Tertawa Sebelum Dilarang

Ayat bacaan: Amsal 17:22===================”Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”Ingatkah anda dengan kalimat “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang?” Jargon ini kerap muncul di film-film Warkop p…

Ayat bacaan: Amsal 17:22
===================
“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”

Ingatkah anda dengan kalimat “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang?” Jargon ini kerap muncul di film-film Warkop pada masa jayanya dahulu kala. Mereka mempergunakan kalimat ini sehubungan dengan tema komedi yang mereka bawakan, tetapi bagi saya pesan ini punya gaung akan dua hal: mengacu kepada bentuk tirani pada masa pemerintahan saat itu dan sebuah pesan atau pengingat bahwa kita harus tetap bisa bergembira dan tertawa selagi masih ada kesempatan. Akan halnya poin kedua ini, semakin lama orang semakin sulit untuk bisa tertawa. Tersenyum saja sudah sulit, apalagi tertawa. Kesulitan hidup membuat banyak orang harus membanting tulang dua-tiga kali lipat untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Stres, depresi dan rasa tertekan memuncak. Harga terus naik, sementara pendapatan tetap kalau tidak malah berkurang. Kalau dahulu orang bisa pelan-pelan mengumpul uang untuk membeli sesuatu, hari ini kecepatan mengumpul sudah jauh dibawah kecepatan harga melambung. Kebutuhan terus bertambah. Kalau kebutuhan primer yang kita kenal mengacu kepada tiga hal yaitu sandang, pangan dan papan, teori Maslow mengatakan ada 7 kebutuhan utama yang membuat banyak orang memacu dirinya bagai kuda mengejar pemenuhan semua poin disana. Situasi negara tidak kondusif, ketidakadilan, penekanan terhadap kaum minoritas, kejahatan ada dimana-mana, semuanya membuat orang semakin jauh dari rasa gembira. “Mau bagaimana bisa gembira kalau hidup minta ampun susahnya seperti ini?” kata seorang ibu yang tinggal di perkampungan di belakang rumah saya pada suatu kali. Sejak dulu kita diajarkan bahwa tertawa itu sehat/menyehatkan. Tertawa bisa menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Sebaliknya orang sehat pun lama-lama bisa jatuh sakit jika tidak lagi ada kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidupnya. Tidak satupun orang yang menyanggah bahwa tertawa baik untuk kesehatan. Tapi meski paham akan hal itu, beragam hal dalam hidup seperti berebutan merampas rasa gembira dari hati kita. Senyum dan tertawa pun semakin jarang terlihat dari wajah manusia. Ujung-ujung bibir bagaikan digantung benda berat sehingga melengkung ke bawah, tidak bisa lagi ditarik ke atas untuk memunculkan senyum.

Kita menyalahkan situasi dan kondisi, yang memang selalu siap menelan kebahagiaan kita kalau kita biarkan. Tapi ingatlah bahwa seringkali hilangnya kegembiraan berasal dari berbagai perasaan negatif yang dibiarkan bercokol di dalam diri kita. Ketakutan, kekhawatiran, kekecewaan, kesedihan, penderitaan dan sebagainya, itu akan setiap saat sanggup merampas sukacita dari hidup kita dan dengan sendirinya menahan senyum atau tawa untuk terlukis di wajah kita.

Jauh sebelum penelitian-penelitian medis itu dibuat, Alkitab sudah menyatakan dengan sangat jelas. Dalam Amsal kita bisa menemukan itu yang berasal dari orang yang paling berhikmat di dunia, yaitu Salomo. “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22). Hati yang gembira itu obat yang manjur, mujarab. Kalau tertawa itu sehat, Alkitab mengarahkan anak panahnya kepada sumber darimana rasa gembira yang bisa membuat kita tertawa itu datang, yaitu hati. Happy heart is a good medicine, and a cheerful mind works healing. Itu yang tertulis dalam versi bahasa Inggrisnya. Sebaliknya orang yang hatinya murung dikatakan akan mengeringkan tulang, atau mematahkan semangat. Ini sebuah ayat yang rasanya sudah kita kenal. Sangat kenal malah. Tetapi sudah sejauh mana kita menjalankannya dalam hidup kita? Atau pertanyaan berikutnya, sudah tahukah kita bagaimana agar hati kita tetap berada dalam kondisi baik dan gembira? How/where can we get a happy heart?

Kita seringkali keliru kemana harus menggantungkan kegembiraan kita. Kita cenderung menganggap bahwa gembira tidaknya itu tergantung dari situasi, kondisi atau keadaan yang tengah kita alami. Kalau kita menggantungkannya disana, tidaklah mengherankan kalau hati kita pun akan terus berada dalam situasi tidak menentu dan tidak stabil. Sebentar bisa gembira, sebentar bisa sedih, sebentar bisa penuh dengan amarah, dan sebagainya. Sekarang senang, sebentar kemudian galau. Tidakkah kita sering bertemu dengan orang yang mood nya benar-benar tidak stabil? Jangan-jangan kita pun masih sering mengalaminya. Mungkin kita sendiri pun demikian. Kita menyetir sambil tertawa riang, tiba-tiba ada pengemudi lain yang menyalip dan seketika itu pula kita terpancing emosi. Mendasarkan kepada situasi akan membuat hati kita terus berada dalam kondisi tidak stabil, dan itu tidak akan baik buat hati dan hidup kita. Di sisi lain, kemurungan dan perasaan susah tidak akan membantu atau memberikan apa-apa selain menambah masalah saja. Cobalah pikirkan satu saja masalah hidup anda, lalu fokuslah kesana selama beberapa saat. Tidak akan perlu waktu lama bagi anda untuk merasa tertekan. Pikiran negatif kalau dibiarkan akan terus bertambah semakin melebar kemana-mana. Tapi Firman Tuhan mengingatkan kita akan esensi penting untuk menghindarkan kita dari pembiaran penyebaran pikiran negatif ini. “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Matius 6:27). Apa hal baik yang bisa kita peroleh dari terus menerus memupuk kekuatiran, sedih, murung atau perasaan-perasaan negatif lainnya? Semua itu tidak akan pernah memberi manfaat apapun selain membuat hari-hari yang kita lalui  terasa buruk semuanya dan terus semakin buruk. Lihatlah apa yang ditulis dalam Amsal berikut: “Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta.” (Amsal 15:15).

Alkitab juga sudah mengingatkan kita agar tidak keliru menggantungkan kegembiraan dan kebahagiaan hati. Kebahagiaan sejati sesungguhnya tidaklah tergantung dari situasi dan lingkungan sekitar, melainkan sesungguhnya berasal dari Tuhan. Ada banyak sekali ayat yang sebetulnya menyatakan hal itu. Salah satunya berbunyi: “Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya.” (Mazmur 33:21). Sukacita yang sejati berasal dari Tuhan, bukan atas situasi atau kondisi yang kita alami. Sebuah sukacita atau kegembiraan yang berasal dari Tuhan bukan saja baik dan bermanfaat buat kita, tapi ternyata juga bisa menular mempengaruhi orang lain. “Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.” (34:3). Rasa sedih, marah dan kuatir bisa menular, kegembiraan pun bisa menular. Mana yang lebih baik? Apakah kita dengan kesusahan kita malah membuat orang lain turut merasa susah atau kita membawa kegembiraan ditengah dunia yang sulit ini? Kemana dan dimana kita menggantungkan kebahagiaan hati kita akan sangat menentukan seperti apa kita hari ini. Apakah kebahagiaan, keceriaan, keriangan yang terpancar dari dalam diri kita dan tercermin lewat senyum atau tawa lebar yang bisa membawa suasana senang bagi orang-orang disekitar kita, atau justru kehadiran kita membawa kemuraman dan suasana yang sama sekali tidak enak bagi mereka.

Apa yang anda inginkan untuk terlukis di wajah anda hari ini? Wajah penuh amarah, berkerut, suram, seram, murung atau wajah tersenyum, cerah, penuh dengan kebahagiaan, kegembiraan dan tawa? Itu tidak tergantung dari kondisi yang tengah dialami, melainkan seberapa besar anda mengizinkan Tuhan berperan dalam hidup anda. Kemana mata kita memandang, apakah kepada masalah atau kepada Tuhan, The Provider, our full loving Father. Apakah hati kita tergantung pada kesulitan hidup atau kepada Bapa Surgawi yang penuh kasih. Itu akan menentukan kondisi hati kita dan akan tercermin pada raut muka kita. Kegembiraan sejati terletak di dalam hubungan erat kita dengan Tuhan. Kalau ini yang kita pilih, maka kita akan bisa tetap bersukacita, ceria dan tertawa meski situasinya sedang tidak kondusif. Kita tidak akan lagi mudah marah terpancing emosi. Kita bisa tertawa menyikapi masalah dan tetap tenang dalam menghadapi orang-orang sulit yang senang memprovokasi. Kita tidak akan mudah panik dan kuatir saat keadaan terguncang. Mari kita berseru seperti Pemazmur: “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram.” (Mazmur 16:8-9). Peganglah hal ini. Ubah arah jarum jam hati anda untuk tidak lagi menuju kepada berbagai kesulitan dan masalah hidup tetapi mengarah kepada  Tuhan, sumber sukacita sejati. Apapun yang anda alami saat ini, anda tetap bisa bersukacita. Jika anda memegang teguh prinsip kebahagiaan sejati menurut kebenaran firman Tuhan, tidak akan ada yang bisa merampas kebahagiaan dari hidup anda. Tuhan tidak akan pernah melarang kita untuk bersukacita, merasa gembira dan tertawa bahagia. Jadi tersenyum dan tertawalah, nikmati hidup yang penuh sukacita dengan seluruh kemampuan untuk itu yang sudah Tuhan sediakan bagi anda.

Sulit atau mudahnya tertawa bukan tergantung dari situasi tetapi dari seberapa dekatnya kita dengan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply