Terus Berlari Seperti Akhwari

Ayat bacaan: Ibrani 12:1
===================
“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”


Olimpiade Beijing 2008 telah bergulir. Ketika mata penggemar olah raga sedang tertuju kesana, saya ingat sebuah kisah luar biasa yang terjadi pada Olimpiade di Mexico City tepat 40 tahun yang lalu (1968). Ada seorang pelari maraton asal Tanzania yang sensasional direkam sejarah. John Stephen Akhwari namanya.

Ia menjadi tajuk berita bukan karena memecahkan rekor finish tercepat, bukan pula karena memenangkan medali emas. Dia justru finish di tempat terakhir. Para pelari lain telah menyelesaikan perlombaan lebih dari satu jam sebelumnya. Stadion pun sudah hampir kosong. John Stephen Akhwari kemudian terlihat memasuki stadium dengan tertatih-tatih, kakinya dibalut dan terlihat berdarah. Ini yang terjadi: ketika memasuki kilometer ke 19, ia terjatuh karena tubrukan. Akhwari mengalami luka menganga di lutut kanannya dan mengalami masalah dengan persendian bahunya. Dalam kondisi demikian, semua orang akan maklum jika ia mengundurkan diri. Bayangkan terus berlari dengan lutut terluka parah, dan bahu lepas dari persendian. Mungkin membayangkannya saja kita sudah bergidik. Tapi apa yang diputuskan oleh Akhwari adalah luar biasa. Dia meneruskan perlombaan dengan segenap sisa kekuatan yang ada, dan bisa mencapai finish. Mungkin bagi sebagian orang ia dianggap bodoh, minimal heran akan keputusannya. Wartawan pun bergegas menanyakan apa yang menyebabkan ia terus berlari meski tahu bahwa ia tidak mungkin lagi menang. Akhwari memberi jawaban: “My country did not send me 5,000 miles to start the race,They sent me 5,000 miles to finish it.”

Inilah sebuah sikap yang harus kita miliki dalam proses perjalanan kehidupan kita. Seperti yang tertulis pada ayat bacaan hari ini, ada perlombaan yang diwajibkan bagi kita, dan kita diminta untuk terus berlomba dengan tekun meskipun begitu banyak beban dan dosa siap merintangi kita. Akhwari berkata bahwa yang membuatnya kuat dan terus berlari adalah membayangkan kedua orang tua dan negaranya. Dan itu membuatnya terus punya kekuatan dalam kondisi yang hampir mustahil. Dalam perlombaan wajib kita pun demikian. Kita akan terus punya kekuatan dalam kondisi seberat apapun, jika kita melakukannya dengan mata yang tertuju pada Yesus, yang selalu memimpin kita ke dalam iman menuju kesempurnaan (Ibrani 12:2). Ketika rintangan menghadang, ketika dosa menghampiri, ketika beban terasa berat, ketika kita mulai merasa sulit untuk mendaki kehidupan, arahkan fokus kepada Yesus. Dia sumber kekuatan kita, Dia sumber keselamatan kita.

Dalam renungan terdahulu ada kisah Zoe Koplowitz yang punya semangat luar biasa sehingga mampu mencapai finish dengan kondisi fisik yang tak memungkinkan, hari ini kita belajar dari Akhwari bagaimana semangat dan fokus yang benar bisa memberi kekuatan untuk mencapai finish dengan spektakuler. Hidup ini bukanlah mengenai seberapa banyak harta yang bisa kita kumpulkan, bukan seberapa banyak penghargaan yang kita peroleh, bukan puji-sanjung orang, bukan status dalam strata sosial, tapi bagaimana kita tetap hidup dalam pengharapan, bagaimana kita fokus mencapai finish sebagai pemenang sesungguhnya dengan memusatkan mata, hati dan pikiran kita kepada Yesus. Akhwari tidak menerima medali emas dari perlombaannya, tapi di kemudian hari pada tahun 1983 ia menerima penghargaan National Hero Medal of Honor. Kisahnya masih diingat orang hingga saat ini, sementara pemenang lomba maraton pada olimpiade 1968 itu sudah dilupakan orang. Inilah buah dari sebuah ketekunan, semangat pantang menyerah dan visi seorang pemenang sejati. Mari kita belajar untuk setegar Akhwari, sehingga kitapun bisa mencapai finish dengan sukacita dan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah. (Yakobus 1:12).

Teruslah berlari dan jadilah pemenang sejati

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply