Trabas Tanpa Batas OMK St. Don Bosco Paroki St. Yoseph Sidareja

0
22

11011273_487128674783973_994294309597494128_n

Trabas Tanpa Batas OMK St. Don Bosco Paroki St. Yoseph Sidareja
Pada tanggal 21-22 Juli 2015, sebanyak 33 Orang Muda Katolik dan 6 pendamping mengadakan kegiatan di Paroki St. Yoseph Sidareja dan Bukit Kedungborang, Kecamatan Kawunganten. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menindaklanjuti PDYD yang baru saja mereka laksanakan di Keuskupan Purwokerto. Rm. Christy membatasi jumlah peserta maksimal 35 peserta, dengan maksud agar mudah untuk mengenal dan berdinamika. Dibandingkan, jumlah peserta banyak namun tidak mendapatkan goal dari kegiatan ini. Syukur kepada Allah bahwa 33 orang muda datang. 2 di antara peserta datang dari Paroki St. Agustinus Purbalingga dan Paroki St. Theresia Majenang. Mereka berkumpul pada hari Selasa, 21 Juli 2015, pada jam 15.00. Rm. Christy mengajak mereka untuk kerja bakti membersihkan Gereja, antara lain rumah bekas BP milik Paroki St. Yoseph yang akan dipakai mereka untuk tidur, aula paroki untuk berdinamika, dan halaman gereja serta Goa Maria Sirlomsid. Maksud dari kegiatan kerja bakti adalah membangun kesadaran memiliki gereja sebagai tempat berkumpul dan berdoa. Selain itu, mereka membantu para romo yang tinggal di situ untuk membersihkan halaman gereja, karena tidak punya koster gereja. Mereka sangat bersemangat bekerjabakti bersama-sama. Mereka kerja bakti sampai jam 16.30. Ada waktu 30 menit untuk beristirahat sembari menikmati snack yang mereka bawa. Semangat makan bersama (EKARISTI) dengan membawa snack dari rumah masing-masih terinspirasi dari pengalaman 5 roti dan 2 ikan. Semua snack dikumpulkan kemudian dinikmati bersama. Dengan membawa snack setiap anak, panitia tidak mengeluarkan banyak biaya untuk pengeluaran. Kegiatan ini direncanakan oleh Rm. Christy dan beberapa OMK dalam waktu kurang lebih 1 bulan. Selain mereka berdinamika di gereja, Rm. Christy mengajak mereka untuk berdinamika di alam terbuka, Bukit Kedungborang Kawunganten. Ide dasar dari kegiatan di Bukit Kedungborang Kawunganten adalah kegemaran Rm. Christy bersama Felix (aktivis Paroki St. Yoseph Sidareja, pemilik Merpati Motor Sidareja) ke bukit-bukit di sekitar Sidareja. Mereka berdua menemuka tempat bagus untuk menikmati alam dan beristirahat. Dari obrolan sederhana di pondok milik Pak Sandirin (pemilik 1500 kebun jeruk seluar 4 hektar di Kedungborang), mereka berdua tercetur rencana membawa OMK ke Bukit Kedungborang. Setelah mendapat izin dari Pak Sandiri yang adalah orang Muslim, Mereka berdua merencanakan secara matang tanpa memberitahu OMK. Sebelum kegiatan, Rm. Christy baru mengajak mereka rapat bersama dan mengajak ke Bukit Kedungborang. Rencana awal, OMK akan kemping di Bukit Kedungborang. Namun pendamping OMK tidak setuju, mengingat resiko yang tidak diinginkan. Agar kegiatan di Kedungborang tetap berjalan, maka diadakan di 2 tempat. Sehingga OMK tetap punya wadah dan waktu untuk berkumpul. Rm. Christy melibatkan para mantan OMK yang sedang liburan kuliah untuk membantu kegiatan ini, antara lain Patrick (putra Stasi Penyarang, calon Sarjana Psikologi Soegiyopranoto, Semarang), Fr. Juhas Irawan, calon imam Keuskupan Purwokerto tingkat 4 (Putra Stasi Penyarang), Yosefa (Calon Sarjana Kesehatan), Gita (Mahasiswa Atmajaya Yogyakarta), Dimas (Pegawai swasta di Jakarta). Mereka sungguh dapat mendampingi adik-adik OMK paroki. Mereka bersharing pengalaman dulu menjadi OMK paroki. Alhasil, semangat para mantan OMK menjadi inspirasi OMK sekarang. Jam 17.00, Patrik dan Fr. Juhas memulai kegiatan dengan ice breaking, permainan, dan perkenalan. Sore itu, Paroki St. Yoseph Sidareja begitu meriah. Para OMK bebas berteriak dan tertawa. Patrik dan Fr. Juhas memberikan penyadaran bahwa OMK adalah penerus Gereja kini dan masa depan. Jangan sampai Gereja mati karena tidak ada OMK. OMK mendapat wawasan tentang serunya menjadi OMK, yaitu adanya IYD, AYD, WYD yang merupakan sarana Gereja untuk OMK. Patrik adalah aktivis muda Katolik di Semarang. Patrik menceritakan betapa serunya bisa berkegiatan di Gereja sebagai orang muda. Pengalaman para mantan OMK di luar Sidareja sungguh membakar semangat OMK Sidareja untuk bangkit. Paroki St. Yoseph Sidareja adalah salah 1 paroki di Keuskupan Purwokerto yang ditinggalkan. Orang muda meninggalkan Sidareja untuk sekolah dan bekerja. Sehingga, Paroki Sidareja tersisa orang tua dan anak-anak. Namun, Rm. Christy berjuang agar yang ada diopeni. Jam 22.30 setelah doa malam yang dipimpin Fr. Juhas, para omk yang telah dibagi 5 kelompok berkumpul untuk mempersiapkan perjalanan besok pagi ke Kedungborang. Jam 23.00, mereka beristirahat di rumah BP.

OMK In Action @ Bukit Kedungborang
Jam 2.30 dini hari (22 Juli 2015), Rm. Christy membangunkan para OMK. Para OMK harus melawan rasa ngantuk dan nyaman. Sebab, mereka harus berangkat ke Kedungborang jam 3.00 dini hari. Rm. Christy hanya memberi waktu 30 menit untuk persiapan, dengan pengandaian kemarin malam semua sudah siap. Tepat jam 3.05 dengan 2 mobil pick up milik Felix Cahyadi, 4 motor pendamping, mereka berangkat menuju Kedungborang. Perjalanan ke Kedungborang membutuhkan waktu 1 jam. Namun jika dengan motor tril hanya 20 menit. Sesampai di kaki bukit Kedungborang, Patrik memberikan pengarahanan perjalanan menuju puncak Bukit Kedungborang. Setiap kelompok diberikan peta buta. Mereka harus mengikuti jejak di jalan berupa taburan kertas yang dipotong kecil. Sebelum berangkat, Rm. Christy memimpin doa dan berkat. Jam 4.10, kelompok 1 mengawali perjalanan. Jeda antar kelompok 5 menit. Patrik mengawali perjalanan untuk menjaga dan menaburi jejak jalan. Dengan barang bawaan (wajan, panci, tempe, minyak goreng, sutil, kebutuhan pribadi), mereka berjuang bersama kelompok mengalahkan egois dan track yang membahayakan. Mereka hanya mengandalkan bekal, senter untuk penerangan, dan jejak. Rm. Christy berada paling belakang sampai kelompok terakhir berangkat. Dengan HT, Rm. Christy saling berkomunikasi dengan Patrik. Sejauh pengamatan setiap kelompok, Rm. Christy mengkhawatirkan kelompok terakhir. Sebab, kelompok terakhir hampir tersesat karena tidak menemukan jejak di jalan. Bahwa di bukit ada banyak cabang jalan membuat mereka bingung. Rm. Christy memberikan petunjuk selanjutnya agar mereka kembali ke jalan sesuai dengan peta. Rm. Christy sungguh melihat dinamika OMK selama perjalanan. Mereka konflik dan melawan ketidaknyamanan adalah pengalaman baik untuk mereka alami. Tanpa Rm. Christy dan Patrik duga, ada 3 kelompok tersesat ke bukit Cidondong. Rm. Christy dan Patrik segera memutuskan agar 3 kelompok ini bisa kembali. Rm. Christy menelpon Pak Sandirin agar dijemput. Sebab hanya Pak Sandirin yang tahu medan Bukit Kedungborang. Rm. Christy dari Bukit Kedungborang berteriak ke Bukit Cidondong agar mereka sadar dan tahu bahwa mereka tersesat. Namun sayang, teriakan Rm. Christy tidak begitu jelas didengar. Hanya senter menjadi tanda kepada mereka bahwa jalan itu salah. Puji syukur kepada Allah, Pak Sandirin menyelamatkan mereka dengan cepat. Menurut Pak Sandirin, jika mereka terus berjalan bisa menuju ke desa tetangga, yaitu Desa Citendong (kalau tidak salah). Puji Tuhan yang hanya bisa dihaturkan kepada Allah.

Misa Fajar @ Bukit Kedungborang
Setelah berkumpul di puncak Bukit Kedungborang, mereka mengadakan Ekaristi Fajar yang dipimpin Rm. Christy. Pagi itu cuaca sangat mendung. Sehingga matahari masih belum terbit. Dalam homili, Rm. Christy merefleksikan pengalaman mereka hiking dan tersesat dengan dikontekskan dengan bacaan I tentang jantung yang telah ditemukan. OMK jangan sampai kehilangan jantung hati yang adalah pusat hidup. Jika OMK kehilangan jantung hati, maka OMK akan tidak berdaya. Udara segar dan kicauan burung menjadi nyanyian kidung ekaristi fajar.

OMK menjadi BOLANG
Setelah berfoto bersama, mereka menuju ke pondok Pak Sandirin. Pak Sandirin dan ibu menyambut kami di pondok dengan wajah gembira dan senang. Rm. Christy menginstruksikan untuk masak tempe dengan kompor seadanya. Rm. Christy memberi contoh bahwa Pak Sandirin bisa hidup bertahun-tahun tanpa kompor gas, tanpa listrik, tanpa kasur. Maka, OMK pun harus bisa masak dari alam yang ada. Mereka pun bergegas mencari kayu bakar, daun bakar, mengeluarkan panci dan penggorengan untuk masak, dan apapun yang mereka bawa. Termasuk pandamping pun ikut masak dengan alat seadanya. Pak Sandirin tertawa senang melihat kami. Pak Sandirin senang dengan kehadiran kami, karena ditemani selama sehari. Sebab biasanya, mereka hanya berdua tinggal di pondok. Namanya juga anak-anak. Ibu Sandirin dimintai cabai, cobek untuk menggerus bumbu dan cabai. Kami dianggap seperti anak sendiri. Anak-anak pun menganggap Pak Sandirin dan Ibu seperti orangtua mereka. Ketika kesulitan, mereka memanggil bapak ibu Sandirin. Rm. Christy berkeliling melihat setiap kelompok dengan caranya dan berjuang agar bisa memasak sambil foto-foto. Mereka sudah membawa nasi dari paroki. Mereka hanya memasak lauknya saja. Kegiatan masak merupakan kegiatan paling berkesan bagi OMK. Dengan memasak, mereka saling berkomunikasi, berkenalan lebih dalam, saling berbagi, dan membangun persaudaraan. Setelah masak, Rm. Christy menginstruksikan cuci semua peralatan masak di sungai. Di Bukit Kedungborang ada sebuah curuk dan goa. Dari curuk itu mengalir air bersih dan mengalir. Di sana juga ada sebuah kolam yang biasa dipakai untuk mandi, pengairan para petani, dan minum. Para OMK tanpa pikir panjang langsung jebur ke kolam dan mencuci wajan panci. Jam 9.05, OMK berdinamika kelompok dengan game yang dibagi 4 pos. Para pendamping memanfaatkan lahan kebun yang luas sebagai pos. Ada 4 pos yang harus mereka lalui, antara lain: pos peta, pos berlian, pos bank, dan pos bangunan. Setiap pos ada makna yang bisa mereka petik. Game berjalan selama 1 jam 45 menit. Jam 10.30 mereka berisitrahat sambil menikmati snack yang mereka kumpulkan kemarin. Jam 11.00, mereka refleksi dari game 4 pos. ada banyak hal yang bisa dipetik dalam game. Inti dari game tadi adalah membangun kekompakan, kebersamaan, kerendahan hati, dan inisiatif setiap pribadi. Jam 11.30 – 14.00 adalah waktu mereka masak untuk makan siang, makan siang, dan istirahat siang. Ada waktu 2.5 jam untuk mereka berdinamika pribadi dan kelompok. Selain itu, kesempatan itu adalah kesempatan untuk para pendamping tidur. Sebab, Rm. Christy dan pendamping tidak tidur dari kemarin untuk mempersiapkan acara ini. Waktu yang cukup untuk menyegarkan badan. Namun sebelum tidur di bawah pohon kelapa, Rm. Christy sempat foto-foto anak-anak dengan gaya mereka. Ada yang di kolam, ada yang tidur, ada yang masak singkong untuk makan siang. Ternyata dengan alas koran, mereka bisa tidur nyenyak. Para pendamping tidur tanpa alas di bawah pohon kelapa. Alam menyediakan segala sesuatu baik adanya untuk manusia. Di situlah kami menikmati. Terimakasih Tuhan. Jam 14.00 – 15.00 adalah waktu kreatif. Mereka menampilkan hasil refleksi kegiatan sejak kemarin sore sampai makan siang dengan kekreatifan mereka. Ada kelompok menampilkan drama dan vokal grup. Sangat menarik penampilan mereka, sebab muncul dari pergulatan mereka sebagai OMK di paroki Sidareja. Patrik, Fr. Juhas, Rm. Christy memokoki refleksi mereka. Akhirnya mereka membuat sebuah semangat, niat, dan kesepakatan mau bangkit. Mereka memutuskan motto OMK, yaitu “PUSH YOUR LIMIT”. Jam 17.16, Rm. Christy mewakili OMK dan Pendamping untuk pamit kepada Pak Sandirin. Pak Sandirin memberikan nasihat penting untuk OMK Sidareja. Inti dari nasihat itu adalah jangan takut dan lelah untuk berbuat baik kepada banyak orang. Tuhan pasti memberkati. Kami pun salaman dan berpelukan sebagai bentuk ungkapan terimakasih karena dianggap anak-anak Bapak Ibu Sandirin. Kami turun menuju kaki bukit untuk pulang ke Paroki St. Yoseph Sidareja. Felix Cahyadi sudah menunggu kami. Dengan 2 mobil pick up, mereka menuju ke Paroki St. Yoseph Sidareja. Mereka tiba jam 19.30 dan langsung pulang ke rumah. Demikian refleksi dan kisah kami OMKers Paroki St. Yoseph Sidareja.

Feel free untuk trabas tanpa batas demi Kemuliaan Allah yang semakin Besar.

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here