Tuhan, Allah Orang Hidup

MINGGU BIASA 32, C; 10 November 2013 2Mak. 7:1-2.9-14; 2Tes. 2:16-3:5; Luk. 20:27-38

Hari ini kita bicara tentang kebangkitan badan, atau kehidupan sesudah kematian. Bagi orang Yahudi pada waktu Yesus hidup, soal ini masih hangat. Orang-orang Saduki, keturunan para imam, hanya menerima 5 Kitab Taurat Musa sebagai Kitab Suci; kitab para nabi; Mazmur dsb. yang baru ditulis kemudian, tidak mereka terima. Pada Taurat Musa, paham tentang kebangkitan badan belum jelas. Pengertian pada waktu itu, kalau orang mati, dia masuk dalam Syeol, dunia orang mati dan sudah selesai.

Baru pada masa yang lebih maju, refleksi tentang hidup dan kematian berkembang; tumbuh pandangan tentang kehidupan yang tidak selesai dengan kematian. Pada paham Yahudi, hal itu dibayangkan sebagai kebangkitan orang mati pada akhir jaman. Orang Saduki yang tidak menerima pandangan tentang kebangkitan badan, membuat kasus seakan-akan nanti hidup itu akan berjalan seperti waktu masih hidup.

Satu perempuan yang kawin dengan 7 bersaudara adalah suatu kasus buat-buatan; didasarkan pada kewajiban dari Hukum Taurat: saudara laki-laki berkewajiban menikahi isti saudaranya yang mati tanpa keturunan, supaya ada anak laki-laki yang meneruskan garis keluarga itu. Sesudah anak laki-laki itu lahir, perempuan itu menjadi istri sah dari orang itu. Karena itu dimasalahkan pada saat kebangkitan badan, siapa yang jadi suami perempuan itu? Jawaban Yesus ada 2: kebangkitan badan tidak sama dengan hidup lagi. Situasinya berbeda sekali dengan keadaan waktu kita masih hidup. Yang kedua: Allah itu Allah orang hidup, bukan orang mati. Jadi nenek moyang mereka itu meski sudah mati, tetapi masih hidup bersama Allah.

Situasi ini bukan situasi kita. Kita tidak punya masalah tentang kebangkitan orang mati. Kita percaya bahwa hidup tidak berhenti dengan kematian, tetapi masih ada kelanjutannya. Pada tingkat pribadi-pribadi, roh kita hidup terus bersama Allah (atau masuk neraka?) dan pada akhir jaman, semua orang hidup baru, sesuai dengan keadaannya waktu meninggal: bahagia bersama Allah atau menderita di neraka, hidup tanpa Allah. Masalah kita bukan masalah ajaran, tetapi sikap hidup. Kematian dan hidup sesudahnya, seringkali jauh dari hidup kita sehari-hari. Dan paham kita tentang hidup, sehingkali secara praktis tidak jauh berbeda dari pandangan orang Saduki.

Hidup yang berarti itu hanya sekarang ini. Ganjaran dan hukuman dari Tuhan terjadi saat ini. Karena itu banyak orang bertanya: apa salah saya sehingga saya dihukum seperti ini atau Tuhan itu baik, saya diberkati dengan kesembuhan, sukses, kesenangan dsb. Banyak kutipan Kitab Suci juga dapat membenarkan pandangan seperti itu, karena dipengaruhi oleh pandangan tentang hidup yang habis dengan kematian. Sikap kita tentang kematian teruji dalam situai kritis, seperti yang diceritakan dalam 2 Mak. 7 bersaudara bersama ibunya memilih mati daripada melanggar Hukum Taurat. Apakah dalam situasi krisis seperti itu, kita berani memilih Tuhan atau memilih menyelamatkan diri, dengan menghindari Tuhan?

Suatu ketika ada seorang janda yang sangat berduka karena anak satu-satunya mati. Sembari membawa jenasah anaknya, perempuan ini menghadap Sang Guru untuk meminta mantra atau ramuan sakti yang bisa menghidupkan kembali anaknya. Sang Guru mengamati bahwa perempuan di hadapannya ini tengah tenggelam dalam kesedihan yang sangat mendalam, bahkan sesekali ia meratap histeris. Alih-alih memberinya kata-kata penghiburan atau penjelasan yang dirasa masuk akal, Sang Guru berujar: “Aku akan menghidupkan kembali anakmu, tapi aku membutuhkan sebutir biji lada.” “Itu saja syaratnya?” tanya perempuan itu dengan keheranan. “Biji lada itu harus berasal dari rumah yang anggota penghuninya belum pernah ada yang mati.”

Perempuan itu langsung beranjak dari tempat itu, hatinya sangat entusias, Guru ini memang sakti dan baik sekali, dia akan menghidupkan anakku! Dia mendatangi sebuah rumah, mengetuk pintunya dan bertanya: ”Tolonglah saya. Saya sangat membutuhkan satu butir biji lada. Maukah Anda memberikannya?” “Oh, boleh saja,” jawab tuan rumah. “Anda baik sekali Tuan, tapi maaf, apakah anggota rumah ini belum pernah ada yang mati?” “Oh, ada, paman kami meninggal tahun lalu.” Perempuan itu segera berpamitan karena dia tahu bahwa ini bukan rumah yang tepat untuk meminta biji lada yang dibutuhkannya. Ia mengetuk rumah-rumah berikutnya, semua penghuni rumah dengan senang hati bersedia memberikan biji lada untuknya; tetapi ternyata tak satu pun rumah yang terhindar dari peristiwa kematian sanak saudaranya. Ayah kami barusan wafat; Kakek kami sudah meninggal; Ipar kami tewas dalam kecelakaan minggu lalu dan sebagainya.

Ke mana pun dia pergi, dari gubuk sampai istana, tak satu tempat pun yang memenuhi syarat tidak pernah kehilangan anggotanya. Dia malah terlibat dalam mendengarkan cerita duka orang lain. Berangsur-angsur dia menyadari bahwa dia tidak sendirian dalam penderitaan ini; tak seorang pun yang terlepas dari penderitaan. Pada penghujung hari, perempuan ini kembali menghadap Sang Guru dalam keadaan batin yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Dia mengucap lirih, “Guru, saya akan menguburkan anak saya.” Sang Guru hanya mengangguk seraya tersenyum lembut.

Mungkin saja Sang Guru bisa mengerahkan kesaktian dan menghidupkan kembali anak yang telah mati itu, tetapi kalau pun bisa demikian, apa hikmahnya? Bukankah anak tersebut suatu hari akan mati lagi juga? Alih-alih berbuat demikian Sang Guru membuat perempuan yang tengah berduka itu mengalami pembelajaran langsung dan menyadari suatu kenyataan hidup yang tak terelakkan bagi siapa pun: siapa yang tak mati?

Penghiburan sementara belaka bukanlah solusi sejati terhadap peristiwa dukacita mendalam seperti dalam cerita di atas. Penderitaan hanya benar-benar bisa diatasi dengan pengertian yang benar akan dua hal: (1) kenyataan hidup sebagaimana adanya, bukan sebagaimana maunya kita, dan (2) bahwasanya pada dasarnya penderitaan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang bersumber dari dalam diri kita sendiri.

Allah adalah Allah orang hidup. Allah perduli dengan hidup kita. Karena itu kebahagiaan di dunia ini juga perlu, sehingga kita dapat mengalami secara nyata kasih Allah.  Kebahagiaan sekarang ini menjadi gambaran kebahagiaan di surga, yang akan disempurnakan Tuhan, kelak. Tetapi kebahagiaan yang kita terima ini, bukan kita terima untuk diri kita sendiri saja. Kita adalah saksi dan utusan Allah untuk mewartakan bahwa Allah itu perduli pada hidup kita sekarang ini.

Karena itu kita dipanggil dan diutus untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa Allah juga perduli kepada mereka. Bukan hanya dengan kata-kata, tetapi lebih-lebih dengan tindakan kita yang rela berbagi kebahagiaan dengan mereka, lebih-lebih yang kekurangan dan menderita.

Semoga kita hari ini berjalan maju dengan mantap, Allah beserta kita. Ia mendampingi dan memimbing kita menuju kehidupan yang lebih baik, sekarang ini dan nanti pada saat kita hidup bahagia bersama Dia selamanya. AMIN.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: