“Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-muridNya: Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu, tinggalllah di dalam kasihKu itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya ini kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” (Yoh 15:9-11)

APA sebenarnya yang ditinggalkan kepada para murid-Nya adalah kasih-Nya. Kita dapat merasakan kasih-Nya kalau kita menuruti perintah-Nya.Biasanya kalau ada yang sudah meninggal, meskipun dulu hubungannya sangat akrab dengan sanak-saudaranya, tetapi hubungan kasih ini lama kelamaan akan menghilang dan tinggal kenangan. Namun pada Yesus tidak Karena Yesus tetap hidup dalam diri orang yang percaya kepadaNya.

Maka setiap kali orang beriman itu melaksanakan perintah-Nya, orang itu dapat merasakan kasih-Nya. Bahkan kalau orang itu semakin setia pada imannya dan dekat dengan Yesus, ia juga dapat merasakan bahwa ia bersatu dengan Yesus dan ia dapat berbagi kasih kepada orang lain.

Dalam kelompok orang beriman yang setia dan yang selalu mengamalkan Sabda Tuhan, nampak sekali bahwa hidup mereka sangat rukun, guyub dan bersatu, karena mereka saling mengasihi. Orang lain yang melihat kelompok ini menganggap bahwa mereka masih satu saudara. Kelompok ini biasanya terdiri dari ibu-ibu yang punya kegiatan rutin di Gereja dan punya kesediaan untuk merasul. Semakin kelompok ini dikembangkan maka kelompok  umat akan semakin hidup.

Namun sayangnya bahwa kelompok ini cuma menjadi kebanggaan kelompok saja tidak dikembangkan. Pengembangan bisa dilaksanakan dengan kunjungan. Tetapi banyak orang yang salah paham tentang kunjungan. Salah paham terbesar yaitu seolah-olah yang harus mengunjungi adalah Dewan Paroki secara resmi untuk sensus, atau oleh rama paroki untuk menegur Umat yang tak pernah kelihatan.

Dengan ini kunjungan tidak menimbulkan persaudaraan, karena Umat merasa diinspeksi dan diamati. Kunjungan yang benar yaitu kalau ada suka-relawan datang untuk mengunjungi keluarga, yang tersisih, bukan untuk menyelidiki, mengajar, memberi nasehat atau menegur, tetapi untuk menyapa lalu mau mendengarkan apa yang menjadi kesulitan dalam keluarga. Dan pengunjung memperlihatkan keprihatinan mereka. Salah besar pula kalau pengunjung hanya ingin menguasai pembicaraan dan membanggakan dirinya. Kunjungan hendaklah kunjungan cintakasih. Pengunjung berbagi kasih Yesus.

Photo credit: Unity with Christ (Ilustrasi/Sovjoy)

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. renungan dari injil lukas 19-11-28
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.