Traveling Mendebarkan: Saktinya Calling Visa (4)

visa-application

VISA Schengen Nia ke salah satu negara di Eropa Barat ditolak lantaran kurang dana tersedia di saldo tabungannya. Penolakan baru diketahui hari Kamis (9/7) pekan lalu, padahal hari Selasa (14/7) pagi Nia semestinya sudah bisa terbang meninggalkan Jakarta menuju Dubai dan langsung ke salah satu negara di Eropa Barat.

Bingung, sedih, dan tidak tahu berbuat apa-apa menghadapi keputusan pahit tidak berhasil mendapatkan Visa Schengen tersebut. Berarti, rencana kepergian Nia bersama keluarga besarnya berlibur selama 10 hari ke Eropa Barat batal karena tak berhasil mengantongi visa.

Di tengah kebingungan dan frustrasi mendadak tersebut, tiba-tiba teringatlah Nia dan keluarga besarnya akan orang penting di salah satu Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di salah satu negara di Eropa Barat. Setelah melalui jalur ‘diplomasi kekeluargaan’, akhirnya Nia berkat bantuan sejumlah teman dekat berhasil mengontak bagian konsuler di KBRI di sebuah negara di Eropa Barat untuk bisa mengeluarkan apa yang biasa disebut “Calling Visa”.

 “Surat Sakti”

Calling Visa pada dasarnya seperti ‘surat sakti’ yang dikeluarkan KBRI untuk membantu para pemohon visa agar bisa mendapatkannya melalui jalur ‘cepat’. Calling visa ini tidak bisa diberikan secara publik, karena biasanya hanya dikeluarkan untuk para pejabat pemerintahan/negara yang ingin mendapatkan jalur ‘cepat’ bisa mendapatkan visa menuju negara yang ingin menjadi tujuan destinasinya.

Karena calling visa dikeluarkan KBRI, maka dengan sendiri para pemegang calling visa bisa melakukan permohonan visa melalui Kedubes negara sahabat di Jakarta secara langsung; tidak melalui kantor biro jasa yang dipilih negara tersebut. Hasilnya pun juga sangat cepat: 1-2 hari biasanya visa sudah bisa didapat.

Saya pribadi pernah mendapatkan Valling Visa ini dari sebuah KBRI di Eropa Barat. Waktu itu, sebenarnya kebutuhan mendapatkan Calling Visa ini juga tidak sangat urgen. Itu karena semua persyaratan administratif untuk mendapatkan Visa Schengen sudah kami penuhi, termasuk hal krusial: saldo tabungan mesti dianggap mencukupi untuk melakukan perjalanan wisata ke luar negeri selama kurun waktu yang direncanakan.

Belum lagi, kami juga sudah mendapatkan semacam surat “undangan” dari sponsor kami di luar negeri. Namun, dasar orang Indonesia sering suka menggunakan jalur ‘KKN’, maka kami pun juga mendapatkan Calling Visa dari rekan dekat yang bekerja di salah satu negara di Eropa Barat.

Hasilnya maksimal: Visa Schengen pun keluar sebagaimana yang kami harapkan.

Nah, Nia pun berhasil mendapatkan Calling Visa dalam hitungan jam. Salah satu kerabatnya segera mengontak Kedubes RI di negeri sana dan karena hubungan baik, maka Calling Visa pun dikeluarkan dalam waktu singkat.

Kamis tanggal 9 Juli 2015 lalu, Visa Schengen Nia ditolak. Hari Jumat siang tanggal 10 Juli, Calling Visa berhasil didapatkan melalui kiriman email dan kemudian dicetak. Jumat petang, Nia mengajukan Visa Schengen lagi dengan status harap-harap cemas dan super deg-degan karena Sabtu-Minggu proses visa pasti tidak bisa diproses.

Belum lagi, ketika mengajukan aplikasi Visa Schengen itu pun, oleh pihak konsuler juga tidak memberi janji apa pun: apakah visa bisa keluar atau tidak.

Senin tanggal 13 Juli 2015, belum ada petunjuk kalau Visa Schengen Nia keluar. Padahal Selasa pagi, rombongan sudah harus ke Bandara Soekarno-Hatta untuk kemudian terbang menuju Dubai.

Sepanjang hari Senin, Nia pusing tujuh keliling lantaran belum ada kejelasan bisa mendapatkan Visa Schengen apa tidak. Ternyata, Selasa menjelang siang, Visa Schengen yang diharapkan akhirnya dia dapatkan.

Selasa malam tanggal 14 Mei 2015 ini, maka Nia pun siap berangkat menuju salah satu kota besar di Eropa.

Mukjizat wisata mendebarkan akhirnya terjadi berkat adanya surat ‘sakti’ bernama Calling Visa.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply