Terlambat Bertobat

Ayat bacaan: Lukas 16:25
=====================
“Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.”

terlambat bertobat

Sungguh memprihatinkan melihat banyaknya tokoh selebritis dalam dan luar negeri yang berubah sikap setelah mencapai kesuksesan. Ketika mereka tadinya hidup baik di saat masih susah, setelah berhasil mereka bukannya memuliakan Tuhan dengan penuh ucapan syukur, bukannya memberkati orang lewat keberhasilan mereka, tetapi mereka malah semakin menjauh dan semakin sesat. Ada banyak yang akhirnya terjerumus ke dalam berbagai masalah seperti menjadi pemakai obat-obatan terlarang, hidup dalam pergaulan yang salah, melakukan berbagai perbuatan dosa, melupakan orang tua, menjadi sombong dan sebagainya. Apa yang diinginkan Tuhan adalah pertumbuhan iman yang signifikan dari hari ke hari, bukan sebaliknya semakin merosot. Ketika kekayaan dan kesuksesan menjadi bagian dari diri kita, jika tidak hati-hati kita bisa terlena dan akhirnya terjatuh. Kejatuhan kerap kali terjadi bukan di kala kita sedang menderita, tetapi justru ketika kita sedang berada dalam sebuah situasi nyaman dan berkelimpahan.

Kemarin kita sudah melihat dua hal yang terlambat dilakukan oleh si orang kaya dalam kisahnya bersama Lazarus (Lukas 16:19-31), yaitu “terlambat untuk berbuat baik” dan “terlambat bersaksi”. Ada satu keterlambatan lagi yang dialami oleh si orang kaya, yaitu “terlambat bertobat.”

Sehari-hari kehidupan si orang kaya dipenuhi oleh kemewahan. Ia selalu berpakaian mewah dan mahal, dan selalu bersukaria dalam kekayaannya. Sementara tidak jauh darinya, tepat di depan pintu rumahnya ada seorang pengemis penuh borok yang selalu berbaring disana. Kekayaan yang berlimpah tidak membuatnya tergerak untuk menolong Lazarus, si pengemis kotor itu. Ia tidak berpikir sama sekali untuk mempergunakan waktu-waktu yang ada untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Ia tidak mengisi waktu yang dipercayakan kepadanya untuk hidup benar. Kekayaan membuatnya terlena dan buta. Ia mungkin berpikir bahwa ia dapat membeli semuanya dengan uang, ia berpikir bahwa uang akan mampu menyelamatkannya. Ada waktu yang sebenarnya lebih dari cukup untuk dipergunakan sebagai saat untuk bertobat, tetapi si orang kaya ini membuang kesempatan itu. Akhirnya ia pun mati sebelum sempat melakukan pertobatan. Di dunia orang mati ia dikatakan menderita, sedangkan Lazarus yang juga meninggal dunia ternyata duduk di pangkuan Abraham. Dalam siksaan terbakar dalam api, si orang kaya pun memohon kepada Abraham. “Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.” (Lukas 16:24). Lalu apa jawab Abraham? “Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.” (ay 25). Abraham mengingatkan si orang kaya bahwa ia membuang-buang kesempatan ketika ia menerima segala yang baik semasa hidupnya. Lazarus menderita dalam kehidupannya, tetapi ia tetap taat. Akibatnya di alam maut keadaan pun berbalik. Lazarus kini lepas dalam penderitaannya dan masuk dalam kemuliaan, sementara si orang kaya tidak lagi memiliki kemewahan malah masuk ke dalam siksaan kekal selamanya.

Pengkotbah mengingatkan demikian: “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” (Pengkotbah 3:1). “Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal..” (ay 2). Dan di saat meninggal siap atau tidak siap kita harus berhadapan dengan tahta Allah untuk memberikan pertanggung jawaban. Paulus mengatakan “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” (Roma 14:12). Penulis Ibrani juga menyerukan hal yang sama. “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13). Segala perbuatan dan perkataan kita kelak haruslah kita pertanggung jawabkan, siap atau tidak siap.

Mengenal Firman tetapi tidak kunjung bertobat. Itu banyak diperbuat oleh orang-orang percaya yang begitu terlena dalam keadaan mereka yang sedang berada di puncak kesuksesan penuh dengan kemewahan. Orang kaya itu bukanlah orang yang tidak percaya, tetapi ia tidak melakukan Firman Tuhan semasa hidupya. Ia membiarkan hidupnya terlena dalam kemewahan dan menyia-nyiakan waktu yang diberikan Tuhan untuk melakukan pertobatan. Ia lupa bahwa segala sesuatu di muka bumi ini ada waktunya, ia lupa bahwa ia tidak akan hidup selama-lamanya. Tidak peduli sekaya apapun, semua itu tidak akan mampu membeli keselamatan. Ketika ia seharusnya mempergunakan berkat yang ia terima untuk memberkati orang lain, ketika ia seharusnya memuliakan Tuhan dengan hartanya, ketika ia seharusnya bersyukur dan lebih dekat lagi kepada Tuhan, semua yang ia lakukan justru sebaliknya. Alkitab tidak mengajarkan kita untuk hidup dalam kemiskinan, karena Tuhan sudah berjanji untuk memberkati kita hingga berkecukupan bahkan berkelimpahan. Tetapi semua itu seharusnya dipakai untuk memberkati orang lain. Semua itu seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menyatakan kasih Tuhan yang luar biasa terpancar lewat diri kita. Orang kaya itu terlambat melakukan semuanya, ia bahkan terlambat untuk bertobat. Dan pada akhirnya semua itu sia-sia. sebuah keterlambatan yang fatal yang tidak akan pernah bisa diperbaiki kembali.

Kepada Timotius,Paulus berpesan “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.” (1 Timotius 6:17). Peringatan ini juga ditujukan kepada kita agar jangan terlena dalam kekayaan atau kemewahan. Jangan pernah berharap bahwa kekayaan mampu membeli segalanya termasuk keselamatan, karena itu tidak akan pernah terjadi. Bukan menjadi kaya dalam harta yang penting, tetapi menjadi kaya dalam kebajikan, itulah yang seharusnya kita cari. “Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.” (ay 18-19). Menjadi kaya dalam kebajikan artinya rajin memberi dan membagi, dan bukan menimbun. Firman Tuhan sudah mengingatkan kita agar bijaksana dalam menghitung hari-hari, memperhatikan dengan seksama waktu yang masih diberikan dan memanfaatkannya dengan baik. Musa menyadari pentingnya hal ini dan ia pun berdoa “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12). Ingatlah bahwa tidak ada pertobatan lagi di dunia orang mati. Ketika kita sampai pada masa itu, tidak ada lagi satupun yang bisa kita perbuat untuk merubah keadaan. Karena itu jangan sampai terlambat. Pergunakanlah waktu-waktu yang masih ada ini untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan. Jangan sampai apa yang dialami orang kaya itu terjadi atas diri kita.

Bertobatlah selagi masih ada waktu sebelum semuanya terlambat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: