“The Expendables 2”, Kejamnya Sejahat Namanya

UNTUK saya, indahnya sebuah film bukan karena adegan degebak-gedebug-nya alias action kerasnya. Melainkan batin saya bisa terpuaskan selama nonton lantaran jalinan ceritanya yang menarik.

Apakah rumit atau sederhana ceritanya, hal itu tak terlalu penting. Utamanya, jalinan ceritanya harus masuk akal dan bahkan menantang pikiran  seakan kita  lagi  main tebak-tebakan. Bila seperti ini,  maka sepulang dari gedung bioskop, saya pun lalu merasa impas dengan besaran uang yang mesti dikeluarkan untuk membayar tiket nonton.

Film berjenis cameo yang mengobral banyak bintang keras papan atas ini sungguh hanya mengobral kekuatan otot, tapi dengan mudah lalu menafikkan logika berpikir para penontonnya. Mari kita rinci satu per satu kekonyolan yang terjadi dalam The Expendables 2 ini.

  • Dibilang sama Church (Bruce Willis) kalau Maggie Chan (Yu Nan) itu perempuan perkasa dan bisa diandalkan. Namun, sepanjang film berputar, tak ada yang istimewa pada perempuan jago kepruk  ini selain berhasil memaksa warga lokal Bulgaria buka mulut tentang projek jahat kelompok preman Slang pimpinan Jean Vilain (Jean-Claude van Damme);
  • Misi selamatkan bos bisnis asal China tidak jelas juntrungannya  hingga mengapa sampai-sampainya jagoan kungfu Yin Yang (Jet Li) berani nekad terjun payung dari ketinggian sembari memboyong turun bos besar itu keluar dari perut pesawat dengan parasut. Bisa jadi, karena Jet Li sibuk syuting film lain, maka jalinan ceritanya dibuat begitu sehingga ia tampil tak lebih dari 5 menit saja;
  • Bagaimana mungkin penjahat kelas kakap seperti Jean Villain membiarkan diri menghadapi risiko mati di tangan Barney Ross (Sylvester Stallone) dan rela kehilangan milyaran dolar hanya demi sebuah gengsi?

Ya sudahlah, namanya saja film kemasan Hollywood memang tidak selamanya bagus. Yang pasti film The Expendables 2 ini sejahat tokoh pentingnya yakni Jean Villain. Sekedar tahu saja dalam bahasa Perancis, kata vilain tak lebih tak bukan berarti ‘preman tengik’.

Misi di Bulgaria

Memanglah, setelah sukses menyelamatkan Trench (Arnold Schwarzenegger) dari kepungan para preman kampung di sebuah kawasan Nepal, kelompok tentara bayaran ini langsung menuju Bulgaria. Perjalanan panjang ke Bulgaria ini sebenarnya terjadi, karena datang ancaman Church kepada Ross atas tuduhan sudah menghilangkan uang jutaan dolar karena telah membuat porak-poranda misi CIA.

Untuk mengemban misi khusus ini, rombongan pemburu bayaran ini mengajak anggota timnya yang tangguh. Di antaranya Lee Christmas (Jason Statham), Yin Yang, Hale Caesar (Terry Crews), Toll Road (Randy Couture), Gunnar Jensen (Dolph Lundgren), dan tak ketinggalan sniper berbakat Billy the Kid yang diperankan aktor Austrlia Liam Hemsworth.

Ikut bergabung dalam misi rahasia ini, sekali perempuan jago kepruk Maggie Chan, namun yang ketokohannya tidak sangat menonjol sebagaimana diiklankan oleh Church –operator CIA yang mengirim Chan ikut dalam misi ini.

Namun, misi ini gagal setelah Billy tertangkap tangan oleh kelompok Slang pimpinan Jean Vilain. Nah, seperti judul tulisan ini ‘jahatnya sama seperti namanya’ maka Billy harus merenggang nyawa di tangan Vilain.

Ambisi Vilain merebut peta lokasi penimbunan uranium sisa-sisa pasukan Uni Soviet dalam Perang Dingin tak hanya berhenti dengan menusuk telak ulu hati Billy the Kid. Vilain –yang sejahat namanya ini—juga memperlakukan seluruh penduduk di sebuah permukiman di Bulgaria untuk projek kerja rodi: menemukan lokasi dimana timbunan uranium Uni Soviet itu disembunyikan.

Singkat kata, ‘pasukan’ pemberani Barney Ross datang mengendus keberadaan kelompok preman tengik ini. Nah, baku tembak pun bertebaran kemana-mana dan berlanjut di sebuah lapangan udara. Sebelumnya, pada saat-saat genting, tiba-tiba saja bisa muncul tokoh sniper kawakan bernama Booker (Chuck Norris) yang membebaskan mereka dari kepungan musuh.

Dengan satu senapan mesin otomatis, maka sekampung musuh berikut tank mereka bisa luders dihajar Booker. Kata pelawak Srimulat, inilah ‘hil yang mustahal’ alias maunya mengesankan sebagai, namun ternyata tidak  lucu karena mengecoh logika berpikir penonton.

Kalau pun harus dibilang menghibur, maka The Expendables 2 ini justru menghibur karena adegan-adegan konyolnya yang tidak bisa membuat saya ketawa. Jadilah, saya menertawakan diri sendiri karena logika penonton kali ini bisa dibuat tak berdaya oleh sebuah skenario film yang hanya  menjual banyak nama bintang papan atas.

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: