Tiap Orang Punya Barbelnya Sendiri-sendiri

beban hidup suku minoritas di Sapa dekat perbatasan Vietnam China“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku.” (Fil 4, 13-14) Seorang atlit angkat besi mempunyai tubuh berotot dan mampu mengangkat barbel yang beratnya ratusan kg. Tubuh kekar berotot dan kemampuan mengangkat beban yang berat pasti tidak datang tiba-tiba. Kemampuan untuk […]

beban hidup suku minoritas di Sapa dekat perbatasan Vietnam China

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku.” (Fil 4, 13-14)

Seorang atlit angkat besi mempunyai tubuh berotot dan mampu mengangkat barbel yang beratnya ratusan kg. Tubuh kekar berotot dan kemampuan mengangkat beban yang berat pasti tidak datang tiba-tiba.

Kemampuan untuk mengangkat beban yang berat pasti memerlukan latihan. Dari hari ke hari mereka berlatih untuk mengangkat beban, mulai dari barbel yang ringan, yang lebih berat dan yang paling berat.

Kesediaan untuk memikul beban yang berat setiap hari justru membuat dirinya semakin kekar dan berotot. Tubuh mereka semakin kuat. Pengalaman para atlit angkat besi kiranya bisa memberi inspirasi bagi banyak orang.

Setiap orang mempunyai ‘barbel’-nya masing-masing: ada yang ringan dan ada yang berat. ‘Barbel’ hidup adalah berbagai macam perkara, kesulitan, penderitaan yang dialami oleh setiap orang.

Ada orang yang ‘barbel’ hidupnya ringan, sehingga mereka tidak kesulitan untuk mengangkatnya. Namun ada pula orang yang mempunyai ‘barbel’ begitu berat, sehingga mereka tidak sanggup untuk memikulnya.

Ketidaksanggupan dan ketidakberdayaan untuk mengangkat ‘barbel’ hidup yang berat sering membuat banyak orang stres, depresi, kalut. Bahkan banyak orang sampai pada keputusasaan, sehingga mereka mengambil tindakan bodoh atau jalan pintas, yakni berusaha mengakiri hidup mereka dengan berbagai macam cara.

St. Paulus pun punya banyak pengalaman dalam hal ini. Berbagai peristiwa penolakan, penganiayaan, kesulitan, penjara merupakan ‘barbel’ hidupnya selama dia menjalankan tugas pelayannya. Sekalipun ‘barbel’ hidupnya berat, Paulus tidak stres, depresi dan putus asa. Paulus masih berani menghadapi dan sanggup memikulnya.

Dari mana kekuatan itu dia peroleh? Tidak lain dari imannya akan Allah. Allah tidak akan memberikan ‘barbel’ hidup yang tidak bisa ditanggungnya. Bahkan pengalaman itu merupakan kesempatan baginya untuk semakin mengikuti Yesus Kristus, yang telah lebih dahulu memikul ‘barbel’ berat karena dosa-dosa manusia.

Ambil bagian dalam meringankan ‘barbel’ hidup sesama merupakan ciri para murid Kristus.

Teman-teman selamat pagi dan selamat berhari Minggu. Berkah Dalem.

Foto kredit: Kaum perempuan suku minoritas di jalur perbatasan Vietnam-Tiongkok (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply