“The Prince”, Si Ayah Selalu Pahlawan

the_prince

SEMULA saya sulit memahami prolog sepanjang 2 menitan film The Prince. Pasalnya, hampir selama 30 menit pertama, peristiwa peledakan mobil yang ditayangkan dalam prolog dimana terdapat seorang ibu dan anak dengan kisah penculikan Beth (Gia Mantegna), gadis pelajar sebuah sekolah, belum terlihat hubungannya.

Baru pada menit ke-35, tahap demi tahap tersingkap koneksinya. Paul (Jason Patric), ayahnya Beth, terbang ke Lousiana untuk menemukan Beth yang diculik karena sebuah alasan dari masa lalu. Suami wanita dan ayah anak kecil yang tewas akibat ledakan dalam prolog film ini bernama Omar (Bruce Willis). Ia menculik Beth karena alas an balas dendam.

Omar, dedengkot kejahatan di wilayah New Orleans masih belum menerima kejadian 20 tahun yang silam. Ia menggunakan tangan kanannya, Mark (Jeong Ji-Hoon alias Rain) untuk memancing Paul keluar dari kandangnya.

Akhirnya, kemunculan Paul menyulut baku hantam dan tembak menembak diantara dua kubu tersebut. Kabar gembiranya ialah Omar, penjahat yang membangun kekuasaan dengan cara kotor beserta antek-anteknya dihabisi oleh Paul dengan bantuan Sam (John Cusack), teman lama Paul.

“DéjaVu”
Secara umum, film action yang dibintangi oleh aktor hebat seperti Bruce Willis, John Cusack, dan Jason Patric ini kehilangan roh action-nya. Menurut saya, permainan para actor ini adem dan kurang menggigit. Sepintas film The Prince maunya mengusung kegiatan para pembunuh berdarah dingin tetapi penampilan para bintang justru memberi kesan film ini membosankan.

Selain itu, bagi mereka yang telah menonton film Stolen-nya Nicholas Cage atau Taken-nya Liam Neeson tentu bisa melihat kemiripannya. Semuanya tentang penculikan anak perempuan oleh gang tertentu. Lalu sang penolongnya adalah si ayah dari anak perempuan.

Setelah diselidik, ternyata si ayah punya latar belakang “jagoan”.

Dengan lain kata, plot serupa dari the Prince sudah pernah digunakan oleh film lainnya. Oleh karenanya, ketika saya menonton film ini, pikiran saya sibuk dengan dugaan, “Sepertinya saya sudah pernah menonton film macam ini. Film apa ya?”

Merasa déjavu kali.

Lalu apa yang bisa dipetik dari film selama 93 menit arahan Brian Miller?

Bagi saya, film ini terlalu maskulin. Lihat saja sebagian besar pemain the Prince adalah lelaki dengan dibalut dunia kekerasan. Tetapi film ini juga mau menampilkan pattern andalan seorang ayah versi Hollywood: heroic, caring (gelisah dengan keselamatan putrinya), dan selalu solo career (semua diberesin sendiri).

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: