Ayat bacaan: Amsal 21:5
===================
“Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan.”

Beberapa tahun yang lalu saya mengalami kerugian gara-gara terburu-buru dalam mengambil keputusan. Ceritanya begini. Suatu kali saya bertemu dengan seorang event organizer yang menjanjikan bahwa ia bisa mengusahakan sponsor hanya dalam waktu yang sangat singkat. Secara normal, waktu kurang dari sebulan tidak layak untuk menggelar sebuah acara, tetapi karena ia pintar meyakinkan saya, termasuk kepintarannya dalam menyusun timeline, saya pun percaya dan mengambil langkah untuk maju. Perjanjian dengan pihak tempat acara diteken, dan dalam pikiran saya acara ini bisa memberi keuntungan walau tidak banyak. Semakin mendekati hari H, semakin semuanya tidak jelas. Si event organizer mulai susah dihubungi dan mulai terlihat melempar tanggung jawab kesana kemari sambil mencari kambing hitam. Kalau bukan kepada orang, ya kepada keadaan. Hari liburlah, tanggal tualah, sedang di luar kota dan sebagainya, Karena ada MoU yang sudah ditandatangani, mau tidak mau acara harus tetap berlangsung, dan saya pun rugi sekian juta, yang sempat menggoyang kondisi keuangan rumah tangga. Adalah sebuah kesalahan dengan mengambil langkah terlalu berani tanpa perhitungan matang. Saya tetap melibatkan Tuhan, tapi memaksa Tuhan untuk masuk ke dalam time frame saya dan bukan menanyakan dulu kepada Tuhan. Harga untuk sebuah pelajaran penting memang mahal. Saya jadi belajar untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, terutama keputusan-keputusan yang penting dan yang berdampak pada kemampuan saya maupun terhadap orang lain yang terkait.

Hanya karena terlalu cepat mengambil keputusan, orang bisa mengalami kerugian besar yang mungkin bisa sulit dipulihkan dalam waktu singkat. Masih untung kerugian saya tidak sampai merugikan orang lain dan angkanya relatif tidak terlalu fatal. Bagaimana kalau sampai membahayakan? Konsekuensinya bisa sangat berat. Seorang teman membuat rekan dan saudaranya pun sudah ikut menjadi korban karena menjerumuskan mereka ke dalam sebuah investasi yang pada akhirnya merugi sampai angka milyaran. Ia merupakan tipe orang yang tidak hati-hati. Ia tidak suka berpikir dan merencanakan matang-matang terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu, hanya melihat godaan keuntungan dan terlalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Lilitan hutang sampai angka seperti itu sangatlah mengerikan. Dan itu bisa menjadi konsekuensi dari sebuah keputusan yang tidak disertai pertimbangan matang.

Sebuah sikap tergesa-gesa selalu tidak membawa kebaikan atau keuntungan, tapi kerugian dan kemalanganlah yang seringkali menjadi akibatnya. Mengenai kerugian dari orang-orang yang suka tergesa-gesa atau terburu-buru mengambil keputusan sudah diingatkan Salomo. Ia berkata: “Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan.” (Amsal 21:5).

Orang yang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan atau melakukan sesuatu tidak akan pernah memperoleh hasil baik, melainkan hanya akan mengalami kerugian. Itulah yang akan menjadi bagian dari orang-orang yang tidak memperhatikan pentingnya perhitungan yang matang sebelum melangkah. Orang yang cenderung tergesa-gesa, bertindak serampangan tanpa hikmat, tanpa pertimbangan, tidak cermat dan sebagainya. Dan akibatnya kerugian atau kejatuhanlah yang menjadi hasilnya. Untuk menutupi kerugian yang timbul bisa jadi jauh lebih mahal ketimbang apabila itu dikerjakan sejak awal dengan pertimbangan matang dan cermat. Bahkan tidak menutup kemungkinan pula bahwa konsekuensinya akhirnya harus ditanggung sepanjang sisa hidup dan tidak bisa lagi diperbaiki.

Salomo mengatakan bahwa rancangan orang rajinlah yang mendatangkan kelimpahan, bukan orang yang tergesa-gesa. Ada kata rancangan disana yang berarti perencanaan, pertimbangan yang matang dan cermat, lalu ada kata ‘rajin’ disana. Rajin dalam hal apa? Dalam banyak hal, seperti rajin berpikir, rajin memperhitungkan dengan baik, rajin menimbang, rajin belajar, rajin bekerja, rajin mendengar nasihat atau masukan dari orang lain dan sebagainya, dan tentu saja rajin berdoa, meminta hikmat dan petunjuk dari Tuhan sebelum melangkah.

Ada juga ayat yang berkata seperti ini: “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif…Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” (Efesus 5:15,17).

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.