Terdampar di Venezia, Awas Banyak Barang Aspal

venezia by ist

BEBERAPA waktu lalu ketika merencanakan summer trip ke Perancis-Swiss-Austria-Roma, saya mendapat bonus perjalanan ke Venezia, Italy. Saya sebut bonus karena pada saat menyusun itinerary, saya sama sekali tidak memasukkan kota paling romantik ini di daftar kunjungan saya.

Akan tetapi pada saat membooking tiket kereta api dari Austria ke Roma, Italy, saya diberi saran bahwa rute terdekat ke Roma dapat melewati kota Venezia terlebih dahulu. Awalnya saya hampir membooking tiket dari Vienna,  Austria langsung ke Roma dengan sleeper train yang harganya cukup mahal. Lalu ada juga pilihan naik pesawat terbang langsung ke Roma, sama-sama dengan harga tiket yang tidak murah. Hmm, pikir-pikir rute alternatif menuju Roma dengan melewati Venezia itu menarik juga. Apalagi saya juga belum pernah menginjakkan kaki ke kotanya Marcopolo itu. Akhirnya saya membooking tiket kereta api Vienna-Zurich-Venezia-Roma.

Meskipun perjalanan yang saya tempuh dengan kereta api lumayan lama yakni sekitar delapan jam, akan tetapi pemandangan yang dilewati memang sungguh-sungguh fantastik sehingga waktu berjalan cepat dan tidak terasa siang menjelang sore saya sudah tiba di kota Mestre. Mestre adalah stasiun kereta terdekat dengan kota Venezia dimana saya akan bermalam di kota kecil ini dan esok sorenya melanjutkan perjalanan menuju Roma. Udara panas segera menyambut begitu saya menginjakkan kaki di stasiun ini.

Hm, ada apa di Venezia? Kaki saya rasanya sudah gatal ingin segera mengunjungi kota air ini. Saya pun segera membeli tiket kereta  dari stasiun Mestre menuju Venezia seharga 1,75 Euro. Kereta melaju dengan kecepatan sedang dan lima belas menit kemudian kereta sudah berhenti di stasiun Venezia. Wow!!! Inilah kota Venezia yang gambar-gambarnya sering saya lihat di majalah-majalah traveling. Hati sudah penasaran dan sejalan dengan itu kaki sudah cepat melangkah menyusuri jalanan-jalanan Venezia yang tua, sempit dan unik. Saya segera membaur dengan orang-orang yang lalu lalang di Venezia. Puas memandangi deretan bangunan antik di kota ini, saya nongkrong di Jembatan Rialto yang kesohor itu sambil menikmati gondola-gondola yang hilir mudik membawa penumpang. Sore itu saya menghabiskan sore terindah saya di kota Venezia yang cantik sebelum pulang kembali ke hostel.

Lalu agenda belanja kapan nih?

Sebenarnya mata saya sudah melirik-lirik beberapa barang lucu selama menyusuri Venezia tetapi sore itu saya belum menemukan barang yang benar-benar saya inginkan. Saya ingin membeli  koper karena saya butuh satu koper tambahan ukuran bagasi. Dan Venezia yang selalu dipenuhi turis seolah memang ingin memanjakan pengunjungnya. Seluruh jalan-jalannya hampir dipenuhi dengan berbagai macam toko atau lapak pernak-pernik keren seperti misalnya topeng-topeng cantik, aneka perhiasan, tas, baju, topi, beragam suvenir, sepatu dan aneka kedai makanan.Waktu hendak pulang saya melewati kembali deretan toko-toko tas dan koper.

Dari iseng melihat, menawar akhirnya saya membawa pulang sebuah koper pink ukuran bagasi seharga 40 euro ( sekitar Rp 640.000, kurs Rp 16.000), beberapa  pashmina seharga 10 euro per pieces, dompet kulit warna biru dongker 28 euro dan aneka gantungan kunci seharga 1 euro/each. Rasanya bangga bisa membeli barang made in Italy. Apalagi penjualnya cukup ramah dan tidak pelit tawar menawar.

Selama melewati kios dan toko beberapa kali mata saya membaca tulisan semacam reminder di dalam toko yang berbunyi These things are made in Italy, not China!, lalu biasanya penjaga tokonya juga orang bule bukan orang China. Kelak saya sadar bahwa ternyata di Venezia banyak sekali beredar barang-barang tiruan made in China yang dijual di sana, seolah olah made in Italy.

Waduh! Pantasan saja di balik mbak-mbak bule penjaga toko yang ramah,  ada bosnya yang ternyata bukan bule alias pedagang dari China. Barangnya sama-sama bagus dan menarik tetapi ternyata ada tulisan made in China yang sangat kecil, kalau tidak teliti maka bisa tertipu dan mengira barang-barang ini buatan Italy, termasuk koper pink saya. Itu ternyata made in China. Hadehh!

Begitu juga di kota Mestre. Demi mengobati kecewa membeli barang buatan China di Venezia, maka saya iseng lagi jalan-jalan di pertokoan Mestre untuk mencari tas wanita. Saya jadi amat teliti sebelum membeli karena takut tertipu barang-barang China dan akhirnya saya melepas uang 35 euro untuk sebuah tas cantik kulit berwarna krem buatan Italy. Yay senangnya…. akhirnya saya punya tas made in Italy. Sorenya saya melanjutkan trip saya ke Roma dengan hati senang, puas dengan bonus perjalanan ke kota air yang indah.

Sepekan  kemudian ketika saya sudah tiba di Indonesia dan segera membongkar semua barang-barang saya terutama belanjaan yang saya beli di Venezia dan Mestre. Alangkah terkejutnya saya ketika sedang mematut-matut tas cantik terbuat dari kulit di depan cermin, tangan saya mendapati label kecil di dalam tas  dimana ada tertera tulisan  made in China!

Oh, My God!

Benar-benar harus teliti sebelum membeli terutama ketika berbelanja di Venezia.

Photo credit: Venezia (Ist)

(Artikel ini pernah dimuat di rubrik Kompasiana oleh penulis yang sama).

 

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: