Tumpeng Paskah di Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto

tumpengpaskah

SUASANA Locitanagata Jl. Ragasemangsang Purwokerto pada hari Rabu, 15 April 2015 sejak pukul 16.00 menjadi ramai. Nasi tumpeng dari lima komunitas basis gerejawi (KBG) yang ada di Lingkungan 4 Santo Agustinus Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto sudah tertata rapi.

Tumpeng itu merupakan karya ibu-ibu dari masing-masing KBG dan disajikan sesuai tema perayaan Paskah.

Kursi plastik warna merah pun ditata rapi untuk persiapan Ekaristi Perayaan Paskah Lingkungan 4 Santo Agustinus yang dipimpin Romo FX Handy Kristian Adi P dari Keuskupan Purwokerto mewakili Pastor Kepala Romo Bonifasius Abas.

Perayaan Paskah tahun 2015 ini memang berbeda dan lebih menarik.

juara1
Juara satu membuat Tumpeng Paskah di Lingkungan 4 Santo Agustinus Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto (Anton Soeparno)

Ketua I Lingkungan 4 Santo Agustinus Sr. M. Luisi OP bersama Ketua II Paulus Kardi memutuskan masing-masing KBG membuat tumpeng. Hal itu dimaksudkan agar ibu-ibu terlibat langsung membuat nasi tumpeng Paskah karena selesai perayaan ekaristi akan dinilai tim juri yaitu Tim Pendamping Lingkungan yaitu Elisabeth dan Imung dibantu Mas Yuli.

Swadaya umat

Ketua KBG Tunas Mulia Ignatius Ongko Wisanto menjelaskan, tumpeng dibuat dengan biaya swadaya. Yaitu, patungan dari warga karena ada yang membuat urap, mie goreng, oseng tempe, sambel goreng kentang, telor pindang, tahu dan tempe bacem, peyek dan perkedel, ayam ingkung serta nasi tumpeng.

Masakan itu dibawa ke rumah Bu Susy untuk dirangkai bersama-sama dan jadilah tumpeng bercirikan Paskah. ‘’Soalnya ada telor paskah, yang dihias menarik dan semuanya merupakan ide bersama.’’

Dikatakan, hasil penilaian cukup mengejutkan karena tumpeng Paskah dimenangkan oleh KBG Tunas Mulia yang dinilai sesuai dengan tema Perayaan Paskah dan ingkung ayamnya dihias dengan sawi putih sebagai pengganti bulu ayam.

Menurut Sr. M. Luisi OP, nasi tumpeng itu merupakan karya ibu-ibu anggota KBG sebagai wujud kebersamaan yang dibangun melalui kegiatan kegotongroyongan. Apalagi seusai penilaian, nasih tumpung dinikmati warga yang hadir dalam perayaan Paskah yang sederhana tapi meriah.

Itulah sekilas informasi kegiatan dari Lingkungan 4 Santo Agustinus.

tumpengkbg
Tumpeng yang berarti “tumenga mring Pengeran” (membuka hati menghadap Tuhan). Paskah berarti “Tuhan telah lewat menyelamatkan kita”. (Anton Soeparno)

Tanggapan Uskup

Uskup Keuskupan Purwokerto Mgr. Jullianus Sunarka SJ merespon kegiatan di atas  sebagai berikut:

Ytk. Bapak Anton Soeparno. Berkah Dalem dan profisiat atas kegiatan lomba Tumpeng Paskah.

Lha kata tumpeng dalam keroto boso bahasa Jawa adalah Tumenga mring Pengeran  (menghadap menyembah Tuhan) dan Paskah dalam bahasa kita “Tuhan lewat menyelamatkan”.

Jadi Tumpeng Paskah berarti hati yang terbuka bagi Tuhan yang lewat untuk menyelamatkan umatNya.

Begitulah othak athiking wong Jawa.

Sumangga. +mgr.jsunarkasj

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply