“The Finest Hours”, Menguji Kualitas Hidup Manusia

DALAM hidup ini, manusia ini kadang berbuat aneh atau berperilaku “di luar kebiasaan”. Saat semua berjalan lancar dan keseharian hidup berlangsung aman, tenang, dan nyaman, maka pola relasional manusia juga begitu-begitu saja. Namun, dalam kondisi hidup yang nyaris berpapasan dengan bahaya maut –apalagi di ujung kematian—maka pola relasional manusia tiba-tiba bisa saja berubah.

Hubungan suami istri bisa renggang di kala hari-hari ‘biasa’. Namun, ketika sakratul maut mau menjemput salah satu dari mereka, hubungan ‘datar’ bisa menjadi intensif. Permohonan maaf diungkapkan dan kualitas hidup keduanya menjadi lebih ‘berwarna’ karena di situ ada pengampunan.

Itu sekedar contoh saja. Namun, dalam alam kehidupan yang nyata, pola relasional manusia seperti itu agaknya lazim terjadi dimana pun. Tak terkecuali di belahan dunia Barat –tepatnya di Massachussetts, Amerika—sebagaimana tergambar apik dalam film anyar bertitel The Finest Hours ini.

Lebih intensif
Sebagaimana tergambar dalam judulnya yakni The Finest Hours, pola hubungan relasional antara Bernard ‘Bernie’ Webber (Chris Pine) dengan kekasihnya Miriam Pentinen (Holliday Grainger) sebenarnya ‘dingin’ seadem hawa Massachussetts yang di tahun 1952 baru dihantam badai salju. Ketika Miriam meminta Bernie segera meminangnya, Chris dilanda keraguan hingga kemudian Miriam ‘melarikan diri’.

Di ujung cerita, Chris Pine berusaha minta izin atasannya Komandan Daniel Cluff (Eric Bana) untuk merestui rencana perkawinannya. Namun, untung tak tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak. Persis ketika dia ingin mengutarakan rencana perkawinannya, Cluff malah menugasinya melakukan operasi evakuasi penyelamatan bagi awak kapal tanker SS Pendleton yang terseok karam di perairan Chatham.

the finest hours by youtubeMenunggu hari baik agar sekali waktu ada kapal penyelamat yang berhasil membawa mereka selamat menuju daratan. (Ist)

Miriam dilanda kekecewaan berat. Ia merasa ditinggalkan Bernie, sekaligus marah besar karena Cluff  ‘telah’ mencelakakan Bernie masuk ke pusaran lautan ganas. Kegalauan hati membuat Miriam buta mata hingga mobilnya terperosok parit di tengah badai salju.

Di lautan yang ganas dan bersama awaknya yang masih ingusan seperti Andrew Fitzgerald, Ervin Maske, dan Richard P. Livesey, Bernie berjuang bertaruh nyawa mengalahkan amukan badai lautan yang ganas. Karena sudah hafal kawasan itu, dia berhasil ‘menemukan’ bangkai kapal SS Pendleton dan kemudian mengevakuasi seluruh 32 awak kapalnya. Konon, ini kisah penyelamatan kapal kecil yang paling berhasil dalam sejarah perkapalan di dunia.

Pertarungan nilai

The Finest Hours adalah pertarungan hidup-mati antara ketakutan dan keberanian “menyabung’ nyawa. Di SS Pendleton, awak kapal bernama Ray Sybert juga bertarung opini melawan pendapat umum mengenai perlu-tidaknya menyelamatkan diri melalui sekoci. Sementara, di atas geladak kecil kapal penyelamat CG 36500, Bernie bertarung melawan kekerdilan hatinya untuk kemudian memompa rasa percaya diri dengan meyakinkan kawan-kawannya bahwa evakuasi ‘bunuh diri’ itu akan berhasil.

Rupanya memang mereka berhasil menemukan para pelaut SS Pendleton yang tengah menyabung nyawa dan akhirnya membawa mereka pulang selamat. Di ujung cerita menjadi jelas, bahwa akhirnya kualitas hidup orang  itu bisa ‘meningkat’ setelah mengalami gelombang kehidupan yang begitu ganas. Sama seperti kapal penyelamat CG 36500 yang  harus mampu bertahan melawan ganasnya badai dan ombak. Atau, Miriam yang harus berani mengatasi kegalauan hatinya dan tetap mempercayai Bernie sebagai orang baik dan punya moralitas tinggi untuk berkoban dan menyelamatkan orang lain.

Kisah nyata kehidupan

The Finest Hours adalah film yang diangkat dari kisah nyata. Karenanya, film ini sarat dengan nilai moral yang mendewasakan kita. Tidak melulu bicara tentang romantisme anak-anak muda Massacchussetts, melainkan soal ‘pertarungan batin’ antara kelemahan jiwa dan semangat hidup yang meletup-letup hingga kemudian melahirkan komitmen kehidupan.

Pada hemat saya, The Finest Hours adalah film bagus. Sound-effect-nya luar biasa hingga bisa menggambarkan dahsyatnya gelombang dan badai lautan. Musiknya juga hebat, karena mampu menggelembungkan rasa takut manusia ketika besi beradu besi hingga kemudian mengalami keretakan.

Yang lebih mengesankan tentu saja, bagaimana film tentang kisah cinta remaja ini mampu bicara tentang kisah kehidupan para penjaga pantai (US Coast Guard). Yakni, kisah mereka yang berjuang menyelamatkan orang lain dengan risiko hidup mereka sendiri bisa berada  di ujung kematian.

Konon, kisah yang terangkat dalam The Finest Hours ini merupakan kisah paling heroik dalam sejarah hidup para US Coast Guard sepanjang sejarah. Terutama kisah para awak penjaga panti  dalam upayanya menyelamatkan orang yang terhempas di lautan karena ganasnya badai dan ombak.

Dalam alam kehidupan yang nyata, usai berhasil membawa awak kapal SS Pendleton pulang selamat, Bernie akhirnya resmi mengawini Miriam. Mereka hidup bahagia sebagai suami-istri hingga usai perkawinan mereka menginjak angka 58 tahun. Bersama kawan-kawanya yang mengayuh kematian di geladak kapal penyelamat CG 36500, Bernie dianugerahi bintang Gold Lifesaving Medal.

avatar Co-founder dan chief editor Sesawi.Net; Media & Communication Manager di United Cities and Local Governments Asia-Pacific. mhariyadi@sesawi.net, mhariyadi@yahoo.com

Sumber: Berita Seputar Jesuit

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: