Tuhan Yang Menjadi Manusia

Ayat bacaan: Filipi 2:8
=================
“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”

alexander the great, renungan harian


Alexander Agung, atau yang juga kita kenal dengan Alexander The Great adalah pemimpin militer dan penguasa paling jenius sepanjang perjalanan sejarah dunia. Dia juga merupakan seorang pemimpin militer tersukses sepanjang sejarah. Dalam peperangan selama 13 tahun sampai akhir hayatnya dia tidak terkalahkan. Sebagai seorang pemimpin militer yang hanya berkuasa dalam waktu relatif singkat, hanya 13 tahun, dia berhasil membangun imperium yang meliputi 3 benua dengan luas 50 kali lebih besar dari apa yang diwariskan kepadanya. Kehebatannya menjadi sumber inspirasi bagi banyak pemimpin dan penakluk dari masa ke masa seperti misalnya Napoleon. Bagi penggemar sejarah atau penggemar film rasanya kisah Alexander Agung tidak asing lagi, karena literatur mengenai sosoknya sudah begitu melegenda hingga sekarang.

Sejarah mencatat begitu banyak penguasa dan diktator dalam perjalanannya. Selain Alexander The Great, sebut saja beberapa nama lain seperti Napoleon, Julius Caesar, Hitler, Lenin dan banyak lagi. Salah satu jenis karakter manusia adalah karakter agresif, dan mereka yang memiliki karakter ini akan memiliki sifat dasar menguasai. Tapi hari ini saya bukan hendak bercerita mengenai karakter agresif atau mengangkat kisah heroik Alexander atau lainnya. Justru saya ingin mengangkat kebalikan yang menjadi simbol keteladanan yang berasal dari Yesus Kristus. Ada satu kutipan yang pernah saya dengar, kira-kira berbunyi: History is full with men who wanted to be gods, but only one God who wanted to be man. Bayangkan betapa ironisnya kalau kita pikirkan dengan pola pemikiran manusia. Manusia berusaha menaklukkan dunia dengan segala cara, melakukan ekspansi seluas kesanggupan mereka. Tapi Tuhan, Penguasa tertinggi, Pencipta alam semesta beserta isinya, malah memutuskan untuk turun ke bumi, mengambil wujud anak manusia. Bukan hanya sebagai wujud anak manusia. Tuhan Yesus, Raja diatas segala raja, tidaklah datang dalam kondisi dibungkus kemewahan, tapi lahir di kandang domba, hidup bersahaja, bahkan tampil dalam rupa seorang hamba (Filipi 2:7). Tuhan Yesus dalam wujud manusia juga ikut merasakan berbagai penderitaan demi penderitaan. Berbagai penderitaan di luar batas kemanusiaan dialami Yesus, hingga wafat di kayu salib adalah karya penebusan yang telah membayar lunas segala dosa dan penderitaan manusia. Yesus mengambil alih semua penderitaan, sakit penyakit dan lain-lain, membebaskan kita dari belenggu kegelapan, dan membawa kita ke dalam kehidupan kekal penuh damai sukacita. Bayangkan hidup kita tanpa kedatangan dan karya penebusan Tuhan Yesus. Bayangkan hidup kita tanpa penyertaanNya.

Tuhan Yesus mengajarkan kita bahwa kita menjadi besar bukan karena kita bisa menduduki negara-negara lain, tapi karena kita bisa melayani (Markus 10:43-44). Bukan di dalam nama Alexander, tapi di dalam nama Yesus Kristus lah segala yang ada di langit dan bumi bertekuk lutut, dan semua lidah mengaku Yesus lah Tuhan (Filipi 2:11). Keselamatan ada di dalam nama Yesus, mari kita teladani pribadi Yesus dalam kehidupan kita.

Memperluas kerajaan Allah adalah dengan berkomitmen untuk mengasihi dan melayani sesama, bukan menduduki dengan kekuasaan militer

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply