Terikat Kuasa Kemiskinan (2) : Mengabaikan Didikan

Ayat bacaan: Amsal 13:18
====================
“Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan, tetapi siapa mengindahkan teguran, ia dihormati.”

mengabaikan didikan, kemiskinan

Ibu yang melahirkan dan membesarkan kita pasti mengenal segala sesuatu tentang anaknya. Ada satu hal yang saya sesalkan ketika saya mengabaikan apa yang dianjurkan ibu saya ketika saya kecil. Ibu saya menyadari adanya bakat saya dalam bermusik. Maka ia pun menyekolahkan saya pada sebuah sekolah musik di sore hari. Pada awalnya saya menjalani semuanya dengan senang. Ketika saya mulai puber, saya mulai terpengaruh melihat bahwa mayoritas yang belajar di sekolah musik saya pada waktu itu adalah wanita. Saya melihat teman-teman pria saya tidak ada yang belajar piano dan teori musik seperti saya. Saya pun mulai malas berlatih, mulai menunjukkan penolakan. Ibu saya berulang kali mencoba menasihati bahwa tidaklah salah untuk mendalami musik sama sekali, meskipun saya pria. Akhirnya ketika menginjak SMA, saya pun berontak dan berhenti. Belakangan saya menyesali keputusan itu. Saat ini saya hanya bisa main piano ala kadarnya. Apa yang sempat saya tekuni sebelum saya berontak masih berbekas, dan dengan bekal itu saya bisa memanjatkan pujian penyembahan bersama istri saya dengan menggunakan sebuah keyboard. Seandainya saya tekun berlatih saat itu, mungkin saya bisa main dengan lebih baik lagi, mungkin bisa melayani di tim musik gereja, atau mungkin bisa berkarir sebagai musisi. Saya kini menyadari bahwa musik memang jadi bagian hidup saya yang sulit dipisahkan. Sayang sekali apa yang dinasihati ibu saya waktu itu saya abaikan. Tidak ada kata terlambat memang, namun saat ini ragam pekerjaan telah menyita waktu sehingga sulit untuk meluangkan waktu buat kembali belajar.

Bagian kedua dari topik Terikat Kuasa Kemiskinan berbicara tentang kemiskinan yang datang akibat mengabaikan didikan dan tidak mengindahkan teguran. Mengabaikan didikan bukan saja bisa mendatangkan penyesalan dikemudian hari, tapi juga bisa berujung pada kemiskinan dan cemooh. Ada banyak orang yang menunda-nunda atau tidak serius dalam belajar, dan dikemudian hari mereka menyesal karena sulit mendapat pekerjaan yang layak. Ketika banyak anak yang tidak memiliki cukup uang untuk sekolah meskipun mereka sangat ingin belajar, di sisi lain banyak anak yang sebenarnya punya sumber dana cukup untuk sekolah tapi malah tidak serius karena harta orang tuanya telah memberikan segala yang mereka butuhkan. Padahal harta yang kita miliki di dunia ini tidaklah kekal. Setiap saat pencuri, ngengat dan karat bisa merusak itu semua kapan saja (Matius 6:19).Artinya, kekayaan dan kesuksesan bisa sewaktu-waktu berbalik. Sebaliknya pendidikan, keahlian dan ilmu yang kita miliki dengan didasari hikmat kebijaksanaan dari Tuhan bisa menjadi bekal yang luar biasa untuk bertahan hidup. Tuhan sendiri sebenarnya rajin menegur dan mendidik kita setiap hari, baik lewat hati nurani, lewat kejadian-kejadian disekitar kita maupun lewat apa yang kita alami sendiri sehari-hari. Kita pasti diberkati jika kita melembutkan hati dan menerima semua itu, namun bayangkan jika kita mengabaikannya, begitu banyak hal yang kita lewatkan dalam hidup ini.

Kapan saja, dimana saja anda punya peluang untuk mendapatkan ajaran, terimalah itu dengan rasa syukur. Kapanpun anda mendapat teguran, pakailah itu sebagai awal dari sebuah perbaikan. Tidak mudah memang menerima teguran, terkadang rasanya seperti menerima pukulan keras, namun teguran dan ajaran bisa membuat kita tidak lupa diri atau terlena dengan apa yang telah kita miliki saat ini. Belajarlah dari setiap kesalahan atau kegagalan, jangan pernah patah semangat. Pastikan diri anda untuk terus tanggap terhadap ajaran.

Didikan dan teguran bisa membawa kebaikan dalam hidup dan menjauhkan kita dari kemiskinan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply