Tips Meredam Amarah

Ayat bacaan: Mazmur 4:5
====================
“Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam.”

tips meredam amarah

Dahulu saya sering mengibaratkan diri saya sebagai sebuah granat. Jika picu ditarik, saya bisa dengan cepat meledak. Itulah gambaran emosi saya di masa lalu. Begitu gampangnya saya untuk marah, bahkan dalam hal-hal sepele sekalipun, dan kemarahan itu bisa naik dengan cepat dan sulit untuk reda. Setidaknya tidak dalam waktu singkat. Untung waktu itu saya tidak sempat terkena stroke atau darah tinggi. Malam ini saya membaca sebuah kutipan kata-kata bijak dari seorang penyair Amerika klasik dari tahun 1800 an bernama Ralph Waldo Emerson. Kutipannya berbunyi sebagai berikut:

“For every minute you are angry you lose sixty seconds of happiness.” 

Semenit marah artinya kita kehilangan 60 detik kebahagiaan. Ketika hidup saya waktu dulu diisi dengan begitu banyak kemarahan dan emosi yang meledak-ledak, saya berpikir, sudah berapa banyak waktu yang saya sia-siakan untuk kehilangan kebahagiaan? Puji Tuhan masa-masa itu sudah berakhir. Apakah saya masih pernah marah? Masih. Tapi saya tidak mau berlama-lama, tidak mau memanjakan amarah itu sehingga menjadi semakin parah. Secepat mungkin saya akan berusaha untuk meredakannya. Itu baik untuk jantung, baik untuk pembuluh darah, baik untuk jiwa, baik untuk kesehatan, baik untuk kehidupan, dan tentunya baik buat orang-orang di sekitar kita.

Alkitab tidak melarang orang untuk marah. Hanya yang perlu diingat, kemarahan ini bisa menjadi celah yang dimanfaatkan iblis untuk membuat kita terjerumus dalam dosa, mulai dari yang sederhana hingga yang berat. Sebuah tips sederhana diberikan oleh Daud. “Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam.” (Mazmur 4:5). Marah boleh saja, asal jangan berbuat dosa. Ketika mulai marah, jagalah mulut agar tidak berkata-kata terlalu banyak, karena nantinya yang terjadi adalah mengumbar kata-kata yang menyakitkan orang lain, mengungkit-ungkit masa lalu dan penuh dengan tuduhan-tuduhan tak berdasar. Begitu mulai marah, mulailah segera untuk meredamnya dengan berkata-kata dalam hati. Bukan mengumpat dalam hati, tapi merenungkan sambil berdiam diri, dan redamlah secepatnya. Seperti halnya dalam setiap keluarga, antara saya dan istri pun terkadang bisa berselisih. Marah bisa saja timbul, tapi saya belajar untuk tidak menuruti emosi dengan melemparkan kata-kata apalagi membentak dengan kasar. Cukup sudah kelakuan saya di masa lalu. Sekarang itu tidak lagi boleh terulang. Ketika kemarahan mulai datang, saya akan segera mengambil posisi diam. Menjaga agar saya tidak terpancing emosi yang bisa membuat perkataan sia-sia keluar yang bisa menyakiti istri saya. Diam dan mencoba meredakannya. Setelah beberapa waktu, kemarahan itu reda, dan saya akan segera menghampiri istri saya, terlepas dari siapapun yang salah. Nobody’s perfect bukan? Tips ini benar-benar mampu menjaga suasana hangat dan harmonis di rumah.

Yakobus juga memberi sebuah tips yang bermanfaat. “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yakobus 1:19). Lambatlah untuk marah dan jangan terburu-buru mengumbar kata-kata, dan pastikan untuk tidak melempar kutuk demi kutuk ketika sedang dalam kondisi marah. Ingatlah bahwa segala sesuatu nanti harus kita pertanggungjawabkan, termasuk perkataan. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (Matius 12:36-37). Ingat pula bahwa amarah manusia tidaklah melakukan hal yang baik dan yang benar di mata Allah. (Yakobus 1:20).

“Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.” (Amsal 14:29). Selagi mungkin, hindarilah kemarahan. Tapi jika memang harus marah, jagalah kemarahan kita dalam batas yang wajar. Jangan sampai kita marah tidak terkendali atau terbiasa untuk mudah terpancing emosinya. Waspadalah pada amarah, karena ketika kita marah, sebenarnya dosa tengah mengintip untuk menyelinap masuk. Paulus memberikan tips demikian: “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:26-27). Paulus mengingatkan agar kita tidak membiarkan marah kita berlarut-larut terlalu lama, sehingga dengan demikian kita memberikan kesempatan bagi iblis untuk masuk. Hal ini saya aplikasikan di rumah juga, separah apapun perselisihan, kami berdua sepakat untuk tidak membiarkan perselisihan itu terus ada hingga besok pagi. Sebelum tidur, masalah itu haruslah selesai. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari, jangan dibiarkan berlarut-larut, karena hal itu hanya akan merugkan diri kita sendiri. Tiga tips meredam amarah dari Daud, Yakobus dan Paulus ini rasanya patut dicoba agar kita terbebas dari belenggu kemarahan. Hidup ini sesungguhnya singkat. Karena itu berhentilah membuang-buang kebahagiaan dalam hidup kita dengan menuruti nafsu untuk marah.

“For every minute you are angry you lose sixty seconds of happiness.”

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply