Timotius, Lois dan Eunike (1)

Ayat bacaan: 2 Timotius 1:5=====================”Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu”Fruit doesn’t fall far f…

Ayat bacaan: 2 Timotius 1:5
=====================
“Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu”

Fruit doesn’t fall far from the tree. Itu adalah bunyi sebuah kata pepatah di Amerika yang menggambarkan bahwa seorang anak biasanya akan cenderung mengikuti jejak orang tuanya. Dalam versi bahasa Indonesia biasanya dikatakan “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Berkecimpung di dunia musik dan berasal dari keluarga dokter membuat saya melihat banyak contoh yang membuat pepatah tersebut mendapat pengesahannya. Ada banyak sekali pemusik handal yang ternyata memperoleh bakat diturunkan dari ayah dan/atau ibunya bahkan dari kakek dan neneknya. Di kalangan kedokteran pun ternyata banyak yang mengikuti jejak orang tuanya dan generasi di atasnya secara turun temurun. Di sisi lain, kalau kita sukses maka orang tua kita pun akan turut harum namanya, bahkan kakek dan nenek kita juga akan dipuji orang. Sebaliknya kalau kita berbuat sesuatu yang tidak baik maka nama orang tua dan keluarga pun bisa turut tercemar. Betapa seringnya seorang anak nakal yang berbuat onar dihubungkan dengan orang tuanya. “Bandel sekali, anak siapa sih itu?” Itu sesuatu yang sering kita dengar.

Jika orang tua baik mendidik anaknya maka anaknya akan baik. Bahkan Firman Tuhan sendiri menyatakan hal itu.  “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6). Bukan itu saja, tetapi anak dengan perilaku terpuji dan membanggakan akan membuat nama orang tuanya menjadi harum. “Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.” (Mazmur 127:4). Sadar atau tidak, anak-anak bagaikan buku tulis kosong yang isinya akan tergantung dari apa yang dituliskan oleh ayah dan ibunya atau bahkan kakek dan neneknya di dalamnya. Meski anak-anak akan memiliki sifat-sifat tersendiri, namun bagaimana orang tua mendidik anak akan sangat menentukan seperti apa mereka kelak pada saat menginjak dewasa.

Kemarin kita sudah melihat bahwa anak-anak muda ternyata bisa dipakai Tuhan untuk menjadi teladan. Ada banyak contoh dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa usia tidak akan pernah cukup menjadi alasan atau pembenaran untuk menghindar dari panggilan dan bekerja di ladangnya Tuhan. Hari ini mari kita fokus kepada seorang tokoh muda yang dicatat di dalam Alkitab yaitu Timotius.

Timotius dikenal sebagai anak rohani Paulus, seperti yang tertulis dalam 1 Timotius 1:2. Timotius muda sudah sanggup tampil di depan, menjadi teman sekerja Paulus dalam melayani. Kalau anda penasaran ingin menelusuri latar latar belakang dari Timotius, awal perjumpaan Paulus dengan Timotius ada tercatat dalam Kisah Rasul 16:1-3. Paulus bertemu dengan Timotius pada saat ia tiba di Listra (sebuah kota yang sekarang dikenal dengan nama Turki). Alkitab mencatat bahwa Ibu Timotius adalah seorang Yahudi yang telah menerima Yesus, sedang ayahnya adalah orang Yunani. Timotius disebut sebagai orang baik di kalangan orang-orang percaya. (Kisah Para Rasul 16:2). Melihat bahwa ia dituliskan di dalam Alkitab dan dengan jelas kita melihat bahwa ia sudah dipakai untk menyebarkan berita keselamatan sejak belia, itu menunjukkan bahwa ia berbeda dari kebanyakan anak muda seusianya. Pertanyaannya adalah, dari mana ia bisa tumbuh seperti itu dan bisa bersinar sejak usia mudanya?

Lagi-lagi Alkitab mencatatnya dengan jelas. Mari kita lihat ayatnya. “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu” (2 Timotius 1:5). Ayat tersebut menyebutkan bahwa ibu dan nenek Timotius ternyata mempunyai peran sangat penting dalam mendidik Timotius sehingga ia bisa tumbuh menjadi seorang anak yang istimewa. Nenek dan ibunya memberi teladan hidup yang baik bagi Timotius, yang kemudian membentuk karakternya bersinar sejak usia muda. Selanjutnya kita bisa baca di dalam 2 Timotius 3:15 bahwa sejak kecil, Timotius telah dikenalkan dengan Alkitab, sehingga dirinya diberi hikmat dan dituntun pada keselamatan oleh iman kepada Kristus. “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.” Perhatikan bahwa semua ini berasal dari iman neneknya, Lois, kemudian turun pada ibunya, Eunike, hingga lalu sampai kepada Timotius. Timotius lahir sama seperti bayi lainnya. Tapi yang membedakan adalah pengajaran dan keteladanan yang ia peroleh dari nenek dan ibunya sehingga ia bisa tumbuh lebih baik dari kebanyakan anak seusianya.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply