Timotius, Lois dan Eunike (2)

(sambungan)Jika lewat sejarah hidup Timotius kita melihat bahwa peran seorang ibu sangat penting dalam perkembangan jiwa dan kepribadian anak, peran ayah pun sama pentingnya. Lihatlah ayat berikut ini: “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan…

(sambungan)

Jika lewat sejarah hidup Timotius kita melihat bahwa peran seorang ibu sangat penting dalam perkembangan jiwa dan kepribadian anak, peran ayah pun sama pentingnya. Lihatlah ayat berikut ini: “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu”. (Amsal 1:8). Keteladanan yang baik akan diwariskan secara turun temurun, demikian pula contoh buruk, akan diwariskan secara turun temurun.

Firman Tuhan berkata: “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (Ulangan 6:6-9).

Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa sebuah keteladanan haruslah mengikuti segala pengajaran akan Tuhan yang disampaikan secara berulang-ulang kepada anak-anak kita. Mendidik mereka akan budi perkerti, ilmu pengetahuan dan pelajaran-pelajaran lainnya tentu sangat baik buat masa depan mereka. Tetapi jangan lupa bahwa mengajarkan mereka tentang Firman dan menumbuhkan iman mereka sejak dini pun merupakan faktor yang teramat sangat penting yang tidak boleh diabaikan atau ditunda-tunda. Bukan hanya lewat pesan, instruksi dan teori saja, tetapi berilah contoh yang baik kepada anak-anak lewat keteladanan secara langsung lewat cara, sikap dan gaya hidup kita. Anak-anak selalu memperhatikan hidup kita tanpa kita sadari, dan contoh perilaku yang baik, hidup yang kudus, penuh kasih, akan membuat mereka menjadi anak-anak terang yang mengenal pribadi Tuhan sejak usia mudanya.

Sebagian orang berpikir bahwa mereka bisa memerintahkan anak untuk rajin berdoa, rajin ke gereja hanya sebatas di bibir saja  sementara mereka tidak memberi contoh yang sama. Mereka mengira bahwa mereka bisa memerintah anak saja tanpa harus menunjukkan contoh teladan dari perilaku mereka sendiri secara langsung. Mereka tidak sadar bahwa apabila ini yang terjadi, anak pun berpotensi untuk tidak menganggap serius semua itu, bahkan bisa-bisa hanya menganggap pengajaran orang tuanya bagai pepesan kosong tanpa makna saja. Ketika sebagian orang tua terlihat rajin beribadah tapi kehidupannya tidak mencerminkan ajaran Tuhan, anak akan menganggap bahwa semua itu hanyalah seremonial rutin yang tidak membawa manfaat apapun. Tidak jarang hal demikian membawa dampak negatif dalam perkembangan si anak. Bayangkan jika orang tua hanya getol menguliahi anaknya tentang iman, tetapi mereka selalu terlihat ketakutan dalam hidup mereka, hanya berpikir untung rugi dan menjadikan materi sebagai segala-galanya, tidakkah itu akan berpengaruh buruk bagi perkembangan jiwa sang anak juga? Anak pelayan Tuhan sekalipun tidak menjamin mereka untuk tumbuh menjadi anak yang takut akan Tuhan apabila orang tuanya tidak memberi teladan yang benar dari kehidupan mereka sehari-hari secara langsung dan nyata.

Bagi yang sudah dikaruniai anak, sudahkah anda memberi keteladanan yang baik pada mereka lewat contoh nyata dalam kehidupan anda sehari-hari? Seperti apa mereka kelak dikemudian hari akan sangat tergantung dari seberapa baik kita mendidik mereka dan memberi keteladanan langsung lewat segala aspek dalam kehidupan kita.

Wariskan segala yang baik buat anak-anak kita lewat aplikasi Firman Tuhan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply