The Apprentice

Ayat bacaan: Yosua 1:5
===================
“Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”

the apprentice, yosua, musa

Ada sebuah acara reality show yang pernah saya ikuti hingga beberapa season. Judulnya The Apprentice. Ini adalah sebuah reality show tentang kompetisi dari berbagai orang-orang pilihan yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Donald Trump mengepalai acara ini dan memberikan berbagai tugas. Setiap minggu akan ada satu orang dikeluarkan jika gagal. Kata-kata “You’re fired” menjadi sangat terkenal dalam acara ini. Sebaliknya pemenangnya akan mendapatkan pekerjaan di salah satu bagian dalam jaringan Trump. Mengapa saya suka acara ini? Ada banyak hal. Pertama, saya melihat ada banyak hal yang ternyata tidak bisa dipelajari dari text book semata. Text book bolehlah menjadi dasar, tapi ada kalanya kita perlu melakukan improvisasi dan belajar langsung dari segala sesuatu yang kita lihat dan hadapi di lapangan. Kedua, orang-orang yang memiliki hati yang kaku dan keras biasanya akan gagal sejak awal. Orang yang mau belajar dan tahu bagaimana bekerja sama dalam tim, merekalah yang biasanya menang. Ketiga, pengalaman hidup biasanya berpengaruh penting dalam keberhasilan seseorang. Keempat, ada begitu banyak tantangan dalam tiap episode, ini gambaran bagaimana kita menghadapi hal yang sama dalam hidup kita setiap harinya.

Bicara soal “The Apprentice”, saya teringat akan Yosua. Yosua adalah pribadi yang istimewa. Kita bisa melihat perannya dalam banyak bagian di Perjanjian Lama. Kita tahu Yosua pernah diutus sebagai satu dari selusin mata-mata untuk mengintai tanah Kanaan. (Bilangan 13:8,16). Yosua juga dikenal sebagai prajurit perang yang gagah berani melawan orang Amalek. (Keluaran 17:8-16). Tapi disisi lain, Yosua pun sering dikenal hidup dibawah bayang-bayang Musa. Yosua menjadi abdi Musa, mengikutinya dengan setia selama 40 tahun. (Keluaran 24:13). Dalam perjalanan hidup Yosua menjadi abdi Musa ia mengalami banyak pengalaman berharga. Salah satunya adalah ketika Yosua melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri peristiwa perjumpaan Musa dengan Tuhan. “Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu.” (Keluaran 33:11). Begitu terpesonanya Yosua melihat kejadian itu, sampai-sampai ia masih tinggal di dalam kemah ketika Musa sudah keluar dari sana. Saya yakin pada waktu itu Yosua merasakan hadirat Tuhan yang begitu menakjubkan sehingga hal ini berpengaruh banyak dalam keimanannya.

Meski Yosua adalah pribadi yang gagah berani, namun ia memiliki sikap rendah hati yang luar biasa. Selama 40 tahun ia belajar banyak dari Musa. Ia belajar bagaimana bersikap rendah hati lewat sikap Musa. “Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.”(Bilangan 12:3) Dalam bahasa Inggris “lembut hati” dikatakan sebagai “very meek (gentle, kind and humble)”. Yosua belajar bagaimana patuh pada perintah (Keluaran 17:10), dan juga bagaimana menjadi hamba Tuhan menggantikan Musa. (Yosua 1:1, 24:29). Menjadi abdi Musa selama 40 tahun membuat Yosua mendapatkan banyak pelajaran berharga, yang mungkin tidak akan bisa didapatkan dari text book. Tidak heran jika semua ini membentuk Yosua menjadi pribadi tangguh dengan karakteristik yang berkenan di hadapan Tuhan. Sehingga ia pun diangkat menggantikan Musa untuk membawa bangsa Israel memasuki tanah Kanaan yang dijanjikan Tuhan. “Kepada Yosua bin Nun diberi-Nya perintah, firman-Nya: “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan membawa orang Israel ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada mereka, dan Aku akan menyertai engkau.” (Ulangan 31:23), “Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” (Yosua 1:5). Tidak sembarangan orang bisa mendapatkan kehormatan tinggi seperti ini. Namun kita melihat bagaimana Yosua memiliki hati yang lembut untuk dipersiapkan selama jangka waktu yang panjang untuk menjadi penerus Musa. Dan hasilnya? Ia pun menerima tongkat estafet menggantikan Musa langsung dari Tuhan. Seandainya Yosua memiliki sikap tinggi hati dan sombong, niscaya ia pun tidak akan mendapatkan kehormatan itu.

Tuhan meluangkan waktuNya untuk membentuk dan mempersiapkan kita. “Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita.” (2 Korintus 5:5), “Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Timotius 3:17). Dalam masa-masa kita dipersiapkan, ada kalanya kita mengalami banyak hal. Apakah kita mempergunakan berbagai kejadian dalam masa-masa itu untuk belajar, mendapatkan pengalaman berharga seperti Yosua, atau kita memilih untuk mengeluh dan bersungut-sungut seperti halnya bangsa Israel? Apa yang menjadi pilihan kita menentukan apa yang akan kita peroleh sebagai hasil akhir. Masa-masa persiapan bisa manis, bisa pahit, tapi adalah pilihan ada pada kita, apakah kita mau memakainya sebagai sarana pembelajaran atau hanya diisi oleh keluh kesah belaka. Oleh karena itu, hendaklah kita semua memiliki hati yang lembut untuk menerima ajaran Tuhan. “Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.” (Yakobus 1:21). Amarah tidak akan pernah mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. (ay 20). Hadapilah masa-masa persiapan kita dengan hati yang lembut. Mungkin lama, mungkin sakit, namun semua itu akan sangat berharga pada suatu saat nanti. “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” (Ibrani 4:7b).

Sikap membangkang dan keras hati tidak akan mengarahkan kita untuk menjadi pemimpin

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply