Traveling Mendebarkan: Melawan Dingin di Kolong Stasiun Lourdes (7)

gerbang loudes salib

MEDIO  Maret 2011, hawa super dingin terutama saat malam dan dinihari masih begitu terasa di daratan Eropa Barat. Berada di atas ketinggian daratan tak jauh dari jalinan Pegunungan Pyrenea di Perancis Barat Daya pada musim winter seperti itu sungguh tak terlalu menyenangkan. Umumnya, pada saat winter –terutama pada malam hari dan tentunya juga pada dinihari—orang lebih suka diam di dalam rumah ditemani hawa hangat embusan dari heater. (Baca juga:  Traveling Mendebarkan: Pergi-Pulang Selamat bersama Garuda Indonesia (6)

Namun, justru pada suhu super dingin menjelang dinihari di kawasan jalur Pegunungan Pyrennea itulah, kami berempat ‘terdampar’ di luar rumah/gedung. Bus yang membawa kami dari Toulouse menuju Pau akhirnya menurunkan kami –empat penumpang dari Indonesia—di tepi jalan tak jauh dari Stasiun Kereta Api Lourdes.

Lelah dan ngantuk serentak hilang, begitu kami mendarat di destinasi wisata rohani kami: Lourdes. Namun, berada di luar gedung saat winter, dinihari, dan di tengah hembusan angin super dingin dari Pegunungan Pyrenea, itu jelas sangat tidak menyenangkan. Hanya karena motivasi ziarah rohani kami begitu kental, maka halangan cuaca dan hawa dingin seakan tidak terlalu menjadi masalah besar bagi kami berempat: wisatawan Indonesian terdiri tiga perempuan dan satu pria.

Tiada orang
Memasuki halaman Stasiun KA Lourdes saat jam menunjukkan pukul 02.15 serasa memasuki rumah orang tanpa perlu permisi. Pada waktu dinihari itu, di seluruh kawasan stasiun itu benar-benar sepi. Tak ada seorang pun di situ, selain kami berempat: peserta wisata mandiri yang telah menempuh perjalanan panjang selama 1,5 hari dari Roma-Ventimiglia-Nice-Cannes-Lyons-Marseille-Toulouse dan akhirnya sampailah kami di Lourdes.

Sepi nyenyet sebenarnya juga tidak menjadi masalah berat bagi kami. Yang membuat kami cemas justru hawa dingin lengkap dengan embusan angin pegunungan yang super dingin inilah yang mendera perasaan: jangan sampai kami sakit karena hawa dingin. Sebenarnya, ini adalah pengalaman kedua bagi saya yakni tiba di Lourdes dengan wisata mandiri memakai KA dari Nice hingga kemudian tiba di Lourdes menjelang dinihari.

Pengalaman terdampar di Stasiun Lourdes saat winter dinihari pada tahun 1999 jauh lebih menguntungkan dibanding pengalaman terakhir tahun 2011. Saat di tahun 1999 itu, kompleks Stasiun KA Lourdes masih sangat sederhana; tidak banyak sekat sehingga orang bebas keluar-masuk peron dalam. Karenanya, saya juga bisa masuk ke dalam peron stasiun dan kepada petugas saya minta izin boleh ’memanaskan diri’ di sebuah ‘gerbong’ berupa kontainer kosong bersama beberapa peziarah lain.

Selama hampir tiga jam, kami boleh merasakan kehangatan di dalam sebuah kontainer. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 05.30 waktu Lourdes, saya bersama teman perempuan dari Emirates Airlines Jakarta memberanikan diri keluar dan pergi mencari makan. Maklum, perjalanan panjang dari Nice-Lyons-Marseille-Toulouse-Lourdes sejak siang hingga dinihari itu, perut kami tidak banyak terisi makan-minum.
Untunglah jauh di ujung gang menuju Lourdes, ada sebuah kafe Italia yang sudah buka. Hanya kami berdua memasuki kafe itu dan hanya kopi dan pasta yang bisa kami pesan untuk makan-minum.

Maret 2011, juga di Stasiun KA Lourdes, suasananya sudah sangat berbeda.

Seluruh kawasan stasiun ini sudah sangat rapi dan menjadi lebih ‘wah’. Namun semua aksesnya sudah dipagar dan diberi pintu. Saat winter dinihari di bulan Maret itu, seluruh pintu menuju stasiun dan peron masih terkunci rapat-rapat.

lourdes taman
Gereja di Lourdes difoto dari sudut pengambilan di taman saat musin dingin, Maret 2011. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Tinggal di kolong peron
Hawa dingin dan embusan angin yang super dingin memaksa kami ‘mengungsi’ ke kolong stasiun. Untunglah, waktu itu beberapa akses kolong menuju peron-peron yang berbeda-beda itu tidak terkunci. Maka, sekali lagi –sama seperti di Ventimiglia—kami hanya bisa nglesot membenamkan tubuh kami yang super lelah di lantai kolong stasiun ini.

Hawa dingin membuat kami tidak bisa istirahat dan apalagi tidur. Sejumlah baju bawaan kami keluarkan dari koper untuk alas tubuh kami, karena praktis tubuh kami bersentuhan langsung dengan ubin lantai. Bisa dibayangkan, saat musim dingin lantai marmer atau ubin tegel akan menjadi lebih nyes karena sifatnya yang mampu menyimpan dingin.

Selain didera rasa takut kalau-kalau terjadi sesuatu pada kami di kolong stasiun saat winter dinihari di Stasiun KA Lourdes ini, perasaan kami juga campur aduk oleh kebutuhan ‘fisik’ lainnya yakni dimana kami bisa buang air dan BAB. Semua lorong sudut saya cek, tidak ada akses bisa masuk toilet. Tidak ada pilihan lain, kecuali ngampet pipis hingga waktu menunjukkan pukul 05.30 waktu setempat ketika peron mulai dibuka petugas dan kami bisa masuk untuk sekedar ‘nunut’ pipis saja. Awalnya begitu, namun kemudian kami pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mandi pagi dengan air hangat.

gare-lourdes_jpg
Wajah depan Stasiun Kereta Api di Lourdes, Perancis Selatan. (Ist)

Ketika hari sudah mulai pagi, kami berempat akhirnya lega meninggalkan Stasiun KA Lourdes menuju La Grotte, tempat dimana dulu Santa Bernadette Soubirous mengalami beberapa kali penampakan Bunda Maria. Sebelum meninggalkan stasiun, kami berempat menyempatkan diri mandi hangat di toilet stasiun sebelum akhirnya kami bisa makan pagi di sebuah resto Italia tak jauh dari lintasan sungai di depan pintu gerbang kompleks peziarahan di Lourdes.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply