Tinggallah Di Situ

OXYGEN Volume 09“Kata-Nya selanjutnya kepada mereka, ‘Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu.’” (Mrk 6, 10) KEMAREN sore saya ikut Perayaan Ekaristi peringatan arwah di Gamping. Saya sempat ngobrol singkat dengan romo setempat yang akan memimpin perayaan. Romo tersebut mengatakan bahwa pada bulan Juli ini terjadi mutasi dari banyak imam. Romo tersebut juga termasuk rombongan yang ikut termutasi ke paroki lain. Peristiwa mutasi rupanya juga terjadi di keuskupan ini, seperti tertulis di dalam berita jejaring serayu beberapa waktu yang lalu. Mutasi artinya perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Peristiwa ini sering dialami oleh para imam dan religius. Mereka selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, setelah berkarya di suatu tempat selama beberapa tahun. Para imam dan religius adalah pelayan umat. Mereka mengemban sebuah perutusan dari pimpinan mereka, entah uskup atau pimpinan tarekat. Bahkan mereka bisa menyadari bahwa perutusan tersebut tidak hanya berasal dari pimpinan mereka di dunia, tetapi mereka juga diutus oleh Sang Guru pribadi, seperti dialami oleh para rasul atau para murid yang pertama. Mereka diutus ke suatu tempat tertentu dan diharapkan tinggal di tempat tersebut. Para utusan diharapkan untuk ‘tinggal di situ.’ Kewajiban untuk ‘tinggal’ menjadi sesuatu yang penting, agar para utusan bisa semakin mengerti dan memahami secara mendalam situasi setempat dari berbagai macam aspek. Pemahaman terhadap situasi setempat menjadi sesuatu yang penting di dalam pelaksanaan karya pastoral atau karya pelayanan lainnya. Berapa lama seorang utusan harus ‘tinggal di situ’ rupanya tidak ada ukuran sama untuk semua utusan. Banyak alasan dan pertimbangan untuk memutuskan hal tersebut. Sementara utusan rupanya tidak mudah untuk melaksanakan ‘kewajiban tinggal di situ.’ Mereka dengan mudah meninggalkan tempat perutusannya, meninggalkan tugasnya atau tanggung jawabnya dalam frekuensi yang terlalu sering, entah dengan ijin pimpinan atau tidak sepengetahuan pimpinan. ‘Tinggallah di situ!’ Sejauh mana pesan ini saya hayati? Teman-teman selamat malam dan selamat beristirahat. Berkah Dalem. Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

OXYGEN Volume 09

“Kata-Nya selanjutnya kepada mereka, ‘Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu.’” (Mrk 6, 10)

KEMAREN sore saya ikut Perayaan Ekaristi peringatan arwah di Gamping. Saya sempat ngobrol singkat dengan romo setempat yang akan memimpin perayaan. Romo tersebut mengatakan bahwa pada bulan Juli ini terjadi mutasi dari banyak imam. Romo tersebut juga termasuk rombongan yang ikut termutasi ke paroki lain.

Peristiwa mutasi rupanya juga terjadi di keuskupan ini, seperti tertulis di dalam berita jejaring serayu beberapa waktu yang lalu. Mutasi artinya perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Peristiwa ini sering dialami oleh para imam dan religius. Mereka selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, setelah berkarya di suatu tempat selama beberapa tahun.

Para imam dan religius adalah pelayan umat. Mereka mengemban sebuah perutusan dari pimpinan mereka, entah uskup atau pimpinan tarekat. Bahkan mereka bisa menyadari bahwa perutusan tersebut tidak hanya berasal dari pimpinan mereka di dunia, tetapi mereka juga diutus oleh Sang Guru pribadi, seperti dialami oleh para rasul atau para murid yang pertama. Mereka diutus ke suatu tempat tertentu dan diharapkan tinggal di tempat tersebut. Para utusan diharapkan untuk ‘tinggal di situ.’

Kewajiban untuk ‘tinggal’ menjadi sesuatu yang penting, agar para utusan bisa semakin mengerti dan memahami secara mendalam situasi setempat dari berbagai macam aspek. Pemahaman terhadap situasi setempat menjadi sesuatu yang penting di dalam pelaksanaan karya pastoral atau karya pelayanan lainnya. Berapa lama seorang utusan harus ‘tinggal di situ’ rupanya tidak ada ukuran sama untuk semua utusan. Banyak alasan dan pertimbangan untuk memutuskan hal tersebut. Sementara utusan rupanya tidak mudah untuk melaksanakan ‘kewajiban tinggal di situ.’ Mereka dengan mudah meninggalkan tempat perutusannya, meninggalkan tugasnya atau tanggung jawabnya dalam frekuensi yang terlalu sering, entah dengan ijin pimpinan atau tidak sepengetahuan pimpinan. ‘Tinggallah di situ!’

Sejauh mana pesan ini saya hayati?

Teman-teman selamat malam dan selamat beristirahat. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply