“The Signal”, Mengenal Getaran Batin

the-signal-poster11

Film The Signal bisa jadi akan didoyani oleh generasi muda zaman ini. Umumnya generasi muda zaman ini suka akan film yang tokoh-tokoh (utama)nya imut dan menggulati persoalan scientifik, petualangan, dan asmara. Rupanya The Signal menyuguhkan semua itu.

Simak saja film yang berdurasi 97 menit ini. Penonton serasa dibawa ke berbagai dimensi yang berbeda.

Mulanya Nic Eastman (Brenton Thwaites), pemeran Jonas dalam The Giver, Haley Peterson (Olivia Cooke) dan Jonah Breck (Beau Knapp) hadir memberi hiburan tentang petualangan remaja dengan mobil bututnya. Mereka bertiga sedang dalam perjalanan panjang ke California. Di sela-sela perjalanan, klip-klip kilas balik kehidupan Nic dan Haley yang terlihat mesra dimunculkan. Klip-klip tersebut mengajak penonton sepintas menemukan background kehidupan mereka.

Suasana berubah ketika Nic pada tengah malam dalam perjalanan ke California mendapat SMS dari Nomad. Suasana misteri dan dunia teknologi internet mulai mewarnai alur film.

Oleh Nomad, sang hacker yang sejatinya bernama Damon (Laurence Fishburne), mereka dibimbing ke suatu titik pertemuan, sebuah rumah tak berpenghuni. Tak terasa perjalanan ke California dibelokkan ke tujuan lain. Sesampainya di titik sasaran, dunia misteri dengan nuansa gelap mendominasi suasana film, memberi kesan angker.

Tetapi semua kemudian berubah saat Nic ditemukan dalam ruang rehabilitasi bersama orang-orang bermasker seolah-olah menghindari radiasi. Kisah selanjutnya petualangan cinta, dunia scientifik, aksi dan misteri teraduk bersama sampai film ini selesai.

Signal batin
Mungkin film ini akan sulit dipahami begitu saja. Generasi scientist senang menggunakan metafora dan simbol futuristik semacam luar angkasa, alien, kehebatan logika, teknologi komunikasi dan superhuman untuk menyampaikan pesan film.

Apakah The Signal yang dimaksud ialah Nomad yang menjadi sasaran pencarian trio remaja itu? Secara hariaf dapat diartikan demikian. De fakto, trio ini memang mengikuti koordinat si hacker yang memata-matai perjalanan mereka. Namun menurut beberapa komentator film, sinyal yang dimaksud ialah getaran dalam hati Nic untuk memenuhi panggilannya.  William Eubank sang direktor mengatakan bahwa film The Signal sebenarnya berkisah tentang konflik antara logika dan emosional.

Tokoh Nic lah si pelaku konflik itu. Di satu sisi Nic yang doyan berkomputer ria ditampilkan sebagai seorang yang menonjolkan logikanya dalam banyak keputusan dan menanggapi persoalan. Di sisi lain Nic bergulat untuk menyelesaikan urusan asmaranya dengan Haley. Akhirnya Nic mengenali sinyal yang menentukan hidupnya, yakni batinnya sendiri, bukan sinyal pemberian Nomad.

Selain itu, sang penulis film tidak setuju bila kemajuan zaman melulu mendewakan logika. Seolah-olah di era kemajuan zaman semua manusia diformat seperti robot dan alien. Ingat saja penyakit sosial yang disebarkan dalam masyarakat bahwa kemajuan teknologi membuat manusia berkhayal tentang zaman mendatang layaknya zamannya transformers yang syarat dengan teknologi mutakhir dan besi.

Damon, pemimpin proyek EBE (extra-terrestrial biological entity) membongkar rahasia ini kepada Nic, “Kamu adalah perpaduan sempurna antara kehendak manusia dengan teknologi alien. Pencapaian terbaik yang pernah kami temukan.”

Maka film ini mau menggarisbawahi seperti film-film lainnya bahwa kesempurnaan seorang manusia tercapai bila mampu mengolaborasikan dimensi intelektual dengan dimensi emosional. Tetapi lebih dari itu, kenali sinyal batin masing-masing. Jangan kita dikaburkan oleh banyak sinyal luar yang sepertinya menarik.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: