Tuhan Punya Cara untuk Ahok

ahok mr gubernur dkiWAKTU itu saya baca di sebuah majalah (Tempo kalau tidak salah) bahwa ada seorang Tionghoa menjadi Bupati di Belitong Timur. Dalam berita itu, orang yang dimaksud dinobatkan sebagai satu-satunya orang Tionghoa yang bisa menembus persaingan dalam menduduki kursi jabatan kepala pemerintahan, dalam hal ini di Kabupaten sebagai Bupati. Saat itu reaksi saya, “Gile juga ni […]

ahok mr gubernur dki

WAKTU itu saya baca di sebuah majalah (Tempo kalau tidak salah) bahwa ada seorang Tionghoa menjadi Bupati di Belitong Timur. Dalam berita itu, orang yang dimaksud dinobatkan sebagai satu-satunya orang Tionghoa yang bisa menembus persaingan dalam menduduki kursi jabatan kepala pemerintahan, dalam hal ini di Kabupaten sebagai Bupati.

Saat itu reaksi saya, “Gile juga ni orang. Pasti bukan orang biasa.”

Meski di sana masyarakat Tionghoa relatif banyak, tapi di era itu rasanya luar biasa sekali seorang kristen dan Tionghoa pula bisa menjadi pejabat pemerintah.

Zaman saya SMA, ada seorang teman SMA pernah bilang, seharusnya orang-orang nggak perlu takut dengan orang Tionghoa karena nggak selamanya seperti di pikiran mereka. Ia belum mencontohkan siapa, tapi dia percaya pasti bisa.

Andaikata waktu itu Ahok sudah ada, pasti teman saya itu akan mencontohkan dengan bangga. (Teman saya itu juga Tionghoa)

Dari perkataan teman saya itu, di kepala seperti ada gambaran tersendiri bahwa Tionghoa memang bisa dan layak untuk seperti suku bangsa lain di Indonesia ini. Nggak ada bedanya. Diskriminasi selama ini sebenarnya pikiran-pikiran orang yang sebenarnya nggak kenal-kenal amat mereka dan itu pun digeneralisir.

Maka, ketika saya membaca majalah itu, entah kenapa saya yakin Bapak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok itu suatu saat pasti akan menjadi orang yang “diramalkan” oleh teman saya itu.

Lalu, ketika Pilgub Bangka Belitung di Pilgub Babel 2007 (lihat: http://nasional.kompas.com/read/2013/12/29/0537177/Cita-cita.Gus.Dur.yang.Belum.Terwujud.Ahok.Jadi.Gubernur.atau.Presiden) Ahok pernah mencoba kebeuruntungannya untuk menjadi Kepala Provinsi tersebut. Sayangnya ia gagal. Ada hal-hal di luar dirinya yang membuatnya demikian.

Namun, tekad untuk melayani masyarakat tidak menyurutkan niatnya. Begitu ada kesempatan untuk menjadi anggota DPR RI pada tahun 2009 dari Fraksi Golongan Karya, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Bahkan “taring” Ahok sudah terlihat di sini (lihat: http://www.youtube.com/watch?v=FgL-x1mtA0Q). Sepertinya Ahok ingin menunjukkan benar keberadaannya sekaligus ingin membuktikan bahwa warga Tionghoa bisa berbuat sesuatu untuk bangsa ini.

Pelaksana Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok (Courtesy of Tempo)

Tahun 2012, saat sudah mulai ada wacana tentang Pilgub DKI, Ahok kembali mencoba keberuntungannya. Kali ini ia PD hendak “melamar” menjadi Gubernur DKI. Bukan melalui kendaraan partai politik, tetapi lewat jalur independen. Ahok punya cara sendiri dengan blusukan ke masyarakat luas dan membagikan kartu namanya (Keunikannya ini memberi perhatian tersendiri meski ternyata tak bisa meloloskan dirinya untuk menjadi kandidat Cagub DKI waktu itu. Saya pernah terpesona ketika dengan modal kartu nama itu dia berusaha mendekati warga Jakarta yang saat itu bisa jadi sinis berkata, “Ih, siapa elu… Berani-beraninya.”

Ahok gagal maning….

Eits… Ternyata nggak sepenuhnya gagal.

Karena trade record-nya yang bagus dan tergolong nekad itu, ia pun “dilamar “ oleh Jokowi (dalam hal ini PDI-P melalui Gerindra) untuk menjadikan Ahok sebagai wakilnya dalam pilgub dan cawagub tersebut.

Obsesi Ahok untuk bisa lebih banyak melayani masyarakat melalui jabatan dalam pemerintahan yang lebih tinggi tidak membuatnya sombong. Dengan segala kesadaran dan kerendah hatiannya, Ahok menerima tawaran itu. Jadilah pasangan Jokowi dan Ahok sebagai Cagub dan Cawagub dalam Pilgub DKI 2012.

Di luar dugaan, meski melalui jalan tak mulus juga, pasangan ini ternyata mampu mengalahkan pasangan pesaingnya kala itu Foke dan Nara. Masyarakat Jakarta percaya pada perpaduan pemimpin dari latar balakang Jawa-Tionghoa tersebut. Agama Ahok yang (lagi-lagi) masih sering disentilkan tidak menyurutkan semangat keduanya untuk sepenuhnya melayani semua masyarakat dan bertanggungjawab terhadap mandat yang diberikan kepada mereka.

Dari semua perjalanan politik Ahok tersebut, saya merasa Ahok benar disayang Tuhan. Dia Sang Maha Segala itu mampu membimbing Ahok hingga mencapai satu titik dimana rakyat bangsa ini mulai terbuka matanya, tidak lagi terlalu mengkotak-kotakkan masalah suku dan agama. Melalui Ahok, orang banyak disadarkan ada banyak orang baik di luar sana yang mau dengan sepenuh dan setulus hati menjadikan bangsa ini menuju arah yang lebih baik.

Dan, secara pribadi saya merasa Tuhan memang punya cara untuk menjadikan Ahok pemimpin lebih tinggi, bahkan dari apa yang selama ini ia bayangkan, mungkin. Dulu, alm. ayahnya pernah menyemangati dia untuk menjadi Gubernur Bangka Belitung. Sekarang, ketika pasangannya di DKI berhasil menjadi Presiden dan otomatis membuatnya naik menjadi Gubernur, bisa jadi di luar perhitungan bapaknya tersebut.

Konon DKI itu adalah miniatur dari Indonesia. Jadi, siapa saja yang berhasil membangun Jakarta, bukanlah hal mustahil kalau ia bisa membangun Indonesia seutuhnya.

“Siapa bilang orang turunan Tionghoa belum bisa jadi gubernur? Jadi presiden, kamu aja bisa,” ujar Gus Dur ketika merestui ia maju menuju Pilgub di Bangka Belitung dahulu.

Kalau Gus Dur masih hidup sekarang, beliau pasti tersenyum lebar. Apa yang diramalkan terhadap Ahok bakal terwujud nyata.

Dari semua proses yang dialami Ahok, ia menjadi tokoh nyata bahwa proses itu bisa membuahkan hal manis. Asal ia mau berpegang teguh dalam prinsip dan mengutamakan niat baik, percaya saja Sang Pemberi akan memberikan jalan. Bisa jadi bukan melalui cara kita, manusia yang terbatas ini, melainkan melalui caraNya.

Satu hal yang penting, saya kutipkan dari sebuah Kitab Suci, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya” (1 Petrus 5:5-6).

Pak Ahok, biar saya “tetangga” provinsi Anda, tapi saya bangga pada Bapak.

Aku bener padamu, Pak…

Banyak berkat melimpah buatmu ya, Pak…
(Baca juga: http://berajasenja.com/index.php/hidup/entry/tuhan-punya-cara-untuk-ahok)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply