Turut Merasakan

belarasa by ist“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” (Ibr 4, 15) PADA peristiwa kematian, banyak orang mengirimkan karangan bunga. Di sana terdapat tulisan, “Ikut berdukacita.” Pada kesempatan wisuda atau perkawinan, banyak orang juga mengirim karangan bunga, dengan ucapan, “Ikut bergembira dan bersukacita.” Ucapan-ucapan seperti itu tidak hanya terbatas pada tulisan di karangan bunga. Banyak orang mengirimkan ucapan duka atau gembira melalui BBM atau SMS atau dengan cara lain. Semua ini menunjukkan sikap ‘turut merasakan’ kesedihan atau kegembiraan orang lain. Sikap hidup seperti ini merupakan sesuatu yang wajar dihayati di dalam kehidupan bersama, tanpa membedakan suku atau agama. Orang bisa bersimpati dan berempati atas perjuangan, penderitaan dan kehidupan orang lain yang kurang beruntung. “Turut merasakan” adalah kesediaan untuk mengerti, memahami, masuk ke dalam kehidupan sesama dengan segala suka dan duka, sedih dan gembira, segala keprihatinan dan harapan, kesulitan dan perjuangan. Kita mempunyai Imam Besar yang ‘turut merasakan kelemahan’ manusia. Imam Besar yang mau menjadi manusia dalam segala kelemahannya. Sikap dan kemampuan untuk ‘turut merasakan’ harus dimiliki dan dihayati juga oleh para murid, yang tinggal bersama dengan masyarakat lain. Para Bapa Konsili pernah menyatakan bahwa kegembiraan dan keprihatinan dunia saat ini juga merupakan kegembiraan dan keprihatinan Gereja. Paus Fransiskus, dalam Evangelii Gaudium, juga menegaskan agar para pewarta Injil memiliki “bau domba” dan para domba mendengar mereka. Pewarta Injil bisa ‘berbau domba’, kalau mereka mau masuk dalam kehidupan para domba dengan segala macam situasinya; turut merasakan berbagai macam kesulitan, tantangan dan perjuangan hidup mereka. Mari mohon agar kesediaan untuk ‘turut merasakan’, semakin tumbuh subur dalam hidup kita. Teman-teman selamat pagi dan selamat berakhir pekan. Berkah Dalem. Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

belarasa by ist

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” (Ibr 4, 15)

PADA peristiwa kematian, banyak orang mengirimkan karangan bunga. Di sana terdapat tulisan, “Ikut berdukacita.”

Pada kesempatan wisuda atau perkawinan, banyak orang juga mengirim karangan bunga, dengan ucapan, “Ikut bergembira dan bersukacita.”

Ucapan-ucapan seperti itu tidak hanya terbatas pada tulisan di karangan bunga. Banyak orang mengirimkan ucapan duka atau gembira melalui BBM atau SMS atau dengan cara lain. Semua ini menunjukkan sikap ‘turut merasakan’ kesedihan atau kegembiraan orang lain.

Sikap hidup seperti ini merupakan sesuatu yang wajar dihayati di dalam kehidupan bersama, tanpa membedakan suku atau agama. Orang bisa bersimpati dan berempati atas perjuangan, penderitaan dan kehidupan orang lain yang kurang beruntung.

“Turut merasakan” adalah kesediaan untuk mengerti, memahami, masuk ke dalam kehidupan sesama dengan segala suka dan duka, sedih dan gembira, segala keprihatinan dan harapan, kesulitan dan perjuangan.

Kita mempunyai Imam Besar yang ‘turut merasakan kelemahan’ manusia. Imam Besar yang mau menjadi manusia dalam segala kelemahannya. Sikap dan kemampuan untuk ‘turut merasakan’ harus dimiliki dan dihayati juga oleh para murid, yang tinggal bersama dengan masyarakat lain.

Para Bapa Konsili pernah menyatakan bahwa kegembiraan dan keprihatinan dunia saat ini juga merupakan kegembiraan dan keprihatinan Gereja. Paus Fransiskus, dalam Evangelii Gaudium, juga menegaskan agar para pewarta Injil memiliki “bau domba” dan para domba mendengar mereka.

Pewarta Injil bisa ‘berbau domba’, kalau mereka mau masuk dalam kehidupan para domba dengan segala macam situasinya; turut merasakan berbagai macam kesulitan, tantangan dan perjuangan hidup mereka.

Mari mohon agar kesediaan untuk ‘turut merasakan’, semakin tumbuh subur dalam hidup kita.

Teman-teman selamat pagi dan selamat berakhir pekan. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply