarahan yang berhubungan dengan haidnya. Ia telah menghabiskan segala miliknya untuk berobat pada dokter, tetapi tidak ada yang dapat menyembuhkannya.” (Lukas 8:43 BIS)
Karunia Allah: “Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang.”  (ay 20).
Keselamatan: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12)

Kita tentu sudah sering melihat bukti nyata dari poin-poin di atas baik dari pengalaman orang lain bahkan mungkin sudah kita alami sendiri. Ada banyak hal yang memang bisa kita beli dengan uang, tetapi ada banyak pula hal yang tidak akan mampu kita beli tidak peduli berapa banyak uang yang kita miliki sekalipun. Jelaslah uang bukan segalanya. Jika contoh-contoh di atas tidak bisa kita peroleh lewat harta, bagaimana mungkin kita bisa bahagia? Maka pepatah yang mengatakan “money can’t buy happiness” pun benar adanya.

Daud bermazmur: “Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti.” (Mazmur 39:7). Alangkah sayangnya apabila kita terus mengejar untuk menimbun harta sebanyak mungkin tetapi pada akhirnya semua itu sia-sia. Uang memang penting bagi kehidupan kita, saya setuju itu, tetapi bukanlah yang terpenting. Uang seharusnya menjadi hamba bagi kita, bukan sebaliknya kita menjadi hamba uang. Kita perlu bekerja mencari uang untuk mencukupi kebutuhan kita dan keluarga, juga untuk memberkati orang lain, tetapi bukan untuk ditimbun dan mengira bahwa uang mampu menjadi jawaban atas segalanya. Dalam pesannya kepada Timotius, Paulus tidak meminta Timotius untuk menyuruh orang-orang kaya agar meninggalkan harta mereka, tetapi ia meminta Timotius untuk mengingatkan mereka agar membangun sikap yang benar terhadap kekayaan yang mereka miliki. “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.” (1 Timotius 6:17). Selanjutnya ia berpesan “Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.” (1 Timotius 6:18-19). Ketika kita diberkati dengan harta, pakailah itu untuk memuliakan Tuhan lewat menyatakan kasih kita kepada orang lain. Itulah yang seharusnya kita lakukan, dan bukan berharap kita bisa memperoleh kebahagiaan sepenuhnya lewat timbunan harta yang kita miliki. Hari ini marilah kita miliki pandangan yang benar tentang uang sesuai apa yang dikatakan firman Tuhan. Dan janganlah melupakan Tuhan apabila kita sudah diberkati secara materi hari ini. Semua itu berasal dari Tuhan, oleh karena itu pakailah untuk memuliakanNya.

Money can’t buy happiness, money is not everything

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply