Tertawalah (Selagi Masih Bisa?)

Ayat bacaan: Amsal 17:22===================”Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.””Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.” Jargon ini melekat erat pada sebuah grup lawak yang sangat terkenal di akh…

Ayat bacaan: Amsal 17:22
===================
“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”

“Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.” Jargon ini melekat erat pada sebuah grup lawak yang sangat terkenal di akhir 70an sampai dua dekade berikutnya. Mengingat pada masa itu pemerintahan masih bersifat sangat represif yang memperbolehkan pemerintah mengintervensi dan mengangkangi kebebasan orang untuk menyuarakan pendapat, kalimatnya menjadi terdengar sangat relevan sekaligus lucu. Dalam banyak hal di kehidupan nyata, kalimat ini masih agak-agak nyambung juga. Mungkin bukan pakai kata ‘dilarang’, tapi diganti sedikit dengan ‘selagi masih bisa’. Jadi kalimatnya berubah menjadi “Tertawalah selagi masih bisa.” Rata-rata manusia akan tertawa saat berada dalam keadaan baik, tapi akan segera kehilangan sukacita yang bisa membuat mereka tertawa lepas saat masalah mulai muncul dalam hidup mereka, bahkan meskipun hanya sedikit atau ringan. Jangankan tertawa, senyum pun berat. Seperti ada pemberat yang digantungkan di kedua ujung bibir sehingga sulit sekali untuk bisa melengkungkan mulut ke arah atas, sebaliknya sangat mudah untuk menekuk ke bawah. Air muka keruh atau murung. Kalau sudah begitu tertawa pun sudah tidak lagi bisa.

Berbagai penelitian medis sejak lama menyatakan bahwa tertawa itu sebenarnya sehat. Tertawa bahkan dipercaya bisa menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan bisa memperpanjang usia. Sebaliknya orang sehat pun lama-lama bisa jatuh sakit jika tidak lagi ada kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidupnya. Tidak satupun penelitian yang menyimpulkan sebaliknya bahwa tertawa itu berbahaya bagi kesehatan. Kita sudah tahu betul akan hal itu, akan tetapi kita seringkali tidak mampu untuk mengatasi berbagai perasaan negatif yang bercokol di dalam kita. Ironisnya, bentuk kehidupan yang keras dan berat membuat kita lebih sering bergumul ketimbang berada dalam keadaan baik. Ketakutan, kekhawatiran, kekecewaan, kesedihan, penderitaan dan sebagainya, itu akan setiap saat sanggup merampas sukacita dari hidup kita dan dengan sendirinya menahan senyum atau tawa untuk terlukis di wajah kita.

Jauh sebelum penelitian-penelitian medis itu dibuat, Alkitab sudah terlebih dahulu menyatakannya. Dalam Amsal kita bisa menemukan itu, dimana tulisannya berasal dari orang yang paling berhikmat di dunia, yaitu Salomo. “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22). “Happy heart is a good medicine, and a cheerful mind works healing.” Itu yang tertulis dalam versi bahasa Inggrisnya dengan lebih rinci. Hati yang gembira itu obat yang manjur atau mujarab, dan pikiran yang bersukacita mendatangkan kesembuhan. Sebaliknya orang yang hatinya murung dikatakan akan mengeringkan tulang, atau mematahkan semangat. Ini sebuah ayat yang mungkin tidak lagi asing bagi kebanyakan dari kita, tetapi sudah sejauh mana kita mengaplikasikannya dalam hidup kita? Atau pertanyaan berikutnya, sudah tahukah kita bagaimana agar hati kita tetap berada dalam kondisi riang?

Kebanyakan orang seringkali keliru menggantungkan letak kegembiraannya. Kita cenderung menganggap bahwa gembira tidaknya kita sangatlah tergantung dari situasi, kondisi atau keadaan yang tengah kita alami hari per hari. Hati kita pun akan terus berada dalam situasi tidak menentu dan tidak stabil. Sebentar bisa gembira, sebentar bisa sedih. Sebentar tertawa, sebentar lagi menangis. Sekarang senang, tapi kemudian bisa penuh dengan amarah dan lain-lain. Tidakkah kita sering bertemu dengan orang yang mood nya swing, benar-benar tidak stabil? Baru saja tertawa ia bisa marah-marah, lalu menangis dan kemudian tertawa lagi. Mungkin kita sendiri juga seperti itu. Kita menyetir sambil tertawa riang, tiba-tiba ada pengemudi lain yang menyalip dengan sembrono dan seketika itu pula kita terpancing emosi.

Mendasarkan kepada situasi akan membuat hati kita terus berada dalam kondisi tidak stabil, dan itu tidak akan baik buat hati dan hidup kita. Di sisi lain, apakah kemurungan dan perasaan susah tidak akan membantu atau memberikan sesuatu yang baik? Itu tidak akan memberikan apa-apa selain menambah masalah saja. Dan Yesus sudah mengingatkannya sejak lama: “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Matius 6:27). Kuatir, sedih, murung atau perasaan-perasaan negatif lainnya tidak akan pernah memberi manfaat apapun. Dan apabila kita terus murung, tidaklah heran jika hari-hari yang kita lalui pun terasa buruk semuanya. Jadi bukan soal ada hari baik dan buruk, tapi lebih kepada bagaimana kita memandang hari-hari yang kita jalani. Lihatlah apa yang ditulis dalam Amsal berikut: “Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta.” (Amsal 15:15).

Alkitab pun sudah menyatakan sejak awal bahwa sebuah kebahagiaan sejati seyogyanya tidak tergantung dari situasi dan lingkungan sekitar, melainkan sesungguhnya berasal dari Tuhan. Ada banyak sekali ayat yang sebetulnya menyatakan hal itu untuk kita camkan sungguh-sungguh. Salah satunya berbunyi: “Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya.” (Mazmur 33:21). Sukacita atau kegembiraan yang berasal dari Tuhan pun ternyata mampu menular mempengaruhi orang lain. “Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.” (34:3). Kemana dan dimana kita menggantungkan kebahagiaan hati kita akan sangat menentukan seperti apa kita hari ini. Apakah kebahagiaan, keceriaan, keriangan yang terpancar dari dalam diri kita dan tercermin lewat senyum atau tawa lebar yang bisa membawa suasana senang bagi orang-orang disekitar kita, atau justru kehadiran kita membawa kemuraman dan suasana yang sama sekali tidak enak bagi mereka.

Apa yang anda inginkan untuk terlukis di wajah anda hari ini? The face of rage, anger, sadness, or the smiling face full of joy, happiness and laughter? Ketahuilah bahwa itu tidak tergantung dari kondisi yang tengah dialami, melainkan seberapa besar anda mengizinkan Tuhan berperan dalam hidup anda. Kita bisa memilihnya, bukan hanya diam pasrah membiarkan kondisi hati tidak menentu terombang-ambing dalam berbagai perasaan. Kegembiraan sejati sesungguhnya ada di dalam hubungan erat kita dengan Tuhan dan bukan kepada kondisi faktual kita. Hidup dalam penyertaan Tuhan akan bisa membuat kita tetap ceria dan tertawa meski situasinya sedang tidak kondusif.

Kita bisa melihat bagaimana cara Pemazmur untuk tidak mengizinkan sedikitpun rasa tidak tenteram atau gelisah merampas sukacita dari dirinya. “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram.” (Mazmur 16:8-9). Jika demikian, tersenyum dan tertawalah sekarang juga, dan nikmati hidup yang dipenuhi kebahagiaan sejati yang ada pada hidup yang digantungkan kepada Tuhan.

Sulit atau mudahnya tertawa bukan tergantung dari situasi tetapi dari seberapa dekatnya kita dengan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply