Tuhan Menciptakan Manusia Sama Harkat dan Martabat

TKISETIAP manusia diciptakan oleh Tuhan dengan harkat dan martabat yang sama. Sayang, dalam kehidupan nyata ada orang yang merasa dirinya memiliki harkat dan martabat yang lebih tinggi. Perasaan seperti ini kemudian mengakibatkan orang menganggap rendah orang lain. Perempuan paruh baya asal Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, bernama Marsiti Sapojai (39) yang diduga jadi korban […]

TKI

SETIAP manusia diciptakan oleh Tuhan dengan harkat dan martabat yang sama. Sayang, dalam kehidupan nyata ada orang yang merasa dirinya memiliki harkat dan martabat yang lebih tinggi. Perasaan seperti ini kemudian mengakibatkan orang menganggap rendah orang lain.

Perempuan paruh baya asal Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, bernama Marsiti Sapojai (39) yang diduga jadi korban perdagangan manusia di Brunai Darussalam, mengaku sering disiksa dan tak gaji.

Matius Lajo, kerabat korban, menjelaskan bahwa Marsiti kini dalam penanganan KBRI di Bandar Sribagawan. Ia berhasil kabur setelah dibantu oleh pembantu yang juga bekerja di rumah majikannya.

“Sekarang dia (Marsiti) sudah di Kedubes RI di Brunei Darussalam. Dia menelefon saya pada 10 Mei lalu, tutur Matius Lajo.

Dari pengakuan Marsiti yang diterimanya, selama bekerja ia sering diperlakukan kasar, seperti dipukul dan disekap di ruangan gelap tanpa diberi makanan.

“Gajinya juga tidak dibayar karena menurut majikannya, langsung diserahkan kepada orang yang membawanya ke Brunei,kata Matius.

Marsiti merupakan satu dari lima warga Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat yang diduga menjadi korban perdagangan manusia sejak awal Januari 2014. Keberadaannya di Brunai setelah dibawa oleh seorang pria bernama Datuk, yang menjanjikan mereka pekerjaan.

Empat lainnya yang diduga senasib dengan Marsiti adalah Lidya Samaranggure (37), Susakkerei, Silvia Sarah, dan seorang lagi Yasmin yang kabarnya dipekerjakan di Malaysia. Sementara itu, Kepala Kesbangpol Linmas Kabupaten Kepulauan Mentawai, Halomoan Pardede membenarkan jika Marsiti sudah berada di KBRI Brunei Darussalam. Ia berkata, “Kondisi korban baik-baik saja, sementara bekas luka dan pukulan sudah hilang.

Sahabat, sering para TKI yang bekerja di luar negeri menjadi kebanggan Negara. Mengapa? Karena mereka disebut sebagai pendatang devisa bagi Negara. Sumber devisa bagi Negara. Hasil keringat mereka menjadi pemasukan yang sangat berarti bagi keuangan Negara. Mereka mengorbankan seluruh hidup mereka demi devisa.

Sayang, sering kisah kehidupan mereka berbanding terbalik dengan ungkapan bahwa mereka adalah devisa bagi Negara. Kisah tadi mengatakan kepada kita bahwa ternyata kesejahteraan hidup para TKI itu tidak seperti yang diharapkan. Banyak dari mereka yang mengalami penyiksaan. Banyak dari mereka yang mengalami perendahan harkat dan martabatnya.

Mengapa semua ini bisa terjadi? Semua ini bisa terjadi karena ada pihak yang memandang rendah nilai-nilai kemanusiaa. Pihak yang menyiksa merasa bahwa mereka memiliki harkat dan martabat yang lebih tinggi. Sedangkan orang yang diperlakukan semena-mena itu dianggap kurang memiliki harkat dan martabat.

Tentu saja pandangan seperti ini sangat keliru. Mengapa? Karena setiap orang sama derajatnya di hadapan Tuhan dan sesama.  Manusia, siapa pun dia, memiliki harkat dan martabat yang sama di hadapan Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan yang menciptakan manusia itu melihat bahwa semua orang baik adanya. Tidak ada yang lebih rendah dan tidak ada yang lebih tinggi.

Orang beriman mesti selalu memperjuangkan harkat dan martabat manusia di atas segala-galanya. Orang beriman senantia menghormati sesamanya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang setara dengan dirinya. Mari kita senantiasa memperjuangkan kebaikan bersama. Dengan demikian, tiada lagi terjadi penganiayaan terhadap sesama manusia. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

Kredit foto: Ilustrasi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply