Tugas Kita Hanyalah Menerima Mujizat Tuhan, Percaya Saja!

PENGALAMAN akan kuasa penyembuhan Yesus oleh Yairus dan perempuan yang sakit pendarahan itu adalah pengalaman iman: harapan dan percaya. Ibu yang kena haid tanpa henti, ia menjadi orang najis karena darah yang keluar itu. Artinya ia tidak dapat berdoa dan tidak boleh bersentuhan dengan orang lain. Jadi ia sakit secara fisik, tapi juga terbuang secara […]

PENGALAMAN akan kuasa penyembuhan Yesus oleh Yairus dan perempuan yang sakit pendarahan itu adalah pengalaman iman: harapan dan percaya. Ibu yang kena haid tanpa henti, ia menjadi orang najis karena darah yang keluar itu. Artinya ia tidak dapat berdoa dan tidak boleh bersentuhan dengan orang lain. Jadi ia sakit secara fisik, tapi juga terbuang secara sosial dan iman. Uang habis, hati menderita dan merasa putus asa.

Bayangkan pergulatannya waktu memutuskan akan mencoba menemui Yesus. Ia sudah 12 tahun hidup tersingkir dari orang lain. Ia takut dan tidak biasa bicara dengan orang. Ia terikat oleh belenggu adat istiadat dan terkurung dalam penjara ketakutan. Maka ia memutuskan untuk mematahkan belenggu dan keluar dari kurungan keputus asaannya dan ia hanya berani menyentuh ujung jubah Yesus, penuh harapan, karena ini satu-satunya kesempatannya. Dan ia sembuh!

Mujizat yang terjadi bukan hanya dia sembuh dari penyakitnya, tapi bahwa ia dibebaskan dari segala belenggu yang membatasi hidupnya. Kuasa Yesus melampaui batasan adat, ketakutan dan keputusasaannya.

Yairus, kepala rumah ibadat adalah tokoh agama penting di Kaparnaum. Anaknya yang sakit, tentu sudah diusahakan pengobatan dengan berbagai cara. Tetapi keadaannya tambah kritis. Tanpa malu ia menemui Yesus dan bersujud menyembahNya.

Tentu Yairus berharap agar Yesus segera pergi ke rumahnya untuk menyembuhkan anak perempuannya. Tetapi Yesus nampaknya tidak tergesa-gesa berangkat. Ada banyak orang yang mengikuti Yesus. Dan sebagaimana biasa pada waktu itu, para rabbi, guru agama waktu itu, tidak mengajar di kelas, tetapi di tempat-tempat umum dan melayani orang-orang yang datang untuk minta nasihat atau punya pertanyaan.

Jadi bisa diandaikan Yesus berjalan perlahan-lahan sambil bicara kepada orang-orang yang mengikuti Dia. Ketegangan Yairus semakin bertambah waktu Yesus sibuk mencari siapa yang menyentuh Dia dan menjadi sembuh. Kecemasannya memuncak menjadi keputusasaan ketika orang datang dan memberi kabar anaknya sudah meninggal.

Yesus berkata: “Jangan takut, percaya saja.” Jika Yairus dikuasai oleh keputusasaannya, ia dapat menumpahkan semua kecemasan dan kekecewaannya bahwa Yesus tidak mau cepat-cepat ke rumahnya. Ia dapat lari pulang atau menyuruh Yesus pergi; tidak ada gunanya lagi. Tetapi Yairus mengatasi keputusasaannya dan terus berjalan bersama Yesus. Kemudian, Yesus menunjukkan kuasaNya, membangkitkan anak perempuan Yairus. Kuasa Tuhan Yesus melampaui kecemasan, keputus asaan dan kematian.

Kesimpulan umum, percaya saja kepada Yesus. Semua akan jadi beres. Dalam kenyataan hidup, seringkali peristiwanya tidak terjadi sesederhana ini. Seringkali beban hidup itu berkepanjangan, seakan tanpa akhir dan terkadang hasil akhirnya tidak seperti yang kita harapkan. Banyak kali yang paling sulit adalah tetap berusaha dan mencoba keluar dari batas-batas hambatan kita. Sering kita berkeras bahwa kesulitan kita harus selesai dengan cara dan bentuk begini/begitu.

Sepasang suami-istri menunggu kelahiran anak mereka selama 9 tahun. 9 tahun mereka berdoa, mengunjungi banyak dokter, menjalani berbagai pemeriksaan medis yang menghabiskan banyak uang. Semua usaha itu tidak memberi hasil. Mereka berbagi kesedihan dan air mata dengan teman-teman mereka. Pada saat mereka menyerah dan tidak lagi mengusahakan berbagai pengobatan, suatu pagi si istri membangunkan suaminya. Ia menunjukkan alat tes kehamilan.

Dengan suara bergetar dan air mata ia berkata: “Ada dua baris biru. Artinya kamu jadi bapak.” Mereka tidak pernah melihat dua baris biru itu sebelumnya. Setiap kali diperiksa, selama 9 tahun ini, selalu hanya ada satu baris saja. Selama 9 tahun mereka menangisi kosongnya rahim si istri dan dalam sekejap, di pagi yang indah itu, tawa mereka menghapus semua air mata itu. Saat pembaptisan bayi itu merupakan perayaan iman. Mukjijad masih terjadi.

Pasti ada banyak orang tua yang berdoa untuk mendapat anak; mungkin lebih dari 9 tahun. Ada 3 hal yang dapat dipelajari daripengalaman pasangan itu.

1. Jangan hilang harapan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan.
2. Lakukan apa yang dapat anda lakukan.
Agar secara fisik dapat istirahat, suami-istri itu mengurangi pekerjaan mereka. Istrinya menjalani operasi myom di saluran telurnya. Dan yang utama, usaha mereka adalah menyerah total kepada Allah.
3. Biarkan Tuhan memberi surprise kepada anda.

Tugas kita menerima
Ada pasangan lain yang berdoa untuk mendapat anak. Kepada mereka, Tuhan memberi kejutan dalam mujizat adopsi. Mengangkat anak merupakan suatu ungkapan cinta yang terbesar di dunia. Menerima orang yang asing sama sekali dan menjadikan dia darah-dagingmu sendiri! Mungkin anda tidak mohon anak.

Mungkin Anda mohon penyembuhan, pekerjaan, menikah, atau entah apa yang lain. Tapi 3 nasihat itu tetap berlaku: jangan menyerah, lakukan apa yang dapat anda lakukan dan biarkan Tuhan memberi surprise. Tugas kita adalah menerima MujizatNya yang terbaik dalam hidup kita.

Perempuan yang sakit leleh darah dan Yairus memberi kita teladan iman. Mereka keluar dari kungkungan keputus asaan dan belenggu adat. Jika Tuhan menyelesaikan masalah kita, kita lebih percaya akan KuasaNya. Tetapi jika Tuhan belum memecahkan masalah kita, Tuhan percaya akan kemampuan kita. Jika kita mendoakan orang lain, Tuhan mendengarkan dan memberkati orang itu.

Jika kita merasa nyaman dan bahagia, ingat lah juga, ada orang lain yang mendoakan kita. Jadi, berharaplah terus pada mukjijad. Jangan menyerah. Lakukan apa yang dapat kita lakukan, karena Tuhan juga percaya pada kemampuan kita. Biarkan Tuhan memberi kita surprise. Kita tidak sendirian. Ada banyak orang yang mendoakan kita juga. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply