Tidak Percaya sebagai Penghalang Doa

Ayat bacaan: Markus 9:24=====================”Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!””Bapak percaya atau tidak sama saya? Kalau percaya serahkan saja sepenuhnya pak, supaya bapak tidak perlu repot lagi.” Itu…

Ayat bacaan: Markus 9:24
=====================
“Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”

“Bapak percaya atau tidak sama saya? Kalau percaya serahkan saja sepenuhnya pak, supaya bapak tidak perlu repot lagi.” Itulah kata seorang montir di bengkelnya kepada teman saya yang ragu meninggalkan mobilnya dan menyerahkan mandat untuk memberi onderdil. Kalau tidak percaya alamat tambah repot, karena selain ia tidak mengerti seluk beluk sparepart yang harus dibeli, ia pun harus meluangkan waktu di jam kerja untuk itu. Karena ia terlihat ragu, si montir pun berkata demikian. Dalam masalah keimanan kita pun sering bermasalah dengan keraguan. Mudah bagi kita untuk berkata percaya, tetapi semakin kita dililit masalah, biasanya tingkat percaya kita pun semakin berkurang. Padahal seharusnya justru disaat seperti itu kita harus lebih meningkatkan lagi. Mengapa? Karena kita suka tidak sadar bahwa seringkali yang menjadi penghalang bagi kita untuk menerima berbagai jawaban doa dan curahan berkat Tuhan bukan karena apa-apa tapi karena kita kurang atau tidak percaya.

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan doa kita tidak kunjung dijawab. Mungkin memang belum waktunya menurut Tuha, mungkin kita belum membereskan masalah-masalah yang masih tinggal di dalam diri kita di hadapan Tuhan sebelum berdoa, mungkin terhalang karena kita masih terus melakukan dosa atau berbohong terhadap pasangan, tapi tidak jarang pula masalahnya ada pada ketidak-yakinan kita akan kuasa doa. Kita berdoa, tapi doa yang kita panjatkan tidak didasari dengan rasa percaya dalam iman yang cukup. Maka masalah percaya penuh sering menjadi hambatan turunnya jawaban Tuhan atas doa kita. Mungkin bukan karena dengan sengaja tidak mau percaya, tetapi tidak cukup mampu untuk membangun rasa itu. Himpitan beban yang begitu berat bisa membuat keraguan kita muncul setiap kali kita mengharapkan turunnya tangan Tuhan untuk melepaskan kita. Kita mau percaya, tapi tetap ragu bahwa itu terjadi atas diri kita. Antara percaya, ragu dan tidak percaya atau tidak yakin, itu bisa mengambang bebas dalam diri kita. Kalau ini yang masih terjadi, sulit bagi kita untuk mengharapkan perkara-perkara besar, berbagai mukjizat dan pertolongan Tuhan bisa benar-benar menjadi kenyataan bagi kita.

Hari ini mari kita belajar lewat kisah di dalam Alkitab mengenai seorang ayah membawa anaknya yang kerasukan roh jahat ke hadapan Yesus. (Markus 9:14-29). Betapa paniknya si ayah, karena bukan saja roh itu sudah membisukan anaknya sejak kecil, tapi juga mengakibatkan hal-hal yang parah. “Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang.” (Markus 9:18). Itu sudah separah film-film horor saja, bahkan lebih parah. Tidak satupun murid Yesus yang sanggup berbuat sesuatu. Si ayah pun berkata: “Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” (ay 22).

Sampai disitu dulu. Perhatikan si ayah mengatakan “jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” JIKA Engkau DAPAT berbuat sesuatu. Adakah hal yang tidak dapat dilakukan Tuhan? Tentu kita semua tahu jawabannya. Dan itulah yang dikatakan Yesus. “Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (ay 23). Lihat bahwa Yesus menekankan kepada kata “percaya.” Itu adalah salah satu kunci penting untuk mendapatkan jawaban atas doa. Jawaban selanjutnya dari si ayah sungguh menarik untuk kita simak. “Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (ay 24). Percaya atau tidak? Ini perkataan yang kontradiktif yang ia ucapkan dalam setarik nafas, dalam satu kalimat. Yang benar mana?

Apa yang dialami si ayah sesungguhnya sering pula kita alami dalam hidup kita. Ketika beban pergumulan memuncak kita menjadi terombang-ambing antara keadaan ingin percaya tapi tidak cukup bisa untuk mempercayainya. Kita ingin ditolong tapi kita ragu apakah mungkin pertolongan itu bisa hadir. Sekali lagi, yang menjadi masalah bukanlah ketidak-inginan kita untuk percaya, tapi justru lebih kepada ketidaksanggupan kita untuk mengimaninya. Beban terkadang menimpa dengan sangat berat sehingga sulit bagi kita untuk tetap fokus dengan iman disertai rasa percaya yang penuh ketika kita memohon pertolongan Tuhan lewat doa kita. Maka teriakan si ayah pun mewakili apa yang sering kita alami hari ini.

“I want to believe, please help me to believe!” Sederhananya seperti itulah pergumulan si ayah menghadapi keadaan anaknya. Apakah Tuhan mau menolong kita untuk percaya, apabila kita sendiri tidak sanggup untuk itu? Puji Tuhan, Dia bukanlah Allah yang kaku dan hanya menyuruh. Dia adalah Allah yang peduli akan pergumulan kita. Ketika kita diminta untuk percaya, dan kita belum cukup sanggup untuk itu, bukankah sangat melegakan ketika kita mengetahui bahwa Tuhan pun bersedia membantu kita untuk percaya, untuk mengatasi keraguan kita? Dan Tuhan siap untuk melakukannya. Dia bersedia untuk itu. Dan itu tentu kabar baik karena kita hanyalah manusia biasa yang punya banyak kelemahan dan keterbatasan.

Masalah percaya merupakan hal yang sangat penting. Berulang kali Yesus menegur murid-muridNya yang kurang percaya. Termasuk si ayah pun ditegur karena tidak percaya. Kenyataannya, Yesus mau membantu sisi kurang percaya si ayah dan menyembuhkan anaknya. Kalau kita melihat kejadian lain ketika Yesus menyembuhkan orang sakit kusta (Lukas 5:12-16), kita melihat perbedaan iman dari orang kusta ini dengan ayah dari anak yang kerasukan tadi. Orang berpenyakit kusta ini berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” (ay 12). Itu perbedaan nyata antara imannya dengan iman si ayah yang berkata “jika Engkau dapat.” Tuhan selalu dapat, dan bagi orang percaya tidak ada kata mustahil. Si orang dengan penyakit kusta tahu bahwa Tuhan dapat, dan kalau Tuhan berkenan, seketika ia bisa sembuh meski secara logika itu tidak mungkin. Karena itu kita harus terus melatih diri kita untuk mampu memiliki iman yang dipenuhi rasa percaya. Jika kita masih tidak sanggup memilikinya, berdoalah dan minta Tuhan membantu kita untuk bisa percaya terlebih dahulu sebelum kita mulai memohon pertolonganNya. Yesus sudah mengingatkan kita “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yohanes 14:1), atau “Jangan takut, percaya saja!” (Markus 5:36) dan banyak lagi Firman Tuhan yang menyuruh kita untuk memiliki sebentuk rasa percaya yang cukup untuk bisa mendapatkan jawaban atas permasalahan-permasalahan kita. “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:24).

Begitu pentingnya sebuah iman yang percaya dalam menerima uluran tangan Tuhan, maka dari itu marilah hari ini kita berdoa agar Tuhan meneguhkan kepercayaan kita kepadaNya. Kalau kita sudah menjaga diri agar tetap kudus, tidak meminta untuk memuaskan keinginan daging, tidak menyimpan kebohongan, tidak berbuat atau berpikir dosa dan membangun doa dengan keyakinan teguh, tidak akan ada lagi hal yang mustahil bagi kita.

Keraguan atau ketidakpercayaan merupakan penghalang terjawabnya doa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply