Tertindas Itu Ada Baiknya

Ayat bacaan: Mazmur 119:71
==========================
“Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.”

tertindas itu ada baiknya, dibentuk ulang

When life’s good, God is good. When life isn’t, that means He’s not either. Ada banyak orang yang beranggapan demikian. Bersungut-sungut, mengeluh, bahkan ada yang mulai meragukan kebaikan Tuhan atau malah meragukan eksistensi Tuhan. Tuhan itu pilih kasih, Tuhan itu tidak adil, dan berbagai “pendapat miring” mengenai Tuhan akan mudah terlontar dari banyak orang ketika mereka tengah terhimpit berbagai persoalan. Benarkah demikian? Apakah Tuhan sedemikian semena-mena? Saya pernah mengalami yang namanya terhempas dalam waktu singkat. Seperti roda berputar cepat, hidup saya berubah drastis hanya dalam hitungan bulan. Tidak lama setelah ibu saya sakit keras dan meninggal, usaha bangkrut, dan saya pindah ke kota lain, kota yang hingga kini saya tempati, memulai segalanya dari 0 lagi. Starting again from zero. Itu yang saya alami saat itu. Bertahun-tahun setelahnya pun saya masih mengalami kesulitan demi kesulitan. Tapi hari ini, melihat ke belakang, saya bersyukur mengalami itu semua. Mengapa demikian? Karena lewat semua penderitaan itu ternyata pribadi saya dibentuk ulang. Saya yang tadinya angkuh, merasa tidak butuh siapa-siapa, secara perlahan diubah Tuhan. Dibentuk ulang selama beberapa tahun secara bertahap. Tidak hanya dari segi mental dan kekuatan, tapi terlebih dari segi iman. Saya belajar lewat pengalaman, bahwa mengandalkan kekuatan sendiri itu tidak akan pernah cukup. Saya belajar mengenal dan kemudian mengandalkan Tuhan dalam hidup. Jika hari ini saya bisa bekerja dengan baik, keberhasilan demi keberhasilan yang kadang tidak terduga kerap tampil, jika hari ini saya sudah setahun lebih menuliskan renungan yang mudah-mudahan bisa memberkati teman-teman di manapun anda berada, itu adalah karena saya melewati proses pembentukan Tuhan lewat penderitaan itu. Jika itu tidak saya alami, mungkin saya masihlah “ciptaan lama”, yang tidak menyadari atau menghargai kasih Tuhan, dan saya akan berakhir di tempat yang salah, terpisah dari Tuhan untuk selamanya. Adalah jauh lebih baik jika saya dibentuk saat masih di dunia, se-menyakitkan apapun, ketimbang saya dibiarkan sesat dan diganjar akhir yang tragis. Saya sangat bersyukur karena pernah mengalami semua penderitaan itu.

Belajar dari kesalahan, belajar dari rasa sakit. Kita tidak akan bisa mahir naik sepeda jika tidak pernah merasakan sakitnya terjatuh dari sepeda. Kita tidak akan pernah bisa menghargai kesehatan sebelum kita merasakan sakit. Kita tidak akan hati-hati terhadap api sebelum merasakan sakitnya jika tangan kita bersentuhan dengan api. Terkadang kita memang perlu merasakan penderitaan, sehingga kita akan menghargai yang namanya kebahagiaan dengan sungguh-sungguh. Ada banyak pelajaran yang hanya bisa kita peroleh melalui penderitaan, penindasan atau kegagalan. Tuhan bisa menggunakan itu semua untuk mengoreksi kita. Daud menyadari hal itu. Ketika ia mengalami berbagai penindasan dan kesukaran, ketika ia berada dalam kesesakan, Daud menanggapinya dengan berpikir positif. “Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu.” (Mazmur 119:67). Itu kata Daud. Dan kemudian ia melanjutkan: “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” (ay 71). Daud menyadari bahwa berada dalam posisi tertindas itu baik adanya, karena lewat semua itu ia belajar ketetapan-ketetapan Tuhan, menyadari bahwa ia harus belajar untuk mengandalkan Tuhan dan bukan manusia.

Satu hal yang saya alami, Tuhan tidak membiarkan saya sendirian melewati penderitaan. Dia senantiasa menyertai, seperti janjiNya. “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati” (Ulangan 31:8). Sewaktu-waktu Dia memberikan kekuatan, ketegaran, sehingga saya bisa melewati proses pembentukan itu dengan baik. Pada saat dibentuk memang sakit, tapi manfaatkanlah proses-proses itu untuk belajar patuh mengikuti firman Tuhan. Dan lihat apa kata Tuhan ketika hidup kita berkenan padaNya. “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” (Mazmur 37:23-24). Itu semua sudah saya alami. Betapa luar biasanya baiknya Tuhan!

Jika ada di antara anda saat ini yang tengah merasakan penderitaan, belajarlah dari penderitaan itu, dan jadilah seorang pemenang. Tuhan bisa memakai masalah sebagai sarana untuk mengoreksi kita. Lewat penindasan atau penderitaan Tuhan bisa mengikis ego kita, membuat kita menjadi pribadi baru yang seturut dengan kehendakNya. Jangan sia-siakan, jangan keraskan hati. Pada suatu hari nanti, anda akan bersyukur pernah dilatih Tuhan melalui penindasan atau masalah untuk menjadi pribadi yang kuat, tegar dan taat, yang berkenan di hadapanNya.

Lewat masalah atau pergumulan kita bisa diubah Tuhan untuk menjadi ciptaan baru

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply