Tumpukan Batu Dosa

Ayat bacaan: Mikha 7:19
==================
“Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.”

tumpukan batu dosa, jauh ke dalam tubir laut, Tuhan mengampuni

Sudah seminggu ini saya melihat setumpuk batu berukuran besar yang dipakai untuk membuat bangunan diletakkan menggunung di seberang rumah saya. Ternyata ada warga yang hendak membangun rumah, hanya saja jalan menuju rumahnya curam turun ke bawah dan tidak bisa dilewati mobil. Untuk mencapai rumahnya, orang harus meniti setapak jalan dipinggir sungai terlebih dahulu. Batu yang menggunung itu ternyata harus diangkut manual satu per satu ke bawah menuju rumahnya. Bayangkan jarak jauh, jalan menurun yang curam, meniti sungai harus dilewati oleh tukang pengangkut batu. Dan yang membuat saya kaget, pengangkut batunya hanya terdiri dari dua orang, dan keduanya sudah berusia lanjut. Malam ini ketika saya berdiri di teras, saya diingatkan akan dosa-dosa kita yang seringkali menumpuk seperti batu-batu besar tersebut.

Apa yang saya dengar dalam hati saya memang ironis. Banyaknya dosa kita memang bisa menggunung seperti batu-batu itu. Batu yang berukuran besar dengan banyak sisi yang tajam. Banyak orang yang lebih rela untuk mengangkat batu-batu berat tersebut dalam perjalanan hidupnya. Sudah tahu dosa, masih juga terus dilakukan. Dan seringkali dosa itu hanya terasa nikmat sesaat, namun pada akhirnya merugikan kesehatan atau diri mereka sendiri, bahkan mengakibatkan kematian. Mabuk-mabukan, obat bius, dan sebagainya, selain harganya mahal, itu juga akan menghancurkan hidup dan kesehatan. Itu dosa, namun banyak yang lebih memilih untuk meniti hidupnya dengan bersusah-susah membawa beban-beban dosa yang sungguh berat dan banyak tersebut ketimbang bertobat, menerima hidup baru, dipulihkan dan hidup dengan damai, kasih yang pasti jauh lebih “ringan” dan membawa kita menuju keselamatan.

Mikha mengingatkan kita akan kebaikan dan kasih Tuhan yang luar biasa. “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.” (Mikha 7:18-19). Begitulah kasih Tuhan. Dosa-dosa yang membuat kita seharusnya berakhir dalam kematian kekal penuh siksaan semua dibayar lunas oleh Kristus sendiri. Kristus datang ke dunia untuk melakukan karya penebusan sebagai anugerah Tuhan, karena Tuhan begitu mengasihi kita, manusia yang terus berdosa ini. Ketika kita sudah diselamatkan, tidakkah keterlaluan jika kita malah memilih untuk terus menimbun dosa-dosa besar an mengangkutnya dari masa ke masa dalam hidup kita? Kasih setia Tuhan terus tercurah, Dia menyayangi kita, dan siap untuk melemparkan dosa-dosa kita yang besar itu jauh ke dalam tubir laut. Jika kita menyadari betapa besar kasih Tuhan, seharusnya kita pun segera bertobat. Dan pertobatan kita akan berbuah pengampunan. Tidak hanya diampuni, tapi Tuhan juga berjanji untuk tidak lagi mengingat dosa kita. “..sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” (Yeremia 31:34). Dalam kesempatan lain, Daud pun menyadari hal itu. Mari kita lihat kutipan dari Mazmur 103. “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” (Mazmur 103: 8-13). That’s our God, and He loves us so much, so much that He never wants us to end up in eternal death.

Sudah saatnya bagi kita untuk meninggalkan batu-batu besar yang penuh sisi-sisi tajam. Bertobatlah, agar Tuhan segera melemparkan batu-batu itu jauh ke dalam tubir laut, kemudian tidak lagi mengingat dosa masa lalu kita. Tidak ada kata terlambat untuk bertobat, dan Tuhan rindu untuk segera melemparkan semua itu sejauh-jauhnya. Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa Dia adalah sahabat dari orang berdosa (Lukas 7:34). Dia datang untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Itu luar biasa. Tuhan siap kapan saja untuk membuang tumpukan batu dosa kita sejauh mungkin dengan cepat dan tidak lagi mengingatnya. Semua tergantung diri kita.

Tidak sulit bagi Tuhan untuk mengangkut tumpukan batu dosa kita dan membuangnya jauh-jauh, yang sulit adalah kesediaan kita untuk berbalik padaNya

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply