Tumbuh Laksana Benih

The seed by The Examiner

Gagasan pokokSABDA Tuhan itu akan terjadi bagaikan hujan. Bilamana sudah jatuh ke tanah akan mem-basahi bumi (Yes 55:10-11). Hal ini sesuai dengan keyakinan Santo Paulus, bahwa firman Tuhan dan janjiNya akan memberikan kemuliaan sejati akan terlaksana juga, walaupun saat ini kita masih menderita sengsara. (Rom 8:18-23).

Terjadinya Firman Tuhan dalam hidup manusia itu akan tumbuh seperti benih (pelan tapi pasti) yang sangat ,tergantung dari keadaan tanah dimana benih itu jatuh. (Mat 13:1-23).

Meresapkan firman
Benih itu dari kodratnya kecil dan lemah. Agar benih itu dapat tumbuh dengan baik memerlukan pemeliharaan yang baik. Maka tugas yang penyemai tidaklah selesai hanya dengan menaburkan benih saja, tetapi masih harus menjaganya sampai benih itu benar-benar berakar dan tumbuh, sebab untuk tumbuh dan berkembangnya suatu benih sehingga menjadi tanaman yang kuat dan berbuah itu memerlukan proses dan waktu yang lama.

Pertumbuhan benih ini juga masih tergantung dari keadaan tanahnya. Maka sangatlah cocok kalau Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan tentang benih ini untuk menjelaskan tentang pertumbuhan iman Umat akibat firman Tuhan yang diwartakan atau tumbuhnya Kerajaan Surga di dalam kehidupan manusia. Orang yang mendengar Firman Tuhan itu tidak seketika itu juga langsung berubah menjadi baik, karena Firman Tuhan itu masih memerlukan proses untuk tumbuh dan berkembangnya dalam hidup manusia.

Demikian pula dengan baptis.
Orang yang baru saja menerima sakramen baptis itu bukanlah orang yang sudah beriman kuat, tetapi juga masih lemah dan memerlukan pemeliharaan, pendampingan dan penda-laman iman, sampai benih Firman Tuhan dalam hidup manusia itu kuat, dapat tumbuh, dan menghasilkan buah.

Merenungkan pengalaman
Namun dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai orang-orang yang mengira bahwa dengan baptis semua proses untuk menjadi katolik sudah selesai. Pada hal dengan baptis itu benih firman Tuhan Yesus itu baru ditanamkan di hati orang itu.

Jadi masih memerlukan penjagaan lebih lanjut dan pembinaan iman dengan pendalaman iman dan mengikuti perayaan sakramen-sakramen. Kita kadang juga tidak tahu apakah benih itu jatuh ditanah yang baik ataukah ditanah yang berbatu-batu, tanah yang penuh duri atau di tanah tepi jalan. Kita baru akan tahu setelah bertahun-tahun, yaitu dengan melihat buahnya.

Ada seorang rama yang berkarya di sebuah paroki menceriterakan bahwa ketika 15 tahun yang lalu umat tumbuh dan berkembang amat baik. Semua kegiatan gerejani di paroki maju sekali. Namun keadaan ini berubah sama sekali dalam kurun waktu 15 tahun. Umat semakin berkurang, tidak banyak lagi yang pergi ke gereja untuk merayakan Ekaristi dan kegiatan-kegiatan gerejani lainnya cuma tinggal nama. Umat sekarang tinggal bercitera tentang zaman dulu. Lalu apa sebabnya banyak umat yang meninggalkan Gereja?

Katanya banyak orang yang menyalahkan pimpinan yang lalu atau mencari kambing hitam macam-macam ( mencari-cari kesalahan dari orang-orang tertentu), untuk menghindar-kan tanggung-jawab. Namun sebenarnya penyebabnya sederhana sekali: Ada kesalahan pada pemahaman tentang Gereja.

Gereja hanya dilihat dari segi lahir, sehingga banyak orang mudah berpuas diri; lalu merasa tidak perlu memperdalam hidup rohani atau mengadakan pendalaman iman lebih lanjut.Akibatnya Gereja (paroki) sering hanya dianggap organisasi belaka. Pada hal Gereja itu sebagai suatu tanaman yang masih harus tumbuh dan berbuah, maka kita semua diajak untuk mencoba mengembangkan iman dan hidup rohani sehingga berbuah. Ada banyak keluarga yang imannya hanya menjadi milik orang tua, tetapi anak-anaknya sama sekali tidak ada yang meneladan, bahkan seringkali bertolak belakang.

Kita termasuk tanah yang mana?

  • Ketika kita menerima Firman Tuhan itu, apa kita mau memahami sungguh-sungguh, atau kita biarkan saja? Kalau kitat idak mau menangkap pesan dari Firman Tuhan itu, lalu dengan mudah Firman itu hilang dari hidup kita. Kita mudah terpikat, tetapi tidak mau mendalami.
  • Mungkin pada awalnya kita mantab dan gembira mengikuti pendalaman iman dengan bacaan Kitab Suci, tetapi kalau Firman itu tidak kita akarkan dalam hidup kita, maka Firman itu tidak mempengaruhi hidup kita. Maka Firman Tuhan ini tidak tahan lama dan cepat mati, kebih-lebih kalau kita menghdapi tantangan dan kesulitan. Ini gambaran benih yang tumbuh di tanah yang berbatu- batu.
  • Dikatakan oleh Tuhan Yesus bahwa semak duri ini menggambarkan himpit-an oleh kekuatiran atau tipu daya kekayaan duniawi. Mungkin pada waktu kecil kita rajin ke Gereja, aktif kegiatan rohani, tetapi setelah dewasa kita baru sadar bahwa ada banyak tantangan dan tawaran kemewahan dan kese-nangan di masyarakat, sehingga kita ikut terbuai oleh tawaran itu, sampai kita mau meninggalkan iman. Benih iman ini tidak berbuah.
  • Apakah kita termasuk tanah yang baik? Karena cirinya:Kita mau mengerti dan memahami Firman Tuhan itu lalu mengakarkan dalam hidupkita. Kita mau diubah oleh Firman itu sehingga iman menghasilkan buah keutamaan bermacam – macam sampai mempengaruhi orang lain.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: