Tongkat Gembala Uskup KAS , Warisan Bapak Kardinal Justinus Darmojuwono

tongkat gembala uskup kasKONON, Bapak Justinus Kardinal Darmojuwono, yang menggantikan Mgr. Albertus Soegijapranata, mulai menggunakan tongkat gembala, yang diwariskan kepada Uskup Agung Semarang beserta seluruh umat.Kepala tongkat gembala tersebut diawali dengan huruf C untuk Christus, dan bergambar burung Pelikan. (PS Garam: https://www.youtube.com/watch?v=xJA6J3fEnYQ; Retno Susilorini:https://www.youtube.com/watch?v=ROFcUKlY8bA.) Dalam “SURAT GEMBALA HARI PANGAN SEDUNIA 2011 KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG yang dibacakan pada hari […]

tongkat gembala uskup kas

KONON, Bapak Justinus Kardinal Darmojuwono, yang menggantikan Mgr. Albertus Soegijapranata, mulai menggunakan tongkat gembala, yang diwariskan kepada Uskup Agung Semarang beserta seluruh umat.Kepala tongkat gembala tersebut diawali dengan huruf C untuk Christus, dan bergambar burung Pelikan.

(PS Garam: https://www.youtube.com/watch?v=xJA6J3fEnYQ; Retno Susilorini:https://www.youtube.com/watch?v=ROFcUKlY8bA.)

Dalam “SURAT GEMBALA HARI PANGAN SEDUNIA 2011 KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG yang dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 15-16 Oktober 2011, dengan tema “Kamu harus memberi mereka makan” (Mat 14:16), saya berkisah tentang keluarga burung Pelikan.

Di kalangan bangsa burung ada kisah tentang keluarga burung Pelikan di hutan yang subur. Konon, ketika musim kemarau tiba, kekeringanlah terjadi. Makhluk-makhluk hutan menderita, tidak terkecuali keluarga burung Pelikan. Bencana kelaparan melanda hutan tersebut. Induk Pelikan tidak diam saja menyaksikan anak-anaknya hampir mati kelaparan dan kehausan. Ada suara lirih namun jelas terdengar oleh Induk Pelikan, “Kamu harus memberi mereka makan!” Namun, tidak tersedia makan dan minum lagi untuk mereka. Induk Pelikan tidak kehilangan akal. Ia sorongkan temboloknya, seakan berkata kepada anak-anaknya, “Makanlah tubuhku, minumlah darahku!”

Kalau induk Pelikan saja mendengar suara tersebut dan bertindak menurut suara itu, agar anak-anaknya selamat, tentu kita manusia, perempuan dan laki-laki, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah akan mampu bertindak secara betanggungjawab, ketika mendengar suara Tuhan, “Kamu harus memberi mereka makan!”

Santo Thomas Aquinas telah membandingkan  Kristus dengan induk Pelikan, yang bersedia memberikan hidupnya, agar anak-anaknya hidup. Kisah tersebut tersimpan dalam bait 5 “Adoro Te devote”, atau Allah Yang Tersamar” (Puji Syukur No. 560).

Sudah sejak lama burung Pelikan dijadikan ornamen untuk liturgi Gereja. Panti imam di Ganjuran berhiaskan burung Pelikan. Konon, lencana para peserta Kongres Ekaristi di Yogyakarta tahun 1939bergambar burung Pelikan. Begitu juga lukisan kaca pintu rumah Uskup KAS dan mitra yang saya kenakan salah satunya berhiaskan burung Pelikan.

Saya senang menyenandungkan “Pie Pellicane” dengan melodi sbb: 4/4

5 / 3 . 3 4 5 / 2 . . 2 / 2 . 3 4 3 / 2 . .
Pi- e Pellicane, Ie-su Domi- ne,

O o Peli- kan, Yesus Kristus Tuhan,

5 / i . i 7 6 / 5 4 3 . 3 / 3 . 2 2 1 / 2 . .
Me immundum munda tu- o sangui- ne.

Dengan darah- Mu bersihkanlah aku

5 / 3 . 3 4 5 / 2 . . 2 / 2 . 3 4 3 / 2 . .
Cuius una stilla salvum fa-ce- re

Sete-tes darah-Mu slamat- kanlah

5 / i . i 7 6 / 5 4 3 . 5 / 5 . 4 2 / 1 . . //
Totum mundum quit ab omni scele-re.

Sluruh mu-ka bu-mi dari do- sa

Saya mendengar ada rencana untuk membuat kolam air di kawasan Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan(PPSM).   Sebagai sarana animasi yang hidup saya berpikir, sangatlah baik bila kolam tersebut dirancang untuk menjadi habitat yang nyaman bagi burung Pelikan. Pemeliharaan dan pengamatan langsung mengenai kehidupan Pelikan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi hidup beriman kita.

Ayo kita bermimpi dapat berternak burung pelikan di PPSM. Siapa mau membantu untuk mewujudkan mimpi itu? May the dreams come true.

Matur nuwun, Bapak Justinus Kardinal Darmojuwono, atas warisan berharga untuk kami, umat Keuskupan Agung Semarang.

Salam, doa ‘n Berkah Dalem,

+ Johannes Pujasumarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply