“The Giver”, Kegagalan Utopian Community

The_Giver_posterUNTUK  memiliki suatu perfect society, filsuf Plato menawarkan gagasannya dalam The Republic tentang kriteria keadilan, tatanan sosial dan karakter kota yang adil. Namun gagasan filsafat politik ini belum sukses untuk menghantar kota-kota kecil (polis) pada impian perfect society. Lalu Agustinus menulis De Civitate Dei yang mengupas tata kenegaraan mesti mengacu pada tatanan kehidupan surga. Terjadinya […]

The_Giver_poster

UNTUK  memiliki suatu perfect society, filsuf Plato menawarkan gagasannya dalam The Republic tentang kriteria keadilan, tatanan sosial dan karakter kota yang adil. Namun gagasan filsafat politik ini belum sukses untuk menghantar kota-kota kecil (polis) pada impian perfect society.

Lalu Agustinus menulis De Civitate Dei yang mengupas tata kenegaraan mesti mengacu pada tatanan kehidupan surga. Terjadinya kerecokan dalam pemerintahan sekular mendorong Agustinus untuk mempromosikan suatu tatanan sosial yang lebih bermartabat dengan memberi tempat Allah dalam pemerintahan dunia.

Pada awal abad ke-18, lahir utopian communities di Eropa yang menerapkan prinsip-prinsip sosialisme. Sebagai misal Henri de Saint-Simon dan Robert Owen mengusung gagasan masyarakat imaginatif futuris dan idealis. Komunitas-komunitas ini semacam gheto yang menerapkan aturan hidup layaknya biara kuno demi terciptanya kesetaraan, keadilan, perdamaian, dan swasembada pangan.

Begitulah dari zaman ke zaman bermunculan gagasan untuk mewujudkan perfect society. Namun umumnya eksistensi komunitas tersebut hanya seumur jagung.

Kegagalan penyeragaman
“Mengapa utopian communities tersebut gagal?” Bisa jadi film baru The Giver, yang sejatinya diangkat dari novel tahun 90-an, bermaksud menjawab pertanyaan tersebut.
The Giver menampilkan sebuah utopian community yang hidup pada tahun 2048. Komunitas ini memiliki sekelompok tetua (Elders) dengan seorang Chief Elders (Meryl Streep). Merekalah lembaga tertinggi dalam struktur komunitas tersebut.

Komunitas ini menghilangkan warna. (Maka jangan kaget ketika menyaksikan film ini Anda serasa kembali ke zaman dulu saat TV berwarna belum ditemukan). Di sana golongan lansia dipisahkan dari anak dan dewasa sehingga golongan muda tidak pernah menyaksikan dan berpikir tentang kematian. Juga komunitas ini berusaha menciptakan kesetaraan melalui penyeragaman bentuk rumah, kendaraan onthel dan distrik-distriknya. Tata krama sangat dijunjung tinggi lewat perkataan yang sopan dan baik.

the-giver-movie-actors

The Giver and Chief Elder: Dua aktor-aktris papan atas Hollywood yakni Merryl Streep and Jeff Bridges membintangi film “The Giver” ini.

Selain itu, Elders menentukan peran dan fungsi anak yang telah dewasa (pekerjaan) demi kelangsungan komunitas. Dan yang paling ditonjolkan dalam film buatan Amerika ini ialah penghapusan ingatan dan emosi dari anggotanya.

Lewat tokoh The Giver (Jeff Bridges) yang menurunkan ingatan kepada Jonas (Brenton Thwaites) yang menyandang gelar the Reciever of Memory, tatanan komunitas diobrak-abrik. Ternyata, ketentraman yang selama ini berlangsung di tempat itu dibuat dengan merepresi kemanusiaan anggotanya. Tanpa disadari anggota komunitas diprogram bagaikan robot. Sisi emosional mereka dimatikan.

Lebih parah lagi, pikiran mereka hanya di isi oleh data yang diperlukan untuk kepentingan komunitas. Sementara ingatan yang dapat membahayakan ketentraman dan kelangsungan komunitas diblok.

Kendati komunitas ini terlihat baik-baik saja karena penyeragaman namun di sisi lain tanpa disadari terjadi penindasan sisi kemanusiaan para anggotanya. Inilah kunci dari kegagalan utopian community, membangun ketentraman dengan merampas anugerah dasar bagi manusia: cinta dan akal budi.
Jonas dan Mesias

Tokoh the Giver, Jonas sang receiver, dan bayi yang dibawa oleh Jonas mengingatkan kita pada Allah-nabi–Yesus. Tiga sekawan tersebut mau mematahkan kuk penindasan dalam komunitas itu, yang sebenarnya mikrokosmos dari dunia ini.

The Giver terus mewahyukan kebenaran lewat transmisi ingatan. Jonas bertugas mewartakan ini. Ia mengajak Fiona dan Asher, sohibnya, untuk hidup dalam kesadaran yang didapat dari The Giver.

Rupanya ajakan Jonas bak singa mengaum di padang gurun, tidak berpengaruh besar. Mereka lebih nyaman dengan keadaan itu kendati harus merepresi dorongan cinta dan mematikan ingatan. (Ingat bangsa Israel yang senang dijajah oleh Mesir ketimbang hidup susah di padang gurun).

Jonas akhirnya mendedikasikan hidupnya untuk si bayi yang harus dibawa dan dididik sehingga kelak kemudian akan mengenal kebenaran. Ketika Jonas berhasil melewati perbatasan the Elsewhere, terdengar senandung lagu natal dalam sebuah rumah (home).

Ending ini bagaikan inspirasi besar: Apakah bayi itu tak lain si kecil yang hadir dipalungan untuk kemudian membawa pembaharuan dan mematahkan kuk penindasan yang terjadi dalam perfect society yang sebenarnya tidak perfect tersebut?

Silahkan Anda melanjutkan refleksi ini dengan menontonnya. Dijamin Anda menyukainya.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply