Tuhan Datang, Manusia Percaya atau Menolak?

Kita mengakhiri Masa Natal dengan Pesta Penampakan Tuhan, yang dahulu disebut Pesta 3 Raja. Kalau kita perhatikan dalam Injil, tidak diceritakan bahwa yang datang mencari Raja Yahudi yang baru lahir itu Raja dan jumlahnya juga tidak disebutkan. Tradisi Gereja menyebut jumlah 3 itu karena 3 persembahan yang disebut: emas, kemenyan dan mur dan untuk menunjuk kepada 3 benua: Asia, Afrika dan Eropa; untuk menyatakan bahwa semua bangsa datang menyembah Raja Baru. Pesan Injil, ada 3 sikap berbeda-beda terhadap Tuhan yang menanpakkan diri kepada dunia sebagai bayi Yesus. Pertama ialah para sarjana dari Timur, mereka mencari dengan iman. Mereka hanya melihat suatu tanda bintang dan bersedia meninggalkan tanah air dan kenyamanan hidup untuk mencari Raja Baru itu. Mereka percaya dan bersedia diubah oleh kepercayaannya itu. Kedua: Penduduk kota Yerusalem. Mereka mendengar pertanyaan itu, tetapi tidak bersikap apa-apa. Pasti kedatangan para sarjana dari Timur itu menimbulkan sensasi besar di kota Yerusalem. Apalagi mereka mencari Raja yang baru lahir. Penduduk kota Yerusalem tahu betapa kejamnya Raja Herodes. Mereka melihat para sarjana itu pergi ke Bethlehem, yang hanya ± 10 km. dari Yerusalem. Tetapi tidak diceritakan bahwa ada yang ikut bersama para sarjana mencari Raja yang baru itu. Mereka memilih aman, daripada cari perkara dengan Raja Herodes, lebih baik mengurus urusannya sendiri saja. Yang ketiga ialah Raja Herodes. Sejarah mencatat Herodes ialah raja yang kejam dan penuh kecurigaan bahwa ia akan dijatuhkan dari tahtanya. Karena itu ia membunuh permaisuri dan anak-anaknya. Herodes perlu tahu siapa dan dimana Raja baru itu berada. Tetapi itu untuk kepentingannya sendiri. Ia ingin membunuh Raja Baru itu.

Memasuki tahun baru ini, kita diajak bercermin pada sikap ketiga tokoh dalam menyambut Yesus yang hadir di dunia. Mungkin tidak ada yang seperti Herodes, yang menolak Tuhan yang datang. Tetapi apakah kita sudah bersikap seperti para Majus itu, berani mengembara dalam iman, masuk dalam ketidak pastian demi mencari kehendak Tuhan dalam hidup kita? Situasi kita sekarang ini adalah situasi yang penuh ketidak pastian. Krisis ekonomi, keamanan, kepercayaan masih akan berkepanjangan. Karena itu sikap yang paling umum ialah sikap seperti penduduk kota Yerusalem. Cari aman, urus saja kepentingan sendiri, jangan menambah masalah. Tetapi dengan demikian kita tidak membiarkan Tuhan masuk dalam hidup kita. Perjuangan kita menjalani hidup ini adalah pergulatan dengan mengandalkan diri kita, kekuatan kita sendiri. Jika demikian, maka tahun ini, hidup kita masih sama dengan tahun yang lalu. Padahal Tuhan tidak hanya menunggu untuk dicari, tetapi Ia juga menunggu kesempatan dapat membantu dan mendampingi kita dalam perjuangan hidup kita setiap hari.

Ada seorang pastor menulis begini: Ada perumpamaan tentang seekor angsa liar yang tertembak pemburu. Ia hanya terluka di salah satu sayapnya, dan ia berhasil mendarat di halaman kandang sebuah peternakan. Kehadirannya mengagetkan ayam dan kalkun. Setelah mereka biasa dengan angsa itu, maka mereka mulai bertanya-tanya tentang bagaimana rasanya terbang? ”Luar biasa!” jawab angsa. Dia lalu mulai bercerita tentang berbagai pengalaman terbangnya. “Pengalaman luar biasa dapat membumbung tinggi di langit biru yang bebas. Peternakan ini kelihatan seperti kotak korek api dan kalian hanya seperti titik-titik kecil di kejauhan. Pertama kamu terbang tinggi dan lalu dapat melayang dan menikmati pemandangan yang luar biasa itu.” Semua burung itu sangat terkesan dan minta diceritakan lebih banyak lagi. Sehingga dengan segera tiap minggu angsa itu menghibur penghuni peternakan dengan cerita-cerita terbangnya. Tapi anehnya, ada satu hal yang tidak pernah terjadi: burung-burung di peternakan itu suka mendengar cerita tentang kehebatan terbang. Tetapi mereka tidak pernah mencoba terbang sendiri. Dan angsa liar itu, meski sayapnya sudah sembuh, terus saja bercerita tentang terbang, tapi dia tidak pernah terbang lagi.

Cerita ini terlalu benar. Kita mudah bicara tentang menjadi orang Kristen, tanpa bertindak sebagai pengikut Kristus. Mudah untuk menyebut Yesus adalah Tuhan di gereja tanpa sungguh mengarahkan hidup kita pada pengarahanNya. Mudah untuk duduk dan menikmati lagu dan ibadat yang indah tanpa perduli pada dunia yang sangat membutuhkan kesaksian kita. Mudah untuk bicara tentang pelayanan tanpa berbuat apa-apa. Mudah untuk bicara, tapi kita harus mengepakkan sayap dan terbang! “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mrk 8:34-35), kata Yesus. Tafsiran umum dari ayat ini biasanya: jika mau jadi pengikut Yesus maka harus mau mengalami sakit dan menderita. Ini bukan gagasan yang menarik, juga tidak sepenuhnya benar! Memang mengikut Yesus akan menderita banyak. Tapi yang pokok bukan menderita. Jika penderitaan yang merupakan pokok ajaran Yesus, maka yang paling banyak menderita yang akan masuk surga. Jadi apa maksud Yesus dengan berkata, pikullah salibmu dan ikutilah Aku? Yesus bicara tentang komitmen pada misi kita. Yesus menerima penderitaan sebagai akibat dari misiNya. Jika Yesus puas menjadi pengajar yang hebat dan pembuat mukjijad yang sakti, Ia hanya menjadi manusia sukses. Mengembalikan manusia ke jalan Allah adalah misi Yesus. Meski Ia ditolak, Yesus tetap setia pada kehendak BapaNya. Salib adalah puncak kesetiaan Yesus dan Ia berkomitmen untuk melaksanakannya sampai akhir. Dengan demikian Yesus menjadi Putera Allah, Penyelamat dunia. Dia ‘terbang’ melampaui segala kemampuan luar biasaNya sebagai manusia hebat. Misi burung adalah terbang. Untuk itu burung harus mengepakkan sayapnya berulang kali sampai ia dapat terbang. Lebih aman tinggal di halaman; tapi kita akan kehilangan banyak hal. Bagaimana rasanya membumbung tinggi mengikuti arus udara? Jika kita selalu menjaga dan melindungi kepentingan diri, tanpa usaha berbuat bagi sesama, hanya sibuk dengan diri sendiri saja, kita tidak akan ‘terbang’, tetap tinggal terpuruk di tanah saja. Kenalilah misi anda dan dapatkan kepuasan batin karena telah melaksanakannya sejauh kita mampu. Itulah memikul salib dan terbang tinggi.1

Di Minggu pertama tahun ini, Tuhan telah memperkenalkan diri kepada dunia. Kita diajak mengenal Dia kembali dalam hidup kita dan memperkenalkan Tuhan kepada dunia. Kita diajak ‘terbang’ bersama Tuhan ke tengah dunia. Tetapi untuk dapat terbang bersama Tuhan, kita perlu lepas dari sikap orang Yerusalem, yang acuh tak acuh atau seperti ayam dan kalkun di peternakan yang elbih suka bicara dan mendengar daripada bertindak. Kekosongan itu terjadi karena kita tidak punya visi dan misi dalam hidup kita. Hidup kita sekedar jalan, seperti biasamua, seperti tahun-tahun yang lalu. Kita tidak merumuskan resolusi awal tahun sebagai arah dan target hidup kita di tahun ini. Akibatnya, kita menutup Masa Natal dan masuk dalam rutinitas hidup yang biasa-biasa saja, sama seperti tahun-tahun yang lalu, sampai kita nanti kembali merayakan Natal pada akhir tahun ini. Tuhan sudah datang. Dan bagi kita, biasa-biasa saja, seperti tahun-tahun yang dulu juga.

Tuhan yang datang adalah Tuhan yang ditolak oleh dunia ini. Apakah kita akan membiarkan hal ini terjadi lagi? Dunia acuh tak acuh kepada kedatangan dan kehendakNya? Mari kita buat tahun ini berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Tuhan ingin agar kita berjalan mengikuti Dia, berani memikul salib; berani terlibat dalam visi dan misi Tuhan dan ikut tumbuh dan terbang bersama Dia.. AMIN.

1 Larry Davies: IF YOU ARE GOING TO FLY

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: