Tiga Tipe Manusia

Ayat bacaan: 2 Raja Raja 6:15
=======================
“Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?”

tiga tipe manusia, aram, elisa, gehazi

Seberapa jauh kita bisa percaya pada penyertaan Tuhan? Ketika hidup sedang aman dan nyaman tanpa masalah, mungkin mudah untuk percaya. Tapi bagaimana jika sedang berada dalam permasalahan, apalagi jika masalah yang dihadapi terasa sungguh berat? Tinggal sedikit orang yang masih bisa percaya dan mau mengandalkan Tuhan. Umumnya orang akan cepat merasa khawatir, cemas dan sebagainya. Keraguan apakah Tuhan akan menolong atau tidak bisa muncul. Tidak hanya itu, bahkan tidak jarang orang mulai meragukan eksistensi Tuhan dalam kehidupannya, atau malah mulai ragu apakah Tuhan benar-benar ada atau tidak.

Dalam kisah Elisa dalam perikop 2 Raja-Raja 6:8-23 mengenai raja Aram yang memerintahkan bala tentaranya untuk mengepung kota dan menangkap Elisa.kita bisa melihat tiga tipe manusia, yaitu tipe orang Aram, tipe Gehazi sang bujang, dan tipe Elisa. Tipe Orang Aram menggambarkan tipikal orang bebal, yang buta total, sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di depan mereka. Tipikal orang Aram tidak akan mampu melihat apa yang terjadi di depannya, dibawa menuju kebinasaan pun mereka tidak tahu. (ay 18-20).

Tipikal Gehazi bisa melihat apa yang terjadi di depan mata, namun tidak tahu harus berbuat apa dan hanya fokus pada masalah sehingga gampang panik. Bayangkan betapa capainya hidup seperti ini. Hanya mengandalkan logika, kepandaian, sepenuhnya bergantung pada segala sesuatu yang kelihatan di depan mata. Perhatikan perkataannya: “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?” (2 Raja Raja 6:15). Gehazi pun dikisahkan merasa panik ketakutan dan langsun berlari pada Elisa. Tipikal Gehazi inilah yang dimiliki oleh banyak anak-anak Tuhan. Mereka seperti halnya Gehazi, hanya bisa melihat apa yang terjadi di depan mata mereka. Mereka percaya Tuhan, tapi saat menghadapi masalah, mereka akan dipenuhi oleh banyak pertanyaan. Mereka hanya berpikir celaka, bingung, diombang-ambingkan keadaan dan hidup penuh keraguan.

Tipe Gehazi tentulah jauh lebih baik dari tipe orang-orang Aram yang hendak menangkap mereka. Gehazi menjadi tenang setelah Elisa berdoa untuk meminta Tuhan membuka mata bujangnya. “Lalu berdoalah Elisa: “Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.” (ay 17). Apa yang dilihat Gehazi setelahnya sungguh luar biasa. Ia melihat ada begitu banyak kuda di sekeliling gunung dan kereta berapi (chariots of fire) di sekeliling Elisa.

Tapi tipe Elisa jauh lebih baik dari tipe Gehazi. Pribadi Elisa sungguh berbeda. Tipe Elisa adalah mampu melihat apa yang tidak dapat dilihat orang lain. Orang yang memiliki tipikal Elisa mampu melihat Tuhan dan tahu bahwa Tuhan jauh lebih besar dari masalah. “Jawabnya: “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.”(ay 16). Hidup memang tidak akan mungkin tanpa masalah. Masalah akan senantiasa ada dalam perjalanan kehidupan kita. Tapi ingatlah bahwa ada Tuhan yang menyertai kita, dan Tuhan jauh lebih besar dari segala pergumulan yang kita hadapi. Kita harus terus melatih diri kita untuk melibatkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita, karena hanya dengan hidup bersama denganNya lah kita akan mampu menghadapi masalah dengan ketenangan. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13). Jika kita masih berada pada fase setipe Gehazi, berdoalah seperti Elisa, “Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.”

Tuhan yang kita sembah jauh lebih besar dari masalah terbesar sekalipun

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply