Tiga Suster Misionaris Italia Dibunuh di Burundi, Afrika

sorelle burundi

TIGA suster biarawati misionaris asal Italia tewas dibunuh pada hari Minggu malam, 7 September 2014, dalam misi Guido Maria Conforti di Kamenge, Burundi. Ketiga biarawati itu adalah Olga Raschietti, Lucia Pulici dan Bernadetta Boggian dari Serikat Misionaris Maria Xaverian. Mereka dibunuh dengan cara digorok lehernya, kepalanya dipukul dengan batu.

Hingga kini, pihak kepolisian tengah memburu para pelaku kekerasan ini.

Berikut ini adalah sebuah surat kesaksian Suster Bernadetta setahun yang lalu dan pernah dipublikasikan di situs Misionaris.

“Sang Ilahi telah memberikan saya karunia untuk bertemu dengan orang-orang dan budaya yang berbeda, untuk melihat pemandangan yang indah. Aku bertemu dengan orang-orang yang menakjubkan; umat Kristen dan umat agama lain: wajah-wajah yang tampil di hadapanku seperti suatu urutan, membuat saya menghidupkan kembali ketakjuban untuk telah bertemu dengan benih-benih dari Injil yang sudah ada.

Afrika yang telah kutemui memperkuat imanku kepada Allah; Aku terkesan dengan sambutan yang ramah, sukacita untuk berbagi dengan tamu yang ada sedikit, sukacita atas pertemuan, tanpa perhitungan waktu.

Untuk beberapa tahun ini aku tinggal di Burundi di Kamenge, sebuah pinggiran kota yang padat dengan penduduk kota Bujumbura. Aku senang menjadi milik komunitas Kristen ini yang peduli dan amat dekat dengan orang miskin. Sangat indah untuk melihat pada hari Sabtu dan hari Minggu para ibu dari masyarakat bawah berangkat dengan keranjang di kepala mereka ke penjara untuk mengunjungi para tahanan dan membawakan sedikit makanan untuk mereka.

suore-missionarie

Misionaris di Burundi, Afrika: Sejumlah suster biarawati asal Italia pergi meninggalkan tanahairnya menuju tanah misi di Burundi, Afrika (Ist)

Misa pada hari Minggu sore sering dikunjungi terutama oleh para ayah dan kaum muda yang punya kesempatan untuk bekerja seharian, terkadang tidak digaji. Mereka datang dengan wajah yang terbakar matahari dan tangan yang kapalan dan berkarat oleh semen. Aku melihat wajah mereka memancarkan ketenangan dari seorang yang tahu bahwa Yesus berada di tengah-tengah mereka dan berjalan mendampingi mereka.

Pewartaan tentang Yesus dan belas-kasih Bapa menjadi hal yang dapat dimengerti jika disertai dengan kesaksian hidup. Harus dipupuk dalam diri kita pandangan simpati, rasa hormat dan penghargaan terhadap nilai-nilai budaya dan tradisi setiap orang yang kita temui. Sikap ini, selain memberikan ketenangan kepada misionaris, juga membantu untuk lebih mudah menemukan bahasa dan gerak tubuh yang tepat untuk mewartakan Injil.

Tantangan pertama yang perlu diperhatikan adalah pembelaan kepada warga miskin papa yang hak-haknya diinjak-injak, pelaporan atas eksploitasi aset negara. Begitu pula ada masalah mendesak tentang keaksaraan, suatu jalan terbaik untuk memerangi kemiskinan. Afrika membutuhkan keadilan, keadilan yang lebih besar dan pemerintahan yang baik.

Meskipun situasi yang rumit dan konflik di negara-negara Danau Besar, sepertinya aku merasakan kehadiran Kerajaan kasih yang tengah dibangun, yang tumbuh seperti biji sesawi dari Yesus yang hadir dan diberikan untuk semua orang. Pada titik ini dari perjalananku, pelayanan kuteruskan bagi saudara-saudari kita di Afrika, berusaha untuk hidup dengan kasih, kesederhanaan dan sukacita.”
Sumber: Missionarie di Maria Saveriane
Kredit foto: Missionarie di Maria Saveriane, Corriere della Sera

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: