Ternyata Orang Lain Lebih Baik

SUATU kesempatan saya dengan seorang teman sekelas berjalan-jalan ke suatu mall untuk berekreasi. Dalam pandangan saya, teman ini berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Penampilannya biasa dan tidak mencolok. Karena kesahajaannya itu saya pikir ia tidak punya banyak. Maka rasanya saya berkewajiban membagi apa yang saya miliki terutama untuk urusan perut; makan dan minum.

Terus terang saya tidak suka kue dan roti. Setiap pagi saya selalu mengusahakan membawa beberapa roti untuknya. Dengan senang hati ia juga menerimanya.

Ketika kami sampai di pintu utama mall, beberapa orang menyapa teman ini dengan hangat, lembut dan senyum ceria. Mereka adalah agen taksi dan bus umum.

Saya agak cemburu karena tidak ada yang menyapa saya yang pastor ini. Saat masuk ke dalam, beberapa orang yang adalah petugas kebersihan menyapa teman ini. Mereka sangat ceria. Kawan ini sungguh membawa kegembiraan dan kedamaian. Skor 2-0 untuknya. Orang belum ada yang menyapa saya. Ketika kami masuk ke salah satu tempat di bagian belakang mall yang kotor, terjadi hingar bingar dan kehebohan. Beberapa orang yang ada di sana menyambutnya dengan teriakan kehangatan. Mereka adalah para gelandangan. Tiba-tiba teman ini mengambil sesuatu dari tasnya dan memberikannya kepada mereka. Ternyata itu adalah roti yang saya berikan kepadanya.

Saya langsung kagum terhadapnya, ternyata semua roti yang saya berikan bukan untuknya tetapi bagi mereka yang sangat membutuhkan. Betapa mulianya hatinya dan tulus perhatiannya.

Akhirnya memang skor telak 3-0 untuk kemenangannya.

Kalau kita mau berkata jujur, sering kita menganggap diri lebih baik dari orang lain. Ternyata mereka jauh lebih baik. Mereka lebih mengasihi daripada kita.

Pernah seorang suami datang kepada saya dan mengatakan dengan tegas, “Pastor saya mencatat semua kebaikan-kebaikan yang saya lakukan untuk isteri saya. Sangat banyak dan bahkan hampir tidak terhitung lagi. Kemudian saya katakan, “Baguslah, tetapi apakah kamu juga pernah mencatat dan mengingat semua kebaikan isterimu selama ini?” Beliau diam dan tidak bisa menjawab. Akhirnya dia mengerti maksud pertanyaan saya.

Para sahabatku terkasih dan teman-teman sekalian, alangkah bijak dan luhur kalau kita memegang prinsip bahwa orang lain memang lebih baik dari kita.

Beberapa butir indah dari sikap ini ialah; rendah hati, berpacu membuat yang terbaik bagi sesama, dan juga kita akan semakin mengenal diri. Karena itu satu hal penting ialah, janganlah menghitung-hitung kebaikan yang anda telah lakukan untuk orang lain. Jangan juga suka mengingat segala perbuatan baik yang kamu buat kepada orang lain dan sesama.

Kalau anda sangat menghitung-hitung semua kebaikan itu di sanalah kita akan berpikir bahwa kita adalah orang yang paling berjasa dan berkorban, sehingga tidak mustahil muncul sikap sombong, orang penting dan orang yang laing baik. Kalau kita selalu mengingat perbuatan baik itu, maka kita juga akan sangat mengharapkan balasan, orang lain melakukan hal yang baik untuk kita.

Yesus mengatakan, “Bukankah para penjahat (perampok) juga melakukan hal yang sama kepada temannya? Jadi apakah beda kita dengan mereka? Apakah jasamu? (Lukas 6:33).

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply