The Unwanted Child

Ayat bacaan: Hakim Hakim 11:1
=========================
“Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead.”

unwanted child, anak haram

“Aku anak yang tidak diinginkan untuk lahir..” kata seorang teman pada suatu kali kepada saya. Peristiwa itu ia ketahui belakangan setelah ia dewasa, dan hal itu menimbulkan kepahitan yang amat mendalam dalam hidupnya sehingga ia sulit maju. Akibat hubungan intim orang tuanya sebelum menikah ia terbentuk dalam janin ibunya. Berkali-kali bahkan orang tuanya mencoba menggugurkannya dalam kandungan, namun gagal. Dan ia lahir, dan tumbuh dengan kepahitan dan rasa dendam pada orang tuanya. Ia merasa hidup sebagai “the unwanted child”, anak yang tidak diinginkan, sejak kecil ia mengaku tidak mendapat kasih sayang sewajarnya dari kedua orang tuanya. Ia malah diberikan kepada saudara ibunya untuk dibesarkan. Pahit memang. Tapi jangan khawatir. Beberapa tahun yang lalu ia memilih untuk membawa perkaranya ke hadapan Tuhan, memutuskan untuk memaafkan kedua orang tuanya yang saat ini hidup susah, dan ia mengalami kelepasan. Hari ini ia dipakai Tuhan secara luar biasa. Ia menjadi seorang pelayan Tuhan yang kuat dan berani.

Apa yang menjadi kisah masa lalunya pernah pula dialami oleh seorang tokoh dalam Alkitab. Kasihan sekali. Ia terlahir sebagai anak haram, hasil dari hubungan perzinahan dengan seorang pelacur. Tentu seperti kita, ia pun tidak pernah meminta dilahirkan dalam kondisi seperti itu, namun begitulah kenyataan yang harus ia terima. Orang itu bernama Yefta.

Kisah Yefta dalam kitab Hakim Hakim dibuka dengan sebuah kenyataan kontras. “Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead.” (Hakim Hakim 11:1). Lihat pendahuluan kisah Yefta, menggambarkan bahwa Yefta, anak Gilead dan seorang pelacur, anak haram, namun dikatakan terlebih dahulu sebagai pahlawan yang gagah perkasa. Kalau kita lihat dalam kitab Ibrani, penulisnya pernah pula menyinggung Yefta. “Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing.” (Ibrani 11:32-34). Ternyata Yefta digolongkan ke dalam sekumpulan pahlawan/saksi iman bersama-sama dengan Daud, Samuel, Gideon, Barak dan Simson. Apa sebenarnya yang terjadi?

Yefta adalah sosok “the unwanted child”. Karena ia lahir dari hasil perzinahan, maka kedua orang tuanya mengusir Yefta. “katanya kepadanya: Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain.” (Hakim Hakim 11:2). Maka Yefta yang sudah terlahir dalam kondisi tidak mengenakkan ini pun harus pula menanggung beban yang justru bukan karena kesalahannya. Ia terbuang, menanggung kebencian seisi keluarga dan masyarakat akibat perbuatan ayahnya yang harusnya tidak ditimpakan kepadanya. Tapi itulah yang terjadi. Ia dianggap tidak lebih dari sampah dan harus dibuang, hingga ia pun bergabung dengan segerombolan penjahat/perampok. (ay 3) Inilah hidup yang harus ia pikul akibat dosa ayahnya. Hidup begitu pahit, tapi sepahit apapun, ia terus menjalaninya.

Pada suatu ketika, terjadilah serangan terhadap bangsa Israel yang dilakukan oleh bani Amon. Bangsa Israel terancam dan ketakutan. Rupanya rasa takut ini membuat para tua-tua di Gilead tidak lagi punya malu untuk menjemput Yefta, memintanya menjadi panglima untuk memerangi bani Amon. Yefta yang pernah mereka singkirkan, kini diminta kembali untuk menjadi pemimpin mereka. Yefta bertanya: “Tetapi kata Yefta kepada para tua-tua Gilead itu: “Bukankah kamu sendiri membenci aku dan mengusir aku dari keluargaku? Mengapa kamu datang sekarang kepadaku, pada waktu kamu terdesak?” (ay 7). Dan setelah mendapat jawaban para tua-tua itu, kita melihat sesuatu yang menarik dilakukan Yefta. Pertama, ia tidak jual mahal, ia tidak berniat sedikitpun untuk menuntut balas terhadap kaumnya, ia tidak memanfaatkan situasi untuk memukul balik para tua-tua dan rakyat Gilead. Yang ia lakukan dicatat dengan jelas dalam Alkitab. “Maka Yefta ikut dengan para tua-tua Gilead, lalu bangsa itu mengangkat dia menjadi kepala dan panglima mereka. Tetapi Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa.” (ay 11). Perhatikan, meski hidupnya dipenuhi segudang kepahitan dan penderitaan, Yefta masih terus mengandalkan Tuhan tanpa henti. Yefta membawa seluruh perkaranya ke hadapan Tuhan.

Tuhan tidak melihat latar belakang seseorang untuk bisa memakai seseorang. Yefta yang terlahir dengan latar belakang begitu buruk ternyata mendapat kemurahan Allah secara melimpah. Bahkan sempat dikatakan bahwa Yefta dihinggapi Roh Tuhan. (ay 29) Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak memandang siapapun kita, dari mana kita berasal, apa masa lalu kita. Kepahitan Yefta bisa diubahkan Tuhan ketika ia membawa perkaranya ke hadapan Tuhan. Ia pun kemudian menjadi pahlawan Israel. Hal yang sama pun bisa terjadi pada kita jika kita memilih untuk mengutamakan Tuhan dan perintah-perintahNya lebih daripada sumber kepahitan dalam hidup ini.

Apakah anda hari ini mengalami kepahitan hidup akibat masa lalu? Apakah anda mengalami hubungan buruk dengan seseorang begitu berat, sehingga anda tidak bisa memaafkannya? Apakah kepahitan itu melahirkan kebencian yang luar biasa dalam hati anda yang tidak lagi bisa terobati? Apakah kepahitan membuat hidup anda lumpuh? Bring your case to God. Firman Tuhan berkata demikian: “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). Bawalah perkara itu ke hadapan Tuhan. Dia mampu melarutkan itu semua ke dalam kasih karuniaNya yang sempurna dan memulihkan kepahitan hidup anda. Seperti halnya yang terjadi pada Yefta, Roh Allah pun bisa tinggal dalam kehidupan kita. Caranya sudah diberikan dalam Kisah Para Rasul 2:38: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” Roh Kudus sendiri yang akan membimbing anda untuk mampu memaafkan, terlepas dari kepahitan dan mengalami hidup yang diubahkan. Pada suatu hari nanti, anda akan bisa memandang masa lalu dengan senyum dan rasa syukur, bahkan memakainya sebagai kesaksian hidup yang bisa memberkati banyak orang.

Ijinkan Tuhan melarutkan kepahitan yang paling pekat sekalipun ke dalam aliran kasihNya yang sempurna

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply