Bersama Kaum Muda dari Berbagai Negara 08-12-10 2

SRIATY Sovia adalah salah seorang remaja yang beruntung boleh menimba pengalaman spiritual dalam keheningan di desa Taizé, Perancis. Tentu nama Taizé tidak asing lagi terdengar di telinga umat Kristiani pada umumnya. Taizé selalu identik dengan alunan musiknya yang khas dan syahdu yang sangat lekat dengan unsur meditatif.

Menurut remaja kelahiran Medan, 2 Mei 1987 silam ini, desa Taizé dapat dicapai melalui Kota Paris dengan menempuh perjananan selama 5 jam melalui jalan darat atau 1,5 jam dari Bandara Lyon. Di desa ini terdapat Komunitas Taizé yang terdiri dari 100-an orang bruder, baik Katolik dan dari berbagai latar belakang Protestan, yang datang dari dua puluh lima negara atau lebih. Melalui keberadaannya, komunitas ini merupakan sebuah tanda perdamaian yang nyata diantara umat Kristen yang terpecah belah.

Dari tahun ke tahun, jumlah pengunjung yang datang ke Taizé makin bertambah. Pada akhir tahun 1950-an, orang-orang muda berusia antara 17 hingga 30 tahun mulai berdatangan dalam jumlah yang lebih besar. Pada tahun 1966 para Suster (biarawati) St. Andreas, sebuah komunitas Katolik internasional yang didirikan tujuh abad yang lalu, datang dan tinggal di desa tetangga. Mereka mulai mengambil bagian dalam penyambutan. Kadang kala mereka dibantu oleh para suster dari komunitas yang lainnya. Belakangan, sekelompok kecil suster Ursulin dari Polandia juga datang untuk membantu dalam penyambutan kaum muda.

Selama tiga bulan berada di Taizé, Sovia mendapat kesempatan menjadi relawan. “Kami para relawan yang tinggal lebih lama di sana disebut sebagai orang-orang permanen. Para permanen tinggal minimal sebulan hingga setahun. Durasi waktu tinggal akan menentukan asrama mana yang akan kita tempati,” kisahnya.

Di N’toumi bersama sahabat multi bangsa

Cynthia Elizabeth Simbolon, Topan Putra Chen, Sriaty Sovia.

Asrama di Taizé dibedakan antara asrama bagi laki-laki dan perempuan. Masing-masing asrama dibagi lagi ke dalam tiga kelompok, yang biasanya berlaku hanya pada musim panas. Di luar musim panas, asrama hanya dibagi ke dalam 2 kelompok saja.

Orang-orang yang tinggal di Taizé minimal sebulan selama musim panas akan menempati Madras (bagi perempuan) dan Maison Brule (bagi laki-laki). Bagi mereka yang tinggal kurang dari tiga bulan akan menempati N’toumi (bagi perempuan) dan Tilleul (bagi laki-laki). Jenis asrama ini juga dipakai bagi mereka yang tinggal sebulan lamanya di luar musim panas. Sedangkan bagi peziarah yang tinggal di atas tiga bulan, akan menempati Lambarene (bagi perempuan) dan Petite Morada (bagi laki-laki).

“Aku tinggal di N’toumi dengan teman-teman dari berbagai negara,” tutur Sovia.

Lebih lanjut Sovia berkisah mengenai aktivitasnya selama di Taizé. “Kegiatan kami tidak hanya berdoa saja. Pada minggu pertama kami mendapatkan tugas untuk melakukan studi Kitab Suci dan menjaga toko. Selanjutnya, kami diberikan tugas yang berbeda setiap minggunya.”

Sovia berkisah, tugas-tugas tersebut beraneka macam, misalnya: mengunci asrama, mengurus asrama, membersihkan rumah-rumah para pengujung, membersihkan gereja, memasak, mencuci piring, menyiapkan bahan makanan, hingga membersihkan toilet. Setiap orang memiliki minimal dua tugas per hari.

Bangunan Asrama di Taize.

Sebagai permanen, Sovia dan teman-temannya harus bertanggungjawab terhadap keberhasilan pelaksanaan tugas tersebut di lapangan, meskipun dalam praktiknya aneka tugas itu dilakukan bersama-sama dengan para pengunjung. “Jadi jika datang ke Taizé jangan heran bila kita akan melihat bahwa semua orang mengambil bagian dalam bekerja. Tidak ada istilah pelayan maupun tamu. Semua orang mengambil bagian dalam tugasnya masing-masing,” jelasnya panjang lebar.

Duta bangsa di Taizé

Kehadiran Sovia ke Taizé ternyata bukan hanya untuk menimba pengalaman spiritual saja, melainkan juga memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia kepada pengunjung lainnya melalui kegiatan workshop.

Sovia, Topan Putra Chen (Keuskupan Ketapang) dan Cynthia Elizabeth Simbolon (STT Jakarta) menampilkan tarian Batak, mengajari bernyanyi lagu-lagu Indonesia dan menyajikan masakan khas Indonesia dalam workshop tersebut.

Kehadiran para pengunjung dari berbagai bangsa di Taizé, menjadikan Sovia memiliki keluarga baru di sana. “Sekarang jika saya ingin mengunjungi suatu negara, rasanya tidak begitu mengkhawatirkan lagi. Setiap orang akan membukakan pintu bagimu, karena dirimu adalah keluarga barunya. Keluarga yang ditemukan di Taizé.”

Dari sahabat-sahabatnya yang berasal dari berbagai negara, Sovia mendapatkan satu cerita unik, dimana jika kita memakai kalung Taizé di daratan Eropa, pertolongan akan mudah kita dapatkan dari orang-orang yang belum tentu mengenal kita. “Tentu saja yang membantu kita adalah orang-orang yang pernah datang ke Taizé,” bebernya mengingatkan.

Bagi Sovia, menimba pengalaman spiritual di Taizé juga memberikannya tambahan ilmu: mengenal budaya dari berbagai bangsa, bersabar dengan orang-orang yang memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi, menjadi pendengar yang baik, mencintai sesama dan alam disamping mencintai Tuhan, dan belajar mengenal diri sendiri secara lebih mendalam. Hal-hal itulah yang membuat Sovia jatuh cinta pada Taizé.

Jadi bila ada kesempatan, tidak ada salahnya kita mengunjungi Taizé. Sebuah desa yang ceria, komunitas yang dipenuhi semangat solidaritas, berjumpa dengan banyak orang yang rindu berbagi pengalaman dan ilmu, dan suatu tempat di mana kita dapat mengalami kedekatan yang mendalam dengan Sang Pencipta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.