Pekan V Paskah: Kis 15:1-6; Mzm 122:1-2.3-4a.4b-5; Yoh 15:1-8
“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yohanes 15:4).

ENTAH mengapa, saya selalu sedih dan heran setiap kali mendengar atau membaca ungkapan, “Orang Katolik itu jangan hanya sibuk di seputar altar. ” Atau, “Gereja Katolik selalu sibuk dengan urusan liturgi saja.”

Saya tidak yakin dengan pernyataan itu. Pertama, apa iya sih umat kita selama 24 jam sibuk di seputar altar? Atau apa iya bahwa Gereja selalu sibuk dengan urusan Liturgi? Kedua, saya menduga, jangan-jangan ungkapan itu menjadi dalih agar orang bisa leluasa mengikuti hasrat dan kemauan sendiri, lantas mengajukan pernyataan itu.

Gereja Katolik memiliki standar selaras dengan kehendak Kristus. Kalau Gereja mengajarkan Liturgi adalah sumber dan puncak segala aktivitas lain (Diakonia, Kerygma, Koinonia dan Martyria) itulah yang kiranya menjadi pemaknaan atas Sabda Tuhan, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yohanes 15:4)

Tinggal dalam Kristus tidak bisa diabaikan dan diandaikan. Kalau ada orang yang terlalu sibuk melayani, berkarya dan aktif lalu berkata, “Karyaku adalah doaku,” ia berbohong. Tinggal dalam Kristus adalah saat-saat khusus yang mendasari seluruh karya pelayanan kita. Itulah yang terjadi dalam Liturgi. Itulah doa-doa dan relasi intim dengan Tuhan. Dari situlah pasti akan mengalir buah-buah rahmat dalam kehidupan.

Tinggal dalam Kristus dan berbuah-berlimpah. Dari altar kita menimba daya kekuatan untuk menuju pasar, bahkan dikuatkan saat harus melintasi semak belukar. Apa yang terjadi dalam sepak terjang kehidupan kita bawa sebagai doa dan persembahan di altar.

Anggur di Tasmania

Kebun anggur: Hamparan kebun anggur di Hobart, Pulau Tasmania, Australia (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

Mari kita tidak mencari pembenaran diri hanya untuk menghindari kehendak Tuhan agar kita tinggal di dalam Dia dan Dia di dalam kita. Justru selayaknyalah kita bersyukur sebab kita yang rapuh, lemah, ringkih dan berdosa ini boleh menimba rahmat dan kekuatan dari altar untuk menguduskan yang sekular.

Adorasi Ekaristi Abadi merupakan kesempatan istimewa untuk tinggal dalam Dia dan Dia tinggal di dalam kita. Semoga kita dianugerahi kerendahan hati untuk rela dan ikhlas tinggal di dalam Dia dan Dia di dalam kita.

Tuhan Yesus, semoga dengan tinggal di dalam Dikau melalui Ekaristi yang kami rayalan dan Adorasi Ekaristi Abadi yang kami persembahkan, buah-buah kasih dan damai-sejahtera Kau limpahkan bagi umat dan masyarakat, bagi sesama dan semesta, kini dan selamanya. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.