Tuhan Kasihanilah Kami, dan Semoga Kami pun Berbelas Kasih kepada Sesama

mengampuni by danceRabu, 12 Nivember 2014. Titus 3:1-7; Mazmur 23:1-6; Lukas 17:11-19 “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” DALAM  Injil hari ini kita baca satu kekecualian yang jarang terjadi, yakni ada seorang Samaria yang menderita kusta hadir bersama para penderita kusta dari orang-orang Yahudi. Kita tahu orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria dan sebaliknya. Ketika mereka melihat Yesus, […]

mengampuni by dance

Rabu, 12 Nivember 2014. Titus 3:1-7; Mazmur 23:1-6; Lukas 17:11-19

“Yesus, Guru, kasihanilah kami!”

DALAM  Injil hari ini kita baca satu kekecualian yang jarang terjadi, yakni ada seorang Samaria yang menderita kusta hadir bersama para penderita kusta dari orang-orang Yahudi. Kita tahu orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria dan sebaliknya.

Ketika mereka melihat Yesus, mereka berseru, “Yesus, Guru. Kasihanilah kami!” Mereka tidak minta kesembuhan melainkan belas kasihan. Apa maknanya bagi mereka dan kita?

Dalam Alkitab, kata belas kasihan berarti kepedihan hati. Itu lebih dari sekadar bela rasa terhadap yang berduka atau yang sedang tidak beruntung. Belarasa memberi perhatian kepada si penderita. Sedangkan belas kasihan lebih jauh dari itu. Berbelas kasih berarti memindahkan dan mengubah pederitaan, tak hanya sekadar turut merasakan penderitaan.

Orang yang berbelas kasih berbagi dalam penderitaan seaeorang seakan-akan itu adalah penderitaannya sendiri. Pribadi yang demikian akan melakukan apa saja untuk mnghilangkan penderitaan itu..

Para penderita kusta itu berseru kepada Yesus memohon belas kasihan. Mereka percaya bahwa Yesus mampu mengubah derita dan memberi kesembuhan budi, hati dan badan. Bahkan mereka tahu bahwa mereka butuh kesembuhan lahir dan batin. Dan mereka percaya bahwà Yesus mampu mengangkat beban derita mereka. Yesus mampu memulihkan mereka, jiwa dan raga. Permohonan belas kasihan mencakup permohonan ampun dan pembebasan dari penderitaan.

Dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan Yesus, hanya satu saja yang datang kembali kepada Yesus untuk berterima kasih kepada-Nya dan memuliakan Allah. Dan itu adalah orang Samaria. Orang-orang Yahudi tidak melakukannya. Orang Di sini, kita belajar untuk berterima kasih. Rasa syukur dan terima kasih merupakan ruang hati yang menanggapi rahmat dan mengungkapkannya dalam tindakan kasih dan syukur.

Lawan dari itu adalah rasa tidak terima kasih. Ini membawa kita pada kekurangan cinta dan kasih serta ketidakpedulian kepada sesama. Orang yang tidak tau rasa terima kasih atas apa yang diterima biasanya juga mudah kehilangan belas kasih dan dengan mudah mengeluh, menggerutu, tidak puas, sombong dan berprasangka buruk pada sesama.

Mari kita sadari betapa sering kita menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih, entah itu kepada orangtua, pastor, guru, dan sesama? Apakah kita merupakan orang-orang yang mudah bersyukur kepada Allah karena rahmat pertolongan-Nya yang berlimpah dan belas kasihan-Nya kepada kita? Apakah kita menjadi pribadi yang berbelaskasih kepada sesama yang membutuhkan perhatian dan pertolongan kita? Sesungguhnya, dalam Adorasi Ekaristi Abadi, ka belajar dari orang Samaria itu untuk memohon belas kasihan Tuhan Yesus sehingga kita pun mampu menjadi orang yang berbelaskasihan kepada sesama kita.

Tuhan Yesus Kristus, semoga kami tidak pernah gagal untuk mengenali kasih, kemurahan dan belas kasihan-Mu dalam hidup kami. Penuhilah hati kami dengan belas kasihan, belarasa, dan syukur. Bebaskanlah kami dari rasa tidak tahu terima kasih dan ketidakpuasan. Bantulah kami untuk menanggapi segala rahmat dan berkat dari-Mu dengan rasa syukur senantiasa. Semoga kami menjadi orang yang berbelas kasih kepada sesama, kini dan selamanya. Amin.

Girli Kebon Dalem
»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊•Ɓέяќǎђ•Đǎlєm•✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶
“abdi Dalem palawija”
Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan
Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply