Tuhan Tak Pernah Palingkan Wajahnya dari Kita

the-transfigurationSESUATU yang memesona biasanya selalu menyita perhatian. Misalnya panorama yang indah seperti Kuta di Bali atau Pantai Sukarlaran di Atapupu. Tak heran bila tiap minggu banyak orang berduyun-duyun menuju sana. Mulanya mungkin sekadar ingin tahu, kemudian kepincut hingga berdecak kagum, “ wah… luar biasa..” Demikian juga ketika mendengar alunan musik merdu seperti lagu-lagu Ebiet G. Ade; Cintaku Kandas Di Rerumputan. Rasanya ingin berlama-lama dan kalau bisa menikmatinya terus. Injil hari ini juga bercerita tentang peristiwa yang memesona hati Petrus, Yohanes dan Yakobus. Terjadi ketika Petrus menyaksikan wajah Yesus yang berubah di atas gunung Tabor. Diceritakan, sekonyong-konyong Petrus melihat wajah Yesus bercahaya dengan pakaian putih berkilau-kilauan serta sedang bercakap-cakap dengan Musa dan Elia sementara awan putih menaungi mereka. Petrus terpesona, takjub dan spontan berseru menyatakan kerinduannya. “ Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” ( Mrk. 9: 5 ). Ungkapan Petrus ini adalah tanda hatinya yang rindu ingin memandang wajah Tuhan. Petrus percaya bahwa dalam wajah Yesus yang mulia itu selalu ada keselamatan, pengampunan, pengharapan, kedamaian dan sukacita sehingga ia pun rindu untuk memandangnya selamanya. Kerinduan hati Petrus ini juga menjadi kerinduan hati kita semua. Kerinduan ini perlu kita tanamkan juga dalam hati karena kita sadar bahwa Tuhanlah pangkal dan tujuan kehidupan di dunia ini. Pada saatnya kita akan memandang wajah Tuhan dari muka ke muka. Namun sebelum semua itu terjadi, kita akan berhadapan dengan wajah Tuhan dalam aneka pengalaman dan peristiwa hidup sehari-hari. Kita sadar ada banyak peristiwa di sekitar. Ada yang menyenangkan. Ada pula yang mengecewakan. Ada yang baik. Ada juga yang buruk. Ada yang menarik. Ada pula yang buruk. Mungkin ada yang protes dan bertanya bagaimana mungkin kita bisa menemukan wajah Tuhan dalam kesulitan dan penderitaan hidup? Bukankah itu tanda bahwa Tuhan tidak hadir atau absen dalam kehidupan kita? Di manakah wajah Tuhan yang agung, mulia, perkasa, pengampun, murah hati dan penyayang? Saudara/I terkasih, Tuhan itu mahakuasa sehingga Dia bisa hadir dalam banyak wajah tanpa ada yang bisa membatasi keberadaannya. Dia hadir dalam napas kehidupan, hari baru yang bisa dinikmati, pekerjaan yang kita lakukan, keluarga di rumah, tantangan maupun penderitaan yang terjadi di dalam kehidupan. Kita diminta untuk boleh memandang dan menemukan wajah Tuhan dalam aneka pengalaman hidup tersebut. Dua minggu yang lalu, saya sempat menonton acara talk show “ Meja Bundar “ di salah satu stasiun tv swasta Indonesia. Tamu yang diundang saat itu adalah seorang anak kecil. Namanya Viara Hikmatun Visa. Usianya 10 tahun. Pada usia yang kecil itu ia telah menderita gagal ginjal, pendarahan otak dan lupus. Akibat penyakit ini ia harus menjalankan terapi cuci darah setiap minggu dan telah melewati operasi besar sebanyak 7 kali. Tidak terhitung operasi yang keci-kecil. Satu yang menarik bahwa dalam penderitaan ini tak terbersit sedikit pun kekecewaan, kesedihan apalagi kemarahan pada Tuhan tampak pada wajahnya. Sebaliknya Viara tampak tenang, bahagia dan penuh semangat. Bahkan ia sanggup meyakinkan kedua orang tuanya agar jangan pernah menyerah melainkan selalu berharap pada Tuhan. Sebuah lagu yang menginspirasinya datang dari kelompok Band D’Massive yang berjudul “ Jangan menyerah”. Lirik lagu ini seperti nyata : “ Syukuri apa yang ada /Hidup adalah anugerah// Tetap jalani hidup ini/ Melakukan yang terbaik// Jangan menyerah/ Jangan menyerah// Jangan menyerah// oh..oh..//. Tuhan pasti kan menunjukkan// kebesaran dan kuasaNYA// bagi hambaNYA yang sabar// Dan tak kenal putus asa//. Melihat semangatnya ini ayahnya pun tidak putus asa. Bahkan ia terinspirasi untuk menulis buku berjudul “ Jangan menyerah, Gadis Kecilku.” Pesan utama buku ini adalah mengajak orang untuk terus berharap pada Tuhan meski hidup yang dijalani terasa berat seperti yang dialami Viara. Mulanya sang ayah menulis buku ini untuk menumpahkan seluruh perasaannya terkait dengan peristiwa hidup Viara, pada saat dia harus menemani dan menjaga Viara selama hari-hari terapi dan perawatannya di rumah sakit. Tapi ternyata buku ini menginspirasi banyak orang sehingga laris dan akhirnya dengan buku ini keluarga Viara cukup uang untuk membawa Viara ke rumah sakit menjalani pengobatan. Pesan dari kisah ini jelas. Tuhan tidak pernah memalingkan wajahnya dari kita. Ia senantiasa hadir dalam setiap peristiwa dan pengalaman hidup kita. Yang baik maupun yang berat sekalipun. Kita hanya diminta untuk selalu merindukan wajahNYA setiap waktu sebagaimana ditulis dalam Kitab Mazmur 105:4 : Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Tuhan memberkati

the-transfiguration

SESUATU yang memesona biasanya selalu menyita perhatian. Misalnya panorama yang indah seperti Kuta di Bali atau Pantai Sukarlaran di Atapupu. Tak heran bila tiap minggu banyak orang berduyun-duyun menuju sana. Mulanya mungkin sekadar ingin tahu, kemudian kepincut hingga berdecak kagum, “ wah… luar biasa..” Demikian juga ketika mendengar alunan musik merdu seperti lagu-lagu Ebiet G. Ade; Cintaku Kandas Di Rerumputan. Rasanya ingin berlama-lama dan kalau bisa menikmatinya terus.

Injil hari ini juga bercerita tentang peristiwa yang memesona hati Petrus, Yohanes dan Yakobus. Terjadi ketika Petrus menyaksikan wajah Yesus yang berubah di atas gunung Tabor. Diceritakan, sekonyong-konyong Petrus melihat wajah Yesus bercahaya dengan pakaian putih berkilau-kilauan serta sedang bercakap-cakap dengan Musa dan Elia sementara awan putih menaungi mereka.

Petrus terpesona, takjub dan spontan berseru menyatakan kerinduannya. “ Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” ( Mrk. 9: 5 ). Ungkapan Petrus ini adalah tanda hatinya yang rindu ingin memandang wajah Tuhan. Petrus percaya bahwa dalam wajah Yesus yang mulia itu selalu ada keselamatan, pengampunan, pengharapan, kedamaian dan sukacita sehingga ia pun rindu untuk memandangnya selamanya.

Kerinduan hati Petrus ini juga menjadi kerinduan hati kita semua. Kerinduan ini perlu kita tanamkan juga dalam hati karena kita sadar bahwa Tuhanlah pangkal dan tujuan kehidupan di dunia ini.

Pada saatnya kita akan memandang wajah Tuhan dari muka ke muka. Namun sebelum semua itu terjadi, kita akan berhadapan dengan wajah Tuhan dalam aneka pengalaman dan peristiwa hidup sehari-hari. Kita sadar ada banyak peristiwa di sekitar. Ada yang menyenangkan. Ada pula yang mengecewakan. Ada yang baik. Ada juga yang buruk. Ada yang menarik. Ada pula yang buruk.

Mungkin ada yang protes dan bertanya bagaimana mungkin kita bisa menemukan wajah Tuhan dalam kesulitan dan penderitaan hidup? Bukankah itu tanda bahwa Tuhan tidak hadir atau absen dalam kehidupan kita? Di manakah wajah Tuhan yang agung, mulia, perkasa, pengampun, murah hati dan penyayang?

Saudara/I terkasih,
Tuhan itu mahakuasa sehingga Dia bisa hadir dalam banyak wajah tanpa ada yang bisa membatasi keberadaannya. Dia hadir dalam napas kehidupan, hari baru yang bisa dinikmati, pekerjaan yang kita lakukan, keluarga di rumah, tantangan maupun penderitaan yang terjadi di dalam kehidupan. Kita diminta untuk boleh memandang dan menemukan wajah Tuhan dalam aneka pengalaman hidup tersebut.

Dua minggu yang lalu, saya sempat menonton acara talk show “ Meja Bundar “ di salah satu stasiun tv swasta Indonesia. Tamu yang diundang saat itu adalah seorang anak kecil. Namanya Viara Hikmatun Visa. Usianya 10 tahun. Pada usia yang kecil itu ia telah menderita gagal ginjal, pendarahan otak dan lupus. Akibat penyakit ini ia harus menjalankan terapi cuci darah setiap minggu dan telah melewati operasi besar sebanyak 7 kali. Tidak terhitung operasi yang keci-kecil.

Satu yang menarik bahwa dalam penderitaan ini tak terbersit sedikit pun kekecewaan, kesedihan apalagi kemarahan pada Tuhan tampak pada wajahnya. Sebaliknya Viara tampak tenang, bahagia dan penuh semangat. Bahkan ia sanggup meyakinkan kedua orang tuanya agar jangan pernah menyerah melainkan selalu berharap pada Tuhan.

Sebuah lagu yang menginspirasinya datang dari kelompok Band D’Massive yang berjudul “ Jangan menyerah”. Lirik lagu ini seperti nyata : “ Syukuri apa yang ada /Hidup adalah anugerah// Tetap jalani hidup ini/ Melakukan yang terbaik// Jangan menyerah/ Jangan menyerah// Jangan menyerah// oh..oh..//. Tuhan pasti kan menunjukkan// kebesaran dan kuasaNYA// bagi hambaNYA yang sabar// Dan tak kenal putus asa//.

Melihat semangatnya ini ayahnya pun tidak putus asa. Bahkan ia terinspirasi untuk menulis buku berjudul “ Jangan menyerah, Gadis Kecilku.” Pesan utama buku ini adalah mengajak orang untuk terus berharap pada Tuhan meski hidup yang dijalani terasa berat seperti yang dialami Viara.

Mulanya sang ayah menulis buku ini untuk menumpahkan seluruh perasaannya terkait dengan peristiwa hidup Viara, pada saat dia harus menemani dan menjaga Viara selama hari-hari terapi dan perawatannya di rumah sakit. Tapi ternyata buku ini menginspirasi banyak orang sehingga laris dan akhirnya dengan buku ini keluarga Viara cukup uang untuk membawa Viara ke rumah sakit menjalani pengobatan.

Pesan dari kisah ini jelas. Tuhan tidak pernah memalingkan wajahnya dari kita. Ia senantiasa hadir dalam setiap peristiwa dan pengalaman hidup kita. Yang baik maupun yang berat sekalipun. Kita hanya diminta untuk selalu merindukan wajahNYA setiap waktu sebagaimana ditulis dalam Kitab Mazmur 105:4 : Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Tuhan memberkati

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply