Traveling Mendebarkan: Pergi-Pulang Selamat bersama Garuda Indonesia (6)

0
26

Tembok Besar China barisan kerumunan manusia email ok

PANIK bercampur sedih dan tentu saja bingung plus pening tujuh keliling. Barangkali rentetan kata-kata beraroma negatif itulah yang bisa merangkum perasaan terdalam Vero, teman anggota rombongan wisata mandiri kami ke Shanghai dan Beijing, Tiongkok, awal Agustus tahun 2013 lalu.

Waktu di Bandara Internasional Soekarno-Hatta telah merujuk pada pukul 20.30-an WIB. Kami bertiga beringsut meninggalkan rombongan keluarga pengantar dan segera memasuki areal check-in dan langsung berjalan menuju konter Garuda Indonesia. Wajah-wajah ceria menghiasi roman muka kami semua karena sebentar lagi bisa menikmati indahnya The Bund di jantung kota Shanghai.

Namun, hanya 2,5 jam jam sebelum penerbangan langsung dari Soekarno-Hatta menuju Bandara Internasional Pudong di Shanghai, barulah diketahui bahwa salah satu tiket anggota rombongan wisata mandiri kami ternyata mengalami masalah serius. Tiketnya dinyatakan tidak berlaku lagi alias nama penumpang dengan kode booking tertentu itu dinyatakan ‘hangus’. (Baca juga: Traveling Mendebarkan: Tiga Hari Sebelum Berangkat, Baru Tahu Visa Ditolak (1)

Campur aduk perasaan kami bertiga, terlebih rekan Vero –nama calon penumpang Garuda Indonesia—yang nama dan kode booking tiketnya menunjukkan gejala anomali. Mesin di konter menunjukkan pesan, bahwa nama dan kode booking tiket tersebut berstatus: sudah dibatalkan.

Itu berarti, dengan tiket di tangannya Vero tetap tidak bisa terbang menuju Shanghai dan berikutnya ke Beijing, kota impian yang ingin dia kunjungi lantaran pesona bangunan historisnya yang telah menjadi ikon Negeri Panda: Kota Terlarang dan Tembok Besar. (Baca juga:  Traveling Mendebarkan: Tengah Malam Naik Bus di Toulouse Menuju Pau (5)

Salah nama
Usut punya usut, ternyata anomali itu terjadi karena dua pekan sebelumnya saya melakukan konfirmasi ulang bahwa tiket atas nama Vero itu sebaiknya ‘diganti’ dengan tiket baru. Usulan tersebut saya katakan kepada konter virtual Garuda Indonesia melalui call center karena telah terjadi ‘salah nama’ di tiket Vero yang tidak sesuai dengan nama yang tertera dan tertulis di paspor.

Di paspor Vero resmi tertulis tiga suku kata yang menjadi nama lengkapnya. Sementara, tiket Garuda Indonesia dengan rute penerbangan Jakarta-Shanghai dan Beijing-Jakarta hanya mencantumkan dua suku kata saja, sedangkan satu kata lainnya malah tidak tercantum di tiketnya.

Ide agar tiket lama ‘dibatalkan’ dan kemudian diterbitkan tiket baru atas nama sama dengan konsekuensi kode booking juga berubah kami usulkan jauh-jauh hari. Masalahnya, telah terjadi perbedaan penulisan nama di tiket dan paspor. Supaya nanti tidak mendatangkan masalah saat melakukan check in di bandara, maka usulan itu kami sampaikan melalui telepon dan email kepada call center Garuda Indonesia. (Baca juga: Traveling Mendebarkan: Saktinya Calling Visa (4)

Sampai hari keberangkatan, status tiket Vero juga belum jelas. Kami tidak menerima notifikasi melalui email tentang pembatalan tiket dan juga belum menerima email tentang terbitnya tiket baru dengan kode booking baru atas nama Vero. Artinya, kami pun nekad ke bandara masih dengan membawa tiket ‘bermasalah’ tersebut.

Benar saja, sesampai di konter Garuda Indonesia, tiket Vero dinyatakan ‘batal’. Singkat kata, setelah melalui negosiasi panjang dan melelahkan namun berkat bantuan dan kebaikan manajemen Garuda Indonesia, akhirnya tiket Vero dinyatakan valid kembali setelah kami berhasil menunjukkan bukti transfer pembayaran secara elektronik.

Maka jadilah Vero bisa berangkat menuju Shanghai bersama kami. Rasa pedih, haru, dan bahagia membuncah bungah di hati terdalam Vero, begitu berhasil mendapatkan boarding pass-nya untuk melakukan penerbangan perdana menuju Tiongkok melalui jalur pendaratan di Bandara Internasional Pudong Shanghai.

The Bund of Shanghai
The Bund of Shanghai, kawasan wisata tepi sungai di jantung kota Shanghai saat tengah malam. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Perwakilan Garuda Indonesia di Beijing
Mendarat dengan sempurna di Shanghai dan setelah kurang lebih lima hari di kota mode dan bisnis ini, kami lalu meneruskan perjalanan lanjutan dengan kereta super cepat menuju Beijing. Perjalanaan dari Shanghai menuju Beijing berjalan lancar dan kami tiba dengan selamat di Stasiun Sentral Beijing. Meski sedikit tegang mencari lokasi penginapan karena terbatasnya peta, namun kami toh berhasil  menemukan lokasi penginapan kami yang lokasinya tak jauh dari Tiananmen.

Kelancara itu semua tetap saja tak berhasil menyurutkan gelombang perasaan gundah kami bertiga menjalani sisa-sisa hari di Ibukota Tiongkok. Pasalnya, di dalam perasaan kami terdalam masih menyisakan pertanyaan: apakah tiket return Vero yang masih mencantumkan dua suku kata  nantinya dianggap berlaku valid saat melakukan check in di Bandara Internasional Beijing Capital?

Patung Sang Buddha ketawa di Hongzhou. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Hantu tak berwujud yang selalu ‘meneror’ hari-hari kami di Beijing adalah satu pertanyaan apakah bisa pulang dengan selamat dari Beijing menuju kembali ke Jakarta apa tidak. Kalau proses check in bermasalah dan Vero akhirnya tertahan di Beijing sementara kami berdua pulang, maka tidak ada jalan lain kecuali Vero harus memperpanjang waktu wisatanya di Beijing dan membeli tiket baru.

Kemungkinan terburuk sudah terbayang di depan mata. Namun, untunglah komunikasi elektronik kami dengan staf internal Garuda Indonesia, baik di kantor pusat di Jakarta maupun kantor perwakilannya di Beijing berjalan sangat lancar.

Sekali waktu, kami akhirnya mendapatkan konfirmasi sangat meyakinkan dari pihak Kantor Perwakilan Garuda Indonesia di Beijing melalui Ms. Irene Li bahwa tiket kepulangan Vero dinyatakan valid. Ia meyakinkan kami bahwa tidak perlu khawatir melakukan proses check in di konter Garuda Indonesia di Bandara Internasional Beijing.

Memburu waktu
Tibalah waktunya kami harus meninggalkan penginapan kami di Beijing pada waktu pagi-pagi buta. Kami bangun pagi sekali, jauh sebelum fajar tiba kira-kira pukul 03.00 dinihari waktu setempat. Kami harus menghitung waktu perjalanan dengan KA dari Tiananmen menuju Bandara Beijing Capital dan sudah harus tiba di bandara sebelum pukul 07.00 waktu Beijing, karena jadwal penerbangan pulang kami pada pukul 08.55.

Yang menjadikan perasaan kami berat adalah mulai pukul berapa jaringan kereta api komuter di Beijing sudah beroperasi? Legalah kami, ketika mendapatkan konfirmasi dari pihak hotel bahwa Stasiun KA di Tiananmen sudah buka mulai pukul 04.00 dinihari dan tak lama kemudian kereta komuter pun juga sudah mulai beroperasi.

Namun, kaki-kaki ini terasa berat berjalan meninggalkan hotel di jantung kota Beijing menuju Stasiun KA di kawasan Tiananmen. Antara ngantuk, rasa cemas, dan sedikit tergesa-gesa menggunung di lambung kami yang masih kosong karena tidak sempat sarapan sebelumnya.

Belum lagi kami harus berjalan menyusuri gang-gang sempit di kampung kota di Beijing yang sungguh tidak biasa; apalagi hari pun juga masih begitu gelap dan sepi dari kerumunan orang. Sementara, kami bertiga –satu pria dan dua orang ibu muda—dengan nafas tergopoh-gopoh mesti harus menarik bagasi kami sembari menyusuri lorong-lorong sempit di Ibukota Beijing. Antara yakin dan takut tidak ada batas yang jelas.

Yang pasti, di hati kami bertiga diwarnai sedikit kecemasan atas dua hal. Satu, jangan sampai dicegat preman dan harus menyerahkan uang dan paspor. Kedua, jangan sampai terjadi semua akses terdekat menuju Stasiun KA di Tiananmen masih ditutup portal atau palang karena hari masih terlalu pagi.

Untunglah, kami sampai di stasiun terdekat ketika portal utama Stasiun Tiananmen baru saja dibuka pada pukul 04.00 waktu Beijing. Dengan menyeret tiga buah koper bersama sejumlah ransel dan barang bawaan untuk oleh-oleh, kami turun menyururi lorong stasiun itu yang letaknya sedikit jauh di bawah tanah. Terasa berat nian tangan ini membawa barang bawaan ditambah rasa was-was jangan-jangan kami akan datang terlambat di Bandara Internasional Beijing Capital.

Vero yang tiketnya mengalami sedikit ‘masalah’ mengalami degup jantungnya lebih kencang berdetak. Namun, sebagai perempuan yang sudah terbiasa ‘menyimpan segala sesuatu di hatinya’, ia sengaja tidak menunjukkan kesan mengalami kepanikan secara demonstratif.

Sebagai lelaki satu-satunya dan pemimpin rombongan wisata mandiri ini, saya juga tak kuasa mampu menyembunyikan kegelisahan dan kecemasan. Di pagi-pagi yang masih gelap itu, keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhku. Belum lagi rasa lapar juga sudah menyergap pucuk lambung kami.

Perasaan sedikit lega terjadi, setelah kami bertiga berhasil naik kereta komuter menuju titik pemberhentian untuk kemudian melanjutkan dengan kereta khusus menuju Bandara Beijing Capital.

Untunglah, di pagi-pagi yang masih buta itu jumlah penumpang menuju Bandara Beijing tidak terlalu banyak. Dalam perjalanan sepanjang hampir satu jam itu, kami bisa duduk tenang, sembari sesekali melirik jam karena mencemaskan jangan-jangan waktu kedatangan kereta api khusus ini terlambat atau mengalami kendala di jalanan.

Dag-dig-dug di Bandara Beijing
Akhirnya tibalah kami bertiga di Bandara Internasional Beijing Capital dan langsung menuju konter Garuda Indonesia. Vero yang punya tiket ‘bermasalah’ sengaja kami taruh di urutan terakhir dalam proses check in. Ini sengaja saya atur begitu agar kalau terjadi sesuatu dengan penerbangan Vero dari Beijing menuju Jakarta, maka kedua tiket kami yang sudah berstatus oke semoga bisa membantu proses administratif tiketnya yang kami anggap bermasalah.

Tiket kami berdua berhasil mendapatkan boarding pass. Tiba giliran Vero harus menyerahkan tiket dan paspornya. Ia tidak berani melakukannya sendiri, melainkan saya sebagai pimpinan rombongan menyerahkan kedua dokumen perjalanan ini.

Berdegup kencang jantungku. Ini adalah tanah Tiongkok. Pastilah kalau terjadi sesuatu dengan tiket Vero, maka proses negosiasi tidak bisa kami lakukan karena kendala bahasa. Sesekali longokan pandangan mata gadis China yang menjadi penjaga konter itu menusuk jatidiriku yang tengah dirundung cemas dan gagap.

Ternyata, tatapan mata gadis-gadis rupawan Beijing itu sekedar melakukan proses identifikasi tiket dan paspor. Dan akhirnya, boarding pass untuk Vero pun keluar juga.
Haru, lega dan senang langsung menggelayuti perasaan kami bertiga. Akhirnya kami bisa pulang ‘selamat’ menuju Jakarta setelah 10 hari melintas batas di beberapa kota di Tiongkok.

Namun, sedikit tegang masih mewarnai perjalanan kami selanjutnya. Sudah hampir sejam lebih kami telah berada di dalam perut pesawat Garuda Indonesia, namun ternyata belum juga burung besi flag carrier Indonesia ini boleh meninggalkan landasan pacu di Beijing. Waktu itu, hujan deras tiba-tiba mengguyur bandara dan konon ada badai besar menyapu kawasan Beijing hingga otoritas penerbangan menyatakan penerbangan harus ditunda dan diundur atas alasan keselamatan penerbangan.

Kurang lebih sejam kemudian, barulah tanda-tanda akan terbang mulai kelihatan ketika pramugari dan pramugara Garuda Indonesia mempersilahkan kami mengikatkan sabut pengaman sebelum dilakukan airborne.

Sejurus kemudian, terbanglah Garuda Indonesia meninggalkan landas pacu di Bandara Internasional Beijing Capitaal dan mengarungi kawasan udara Tiongkok menuju destinasi terakhir: Bandara Soekarho-Hatta di Cengkareng, Tangerang, Provinsi Banten.

Hikmah besar
10 hari perjalanan wisata mandiri ke Tiongkok bersama Garuda Indonesia membawa hikmah besar bagi kami bertiga. Berlakulah sangat teliti saat membeli tiket secara online dan harus benar-tepat menuliskan nama sesuai yang tertera dalam paspor. Kami sebenarnya melakukan prosedur protokoler dasar itu  saat melakukan proses pembelian secara online melalui situs resmi Garuda Indonesia. Kami sudah melakukannya dengan tepat dan teliti, namun keraguan kami sendirilah yang membuat perjalanan wisata terbang bersama Garuda Indonesia dari Jakarta-Shanghai dan Beijing-Jakarta ini menjadi tegang dan mendera kami dengan perasaan was-was.

Terlepas dari itu semua, kami harus mengakui bahwa pelayanan Garuda Indonesia melalui call center baik di Jakarta maupun di Beijing telah menunjukkan kinerjanya yang sangat profesional dan andal. Selain memberikan ketenangan dan kejelasan duduk perkaranya, petugas layanan servis juga menunjukkan semangat pelayanannya yang maksimal kepada calon penumpangnya.

Saya kira tiga hal ini yakni kepedulian terhadap calon penumpang, kesediaan untuk membantu, kecepatan menyampaikan kejelasan inilah yang kini membuat Garuda Indonesia semakin maju, profesional dan makin dicintai para pelancong pengguna moda transportasi udara.

Jayalah Garuda Indonesia.

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here